
Prang prang prang. .... Kini semua barang entah apa pun itu melayang diudara kemudian setelahnya menghantam tembok dan hancur seketika.
"Hancur !! Semua hancur ma !!! Huhuuhuhu ini semua gara-gara Johan ma!!!" Teriak intan. Meraung-raung. Air matanya mengalir deras.
Lili mendekap anak semata wayangnya. Memberikan kekuatan. Diliriknya sosok suaminya.
Marzuki berada disudut kamar intan. Mendesah pelan. Diusapnya dengan kasar wajahnya. Benar-benar menjengkelkan. Semua impiannya hancur.
Bagaimana mungkin dia harus jatuh sampai seperti ini. Padahal keluarga besarnya juga ikut menyaksikannya. Intan adalah sosok model yang belum begitu terkenal. Namun tiba-tiba harus berurusan dengan keluarga Leonardo. Keluarga konglomerat yang mampu menyaingi keluarga Wijaya. Tunggu. Ia ingat satu hal. Kembali emosinya tersulut dihampirinya anak semata wayangnya.
Lili dan intan pun menatap heran pada Marzuki sejurus kemudian.....
Plakkkkk plaaakkk plaaakkk plaaaakkk
"Aku sudah menyuruhmu untuk memutuskan hubungan dengan keluarga Johan intan kenapa malah Johan mengatakan kalau dia masih tunanganmu ?!! Anak tak tahu diuntung lihat bagaimana sekarang ha?! Hancur !!"
"Pa sudah pa". Lili bergetar. Marzuki memang memiliki sifat kasar. Dia pun tak bisa berbuat banyak. Dia tahu betul posisinya.
Intan meraung. Menangis histeris kini tak ada lagi yang bisa diharapkan dari papanya. Papanya hanya mempermainkan hidupnya saja.
"Paaa.... Huhuuhuhu kenapa papa bisa seenaknya seperti ini. Aku bukan boneka papa !!."
__ADS_1
"Lancang kamu !!" Teriak Marzuki
Plaakkkkk..... Sakit... Tapi lebih sakit hatinya. Papa nya tak memiliki kehangatan sebagai sosok seorang papa untuknya.
"Kamu tahu aku benar-benar malu !!! Dasar anak tak berguna!! Bagaimana bisa aku memasang wajahku besok di perusahaan?!"
"Aku juga gak tahu pa kenapa Johan bisa berada disana!! Kupikir... Kupikir Johan tak akan ada disana. Bukannya papa bilang jangan memutuskan hubungan dulu dengan Johan ? Kenapa papa nyalahin aku?!"
"Hahahaha !!! Heh intan jika kau sedang memperjuangkan Ardan kamu masih boleh berhubungan dengan Johan. Karna persentase keberhasilan kita sangat kecil. Tapi kamu ingat ini adalah keluarga Dion Leonardo. Dimana keluarga itu memiliki pengaruh. Dan tuan Dion adalah pemain wanita. Seharusnya kamu memutuskan hubunganmu dengan Johan ketika dia memintamu bertunangan dengannya. Kamu seharusnya tahu Johan adalah keluarga Saputra tentu saja diundang oleh keluarga Leonardo. Memang Johan tak sekaya tuan Dion. Tapi keluarganya masih berpengaruh. Dasar ja**Ng !!!"
"Papa cukup!!!" Tubuh lili bergetar amarah mencuat membuatnya berani meninggikan suaranya untuk Marzuki. Keterlaluan. Air matanya meleleh.
"Kau berani meninggikan suaramu padaku Lili?"
"Heh... Dia memang rendahan Lili. Dia hanya bisa membuatku malu!! Hah... Benar-benar." Marzuki beranjak pergi meninggalkan dua wanitanya.
Brakkkkk... Membanting pintu dengan keras kemudian lenyap dibalik pintu.
"Maa..... Aku harus bagaimana? Aku padahal mengikuti semua kemauan papa. Tapi kenapa harus begini ma. Kenapa papa hanya nyalahin intan terus. Huhuuhuhu hiks hiks. Aku juga malu ma. Kenapa bisa Johan mengacaukan hidupku."
"Bukan Johan nak. Tapi kita. Ini salah kita. Johan marah karna gadis yang dicintainya harus bertunangan dengan pria lain. Itu adalah sikap murni nak. Dia hanya mengikuti rasa sakit hatinya."
__ADS_1
"Lalu aku harus gimana ma? Pertunangan aku dengan tuan Dion batal. Johan ninggalin aku."
"Hmmm... Sebenarnya kamu mencintai siapa nak? Johan atau tuan Dion? Seharusnya kamu pertahankan dan perjuangkan pemilik hatimu yang sebenarnya."
Intan menghapus air matanya. Siapa yang aku cintai? Hanya beberapa waktu saja dia bersama tuan Dion. Tentu saja tak memiliki cinta. Dia hanya tergiur dengan kekayaannya.
"Johan ma. Aku cinta Johan".
"Kalau begitu perjuangkan Johan nak. Minta maaflah."
"Tapi ma..... Dia pasti akan marah. Mama tahu kan marahnya Johan seperti apa? Dia gak akan segan melukai aku."
Benar. Intan tahu betul. Bagaimana Johan. Bagaimana cemburunya Johan ketika tersulut emosi cemburu. Dia bahkan tak segan memukul Ani. Hingga tubuh mungilnya tak mampu lagi menahan sakit.
"Kamu tinggal bilang padanya bahwa kamu dipaksa tuan Dion untuk bertunangan dengannya. Bukankah tuan Dion memiliki kuasa?"
"Hehehe.... Mama pintar juga ya. Aku akan bilang begitu besok pada Johan."
"Sudahkan. Ayo bangun. Kamu mandi dulu biar segar. Nanti tidur bersama mama saja. Mama yakin papamu pasti gak akan pulang malam ini." Mimik wajah Lili berubah sendu.
"Mama gak apa-apa?" Tanya intan.
__ADS_1
Lili tersenyum.