
"Selamat beb kamu udah punya usaha sendiri." Monica memeluk Ani. Kini mereka telah berdiri didepan swalayan yang kini telah mulai ramai. Ani tersenyum manis.
"Ini berkat kamu juga. Kamu udah bantuin aku."
"Emm.. apa aku kerja disini saja ya."
"Huss kamu udah kerja ditempat mas Kevin."
"Ya iya sih. Tapi aku pengennya ditempat kamu beb."
"Sayangnya gak ada loker tuh."
Monica mendelik tajam. Yang ditatap justru sangat santai.
"Oh ya beb kenapa tadi Agnes kamu suruh di mobil? Gak ikut kita?"
"Enggak ini rahasia antara kamu dan aku ya."
"Hah? Maksudmu kamu gak jujur sama suami kamu?"
"Kamu ngertikan aku udah nikah dua kali? Kamu juga tahu kan kalau aku punya anak pertama dari suami pertamaku dulu? Berarti suamiku yang sekarang ayah tiri anakku. Nantinya ini akan kugunakan untuk keperluan anakku. Hanya untuk berjaga-jaga saja." Menggenggam erat tangan Monica. Memintanya untuk mengerti posisinya.
"Iya deh untuk sahabat aku."
"Makanya kamu kerja ditempat mas Kevin terus aja. Jangan sampai ketahuan."
"Oke."
"Udah jam satu siang nih kamu ikut kerumah mami kan? Aku mau jenguk anakku."
"Loh memangnya anakmu dirumah mertua kamu?" Tanya Monica.
"Iya. Tiap hari aku kesana kok. Lagian biar mami sama papi ada temennya. Maklum Monic udah sepuh."
"Ya udah deh aku ikut kamu. Agnes ikut?"
"Enggak biarin dia pulang aja aku yakin dia dirumah banyak kerjaan."
Monica menganggukkan kepalanya. Kini mereka berdua beranjak kearah mobil. Setelahnya pak Surya melajukan mobilnya ke rumah greeta dan Nico. Begitu memasuki halaman rumah yang mewah Monica tak henti-hentinya menatapnya takjub.
Ya kali rumah Segede gini. Ya jelaslah kesepian. Dasar orang kaya.
__ADS_1
"Duuhhh menantu mami udah datang. Rendy baru aja tidur." Greeta menyapa menantunya dengan pelukan hangat. "Ahh aku tau ini pasti Monica kan?"
"Eh.... Iya nyonya." Mnica mencium punggung tangan greeta.
"Jangan panggil nyonya. Kamu panggil mami aja ya biar sama kayak Ani."
"Hah? Eh enggak nyonya saya kan...."
Belum sempat Monica meneruskan kata-katanya sudah terlebih dulu mendapat tatapan tajam dari greeta. Hingga akhirnya Monica menundukkan kepalanya lesu.
"Iya mami." Jawab Monica lirih.
"Nanti juga terbiasa. Mami hari ini masak oseng daging sama rawon. Mami gak masak banyak soalnya gak tau Monica akan ikut hari ini."
"Eh gak apa-apa kok mi." Monica tersenyum.
Baik banget sih mertua ani. Aku kan juga pengen dapet mertua kayak gini.
"Kok mami udah masak aja. Kan aku belum ngabarin." Ucap Ani.
"Mami tau kok semua jadwal kuliah kamu nak. Ayo kita makan siang mami yakin Monica juga udah laper."
"Duh anak gadis mami. Makanannya dikurangin ya kamu anak perawan Lo." Greta menatap tak percaya jika Monica benar-benar menghabiskan porsi besarnya.
"Udah kebiasaan mi." Monica tersenyum kemudian mengambil air putih. Meneguknya hingga habis tak tersisa.
"Aduh... Anak gadis jangan bar-bar. Nanti gemuk."
"Gak apa-apa kok mi meskipun nanti Monica gemuk kan ada mas Kevin yang tetap setia menanti. Cie. .. " Ledek Ani . Sementara wajah Monica bersemu merah.
"Kevin?" Mami menautkan kedua alisnya.
"Iya mi mas Kevin. Temannya mas Ardan. Dia suka....." Belum sempat menjawab hingga selesai tangan Monica membekapnya. "Ummm"
"Suka apa?" Tanya mami semakin keheranan.
"Suka pisang !!! Udah ya mi jangan dibahas Ani lagi rese nih sama Monic. Bla ...bla...bla"
Mami tersenyum mendengar ucapan ngawur terlontar dari bibir Monica. Masa iya Kevin suka sama pisang. Kini perdebatan antara Monica dan Ani dimulai. Benar-benar anak gadis yang cerewet. Mami menggelengkan kepalanya. Menantunya jika didekatkan dengan Monica benar-benar merasa seperti masih seorang gadis. Hatinya bahagia. Tak salah rasanya jika Ani melanjutkan kuliah. Sekarang dia memiliki seorang sahabat yang sangat berharga.
🤗🤗🤗
__ADS_1
"Mas Ardan aku udah bikinin jahe hangat buat mas. Biar badan mas agak enakan." Meletakkan cangkir ke meja. Terlihat Ardan baru selesai mandi. Masih menggunakan handuk sepinggang. Dan bertelanjang dada.
"Habis bertemu Rendy tadi?" Tanya Ardan sembari meneguk minuman jahe hangat yang disuguhkan oleh istrinya.
"Iya mas. Dia makin cerewet sekarang. Hmmm gak nyangka aku bisa tiap hari ketemu sama Rendy. Kalau saja aku masih bekerja menjadi pelayan mungkin baru satu bulan sekali aku bertemu Rendy." Ucap Ani dengan mata berbinar-binar.
"Bersyukurlah. Kapan-kapan kita akan ajak Rendy jalan-jalan. Mungkin waktu akhir pekan ini kita bisa ke taman bermain."
"Benarkah? Minggu ini mas?"
"Hemmm."
"Jawab yang serius dong mas." Menggoyang-goyangkan lengan Ardan .
"Hentikan !! Apa mas pernah berbohong?"
Berfikir sejenak. Kemudian....
"Nggak pernah kok. Mas selalu aja jujur sama aku." Menundukkan kepala dalam-dalam. "Aku bahkan gak pernah memberikan apapun untuk mas Ardan."
"Kamu cukup memberiku cinta dan kesetiaan."
"Tapi mas Ardan juga memberikan aku banyak cinta. Dan lagi kesetiaan. Gak mungkin mas selingkuh. Aku percaya itu."
"Hmmm... Semakin pintar saja istriku ini. Baiklah kalau kamu ngotot. Malam ini aku akan memintanya." Menghujani Ani dengan ciuman bertubi-tubi.
"Tunggu mas. Meminta? Meminta apa? Selagi aku bisa aku pasti bakal kasih ke mas Ardan kok."
Secepatnya meneguk minuman jahe hangat itu hingga habis tak bersisa.
"Ayo aku minta sekarang." Menggendong Ani ala bridal style. Beranjak menuju tempat tidur.
"Ah mas Ardan !!!" Menjatuhkan tubuh istrinya diatas ranjang.
"Bukan mas kok yang minta. Tapi Rendy."
"Hah Rendy? Minta apa?"
"Rendy kemarin minta dibikinin adek." Ucap Ardan sembari membuka pakaian istrinya.
"Hah?"
__ADS_1