Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 202


__ADS_3

Smith diam dan hanya mengikuti aba-aba dari Ardan. Bahkan laki-laki itu dengan mudahnya membuang mayat perempuan yang teronggok dirumahnya dan bersih menghilangkan jejak apapun. Cctv memang pada saat itu dimatikan oleh orang tak dikenal kemudian menyelinap masuk dalam kediaman Smith yang kosong karena tengah menghadiri pesta pernikahan Kevin dan Monica.


Tatapan Smith kosong. Jantungnya seakan terus berdesir menunggu kabar dari Rangga. Tangan kanannya yang setia mempertaruhkan hidup dan mati untuknya. Rangga memang sejak kecil mengikutinya kemanapun. Smith bahkan menganggapnya seperti anak sendiri. Bahkan laki-laki itu ia tempatkan sebagai eksekutor karena tak memiliki hati dan perasaan, kecuali seluruh hatinya telah dipersembahkan untuknya.


Tolong jaga anakku. Hanya dia satu-satunya yang kumiliki Tuhan. Maafkan aku yang telah menorehkan banyak dosa dan luka pada anak hamba. Tapi aku mohon selamatkanlah kali ini. Kau akan menjaganya dengan jiwa dan ragaku. Smith seakan menangis dalam hati. Matanya menatap nanar pemandangan yang mencekam. Banyak laki-laki yang berpakaian serba hitam dengan senjata api yang terselip dibalik setelan jas hitamnya.


Begitu juga matanya menatap nyalang pada keponakannya yang mulai dipenuhi ambisi dendam anda lalu. Benar, William adalah musuh terbesar keluarga Wijaya di masa lalu. Mengobrak-abrik perusahaan mereka dengan banyaknya mata-mata yang menyusup di perusahaan mereka. Hanya karena persaingan bisnis, banyak yang harus berkorban. Memang terkadang manusia lupa akan rasa syukur itu sendiri.


Ketika Smith merenung. Laki-laki itu hanya menatap sekeliling dengan tatapan yang penuh kegelisahan.


"Paman. Kalau Paman ingin mundur silahkan."

__ADS_1


"Tidak! Bagaimana aku bisa mundur sedangkan mereka bermain-main dengan Riannaku. Belahan jiwaku. Tidak Ardan, aku tak akan mampu kehilangan satu-satunya cahaya dalam hidupku." Menundukkan wajahnya dalam-dalam menyembunyikan buliran air bening yang mulai menganak sungai membasahi kedua pipinya.


"Kau benar Paman. Aku juga tak mampu jika harus kehilangan Mutiara ku. Mutiara hatiku yang memberikan seluruh Kasih Sayangnya padaku. Begitu tulus merasuk dalam sukmaku. Dia mencintaiku apa adanya. Tak perduli seberapa menyebalkannya aku. Dia begitu sabar menghadapiku. Sekarang dia telah mengandung Mutiara Hatiku. Dua orang anak sekaligus. Bagaimana mungkin aku akan menyerahkan nyawaku secepat ini?"


"Hah? Mariani mengandung anak kembar? Ternyata dugaanku benar. Perutnya memang tak seperti orang hamil pada biasanya. Ternyata dua orang anak sekaligus yang dia kandung. Ternyata ponakanku ini top cer juga telur ceploknya."


"Jangan mengejekku Paman. Begini-begini aku masih kuat sampai pagi. Tidak seperti Paman, sudah Letoy." Setelah mengatakan hal itu sebuah tamparan mendarat dipipinya. Siapa lagi jika bukan Smith, pamannya sendiri.


"Papi sekarang di mansion ada Rendy Paman. Aku tak berani mengajaknya karena saat ini beliau tengah berbahagia bersama cucu sambungnya itu. Kalau ikutan kemari bisa-bisa punggungnya encok Paman."


"Sungguh menyedihkan hidup kakakku ya. Hidup bersama laki-laki seperti papimu. Tidak ada keren-kerennya." Smith menggelengkan kepalanya. Kemudian matanya menangkap pemandangan menakjubkan. Para anggota sudah berjajar rapi. Dengan posisi masing-masing. Beserta bakat yang mereka miliki. Sepertinya inilah puncak dari dendam masa lalu. Padahal harta keluarga Wijaya saat ini tidak ada habisnya.

__ADS_1


Bukan perkara harga diri, ataupun harta. Tetapi pihak musuh yang tak segan-segan mengusik hidup mereka. Jiak dibiarkan mereka akan semakin besar kepala.


"Kalian sudah siap untuk hidup atau mati?" teriakan Ardan memecah kesunyian malam yang semakin mencekam. Smith hanya mampu memandangnya dengan gelisah. Jangan ditanya lagi, pikirannya terbang gelisah memikirkan anak semata wayangnya.


"Ardan kau tidak minta tolong kepada temanmu itu?"


"Paman, mereka baru saja memiliki kehidupan barunya. Bagaimana mungkin aku mengganggu kebahagiaan mereka?"


"Hah! Kau benar. Ayo kita menuju tempat pembantaian itu. Entah itu akan menjadi kuburan dari pihak mana. Semoga kau selamat," ucapan Smith terdengar berat. Tetapi mereka tak ada pilihan lain. Selain melawan, jika tidak melawan maka akan berakhir mati.


Kini mereka memasuki mobil masing-masing. Bergerak cepat dalam kegelapan. Begitupun dengan Ardan bergegas memasuki mobil bersama Kaisar. Seharusnya Jack yang berada disini. Tetapi karena ada hal yang lain, yang dia urus akhirnya Kaisar akan berada disamping Ardan.

__ADS_1


"Hidup atau mati. Ingatlah selalu kita dijalan gelap. Ayo maju Kaisar." Laki-laki yang bernama Kaisar itupun mengangguk. Kemudian mobil secara perlahan mulai menuju tempat yang telah ditentukan. Mereka pergi dengan sebuah perencanaan yang matang. Karena Ardan turun tangan memberikan salam.


__ADS_2