
Sabrina menatap lekat pada 3 lembar kertas yang ada di tangannya. Seperti kosong, tetapi seolah memiliki rahasia. Berulang kali Sabrina menghembuskan napas karena gelisah. Firasat mengatakan, jika kertas itu akan menyibak satu tabir besar.
"Apa yang harus aku lakukan? Ini penuh teka-teki. Jika ini di serial detektif Conan, apa ya yang akan dia lakukan?" gumam Sabrina.
Ia terus menerka-nerka. Mengingat-ingat bagaimna cara detektif Conan akan menyelesaikan teka-teki. Setelah mengingat sesuatu, Sabrina bangkit dari duduknya. Lalu berjalan menuju dapur. Gadis itu kemudian menyalakan kompor. Kertas yang dibawa Sabrina lalu diletakkan di dekat perapian. Lama, Sabrina menunggu. Hingga sesuatu muncul dari sana.
"Tolong aku. Siapa saja yang menemukan surat ini dalam satu kasus apapun itu. Berhari-hari ada orang yang mengawasiku. Entah mengapa ada hal buruk. Seolah aku adalah incaran mereka."
"Incaran?" Sabrina mengulang satu kata yang membuatnya bingung.
Sabrina kembali terdiam. Satu tangannya melipat kembali kertas itu. Ia lalu mengambil kertas yang lainnya. Sabrina dengan sabar menunggu tulisan yang kembali muncul saat kertas di dekatkan di sebuah tungku perapian.
"Aku jadi sangat yakin, ada yang mengikuti dan mengamati gerak-gerikku. Saat tanpa sengaja aku menoleh ke belakang ketika aku pulang dari kampus. Seorang berhoodie hitam dengan kacamata senada dan sebuah masker menghentikan langkah kaki saat aku tiba-tiba menghentikan langkahku. Aku bingung, kenapa dia mengamatiku? Kenapa tidak melakukan hal jahat jika di gang sempit hanya ada kami berdua? Mengawasiku untuk apa?"
__ADS_1
Sabrina menghembuskan napas berat. Menyimpan kembali kertas kedua. Sekarang waktunya kertas yang terakhir. Apa yang tersemat di sana, Sabrina menjadi berdebar dibuatnya. Segera Sabrina melakukan hal seperti sebelumnya agar di kertas kosong itu terlihat tulisan.
"Ada tanda yang aku pelajari selama dia mengamatiku. Dia seorang yang kidal. Lalu ada tanda di belakang lehernya. Samar-samar sebuah tatto. Aku berharap, ini hanya perasaanku saja. Tapi, aku yakin ada yang akan terjadi."
Perlahan Sabrina menyimpan kertas terakhir itu. Kidal dan sebuah tatto di belakang leher yang terlihat samar. Tiba-tiba, Sabrina merutuki dirinya yang lagi-lagi tak memperhatikan hal sekecil itu.
"Jadi dugaanku benar. Aretha asli menghilang. Yang sekarang menggantikan posisinya adalah orang lain. Dia mengawasi Aretha untuk melihat gerak-geriknya. Sial! Aku ceroboh!" Sabrina membatin kesal.
"Honey, kau di dapur?" Sebuah suara membuyarkan lamunan Sabrina. Dengan cepat Sabrina meraih gelas dan mengisinya dengan air. Tak lama kemudian, William muncul. Lanjut William, "Kau sedang minum?"
"Untung sudah kusembunyikan kertas tadi," batin Sabrina lega.
William tak menjawab. Melainkan menyodorkan ponsel keluaran terbarunya. Dahi Sabrina berkerut. Bingung karena William tiba-tiba menyodorkan ponselnya.
__ADS_1
"Lihatlah," ucap William.
Mendengar itu, Sabrina meletakkan gelas dan meraih ponsel William. Sebuah grup Whatshapp bertuliskan nama satu sekolah dan diawali kata reuni. Tampak di grup itu sedang membahas reuni yang sepertinya akan diadakan dalam waktu dekat. Baiklah, kini Sabrina mengerti. William tengah meminta izin untuk mengikuti reuni tersebut.
"Sedang meminta izin untuk menghadiri reuni akbar sekolah?" tebak Sabrina. Kedua mata Sabrina menatap sosok William.
"Iya. Jika Honey memberikan izin, aku akan datang. Jika tidak, juga tak masalah," sahut William.
"Kau tidak mengajakku?" tanya Sabrina.
William tampak melebarkan mata. "Kau mau ikut?"
"Honey boleh ke acara reuni, hanya dengan bersamaku." Sabrina menaik turunkan kedua alisnya.
__ADS_1
"Aku pernah baca novel. Dari reuni sekolah suami bisa bertemu dengan mantan kekasihnya. Lalu mereka terlibat obrolan kenangan manis masa muda. Tidak akan kubiarkan!" Sabrina membatin kesal.