
Semua semakin kalut. Padahal baru beberapa hari yang lalu Rianna terkena luka tembak. Dan sekarang mungkin saja depresi itu kembali lagi. Tidak ada lagi rengekan dari bibir sensualnya. Gadis itu seakan bukan lagi gadis yang Ani kenal dua Minggu lalu.
"Mas, aku rasa kita pulang dulu ya. Rendy mungkin sudah bangun tidur,"
"Ayo, aku akan mengantarmu. Pi, mi nanti kabari lagi ya jika terjadi sesuatu dengan Rianna," Ardan mengambil tangan Gretha dan Nico kemudian berpamitan dengan yang lain. Setelahnya Ani dan Ardan meninggalkan mereka semua. Mau bagaimana lagi, Rendy juga tak bisa diabaikan. Bocah laki-laki itu pasti sudah menangis jika mendapati ayah dan ibunya pergi.
"Smith, jelaskan kenapa kau ada di sana sepagi ini?" Nico menekankan ucapannya.
"Aku ingin menyapanya kak. Aku tidak menyangka apa yang aku peerbuat begitu membekas di hatinya," Smith menundukkan kepalanya.
"Tentu saja! Itu gara-gara kau buta dengan harta! Orang macam apa kau mengirim orang untuk membuntuti kami bahkan menembaki kami! Padahal kami sedang mencari keinginan orang ngidam! Kau itu sudah tua! Dasar tak tahu malu! Dan kau bilang ingin menyapa Rianna?! Apa kau gila? Kau tidak lihat wajahnya yang babak belur seperti ayam yang mati kemarin?" sarkas Kevin dengan menggebu. Membuat jantung Smith semakin tertohok.
"Aku tau aku salah! Tolong maafkan aku!"
"Maaf? Anda bahkan menembak seorang gadis yang lemah! Tidak hanya satu kali, bahkan anda menembaknya dua kali! Dua kali tuan!" teriak Monica. Matanya menunjukkan kilatan amarah.
"Mungkin jika Rianna bukan anakmu, kau pasti akan lebih gila dari ini Smith! Orang-orang yang tidak bersalah akan mati dalam genggamanmu! Kau benar-benar laki-laki yang keji!" Nico semakin mengeraskan rahangnya. Mengingat bagaimana wajah anak gadis angkatnya itu.
"Kak Nico maafkan aku, aku berjanji akan menebus semua kesalahanku terhadap Rianna. Aku akan memperlakukannya sebaik mungkin untuk menebus kesalahanku,"
__ADS_1
"Kalau kau ingin menebus kesalahanmu. Pergilah ke kantor polisi," ucap Gretha tanpa menoleh sedikitpun kearah adik kandungnya itu.
"Kak tolong maafkan aku mungkin saja jika tidak ada wanita itu aku juga belum melakukan tindakan apapun kak. Tolong maafkan aku kak,"
"Wanita?" tanya Gretha. Siapa lagi selain Smith otak dari ini semua?
"I...iya," Smith menundukkan kepalanya.
"Siapa?" Monica semakin bingung.
"Teman kampus kalian. Namanya Intan,"
"Dasar si jala** itu! Tidak dimana pun dia selalu saja membuat ulah! Dimana dia bakalan aku cekik lehernya!"
"Kau mengenalnya nak?"
"Iya mi tentu saja. Aku sudah berkali-kali memberikan peringatan kepadanya. Tapi nyatanya dia semakin menjadi,"
"Aku sudah memberikan pelajaran untuknya. Dia tidak akan bisa lari," ucapan Smith membuat mereka semua menoleh.
__ADS_1
"Kau apakan dia?"
"Aku membuangnya ke tempat yang seharusnya," pandangan Smith menerawang.
Kemarin....
"Katakan?"
Intan diseret dua orang pengawalnya. Wanita itu berontak dan berteriak.
"Sayang, lihatlah anak buahmu ini. Mereka kurang ajar! Sayang kau berhasil bukan? Membunuh seseorang? Hahaha aku yakin kamu berhasil. Dan sekarang kita bahkan bisa menguasai harta keluarga Wijaya hahaha,"
Ani lihatlah. Aku akan membuat hidupmu seperti di neraka. Setelah laki-laki tua itu mendapatkan harta keluarga Wijaya. Akan kupastikan aku yang akan merebut semua itu. Heh ada gunanya juga aku merayu tua Bangka ini. Selain bisa membuat hidup Ani hancur. Aku bisa mendapatkan harta keluarga Wijaya.
"Bermimpi lah! Kalian ikat wanita ini di ranjang. Rangga siapkan kamera DSLR dan rekam semua yang aku katakan!" titah Smith segera mereka tunaikan.
"Tunggu, ada apa ini sayang? Tidak lepaskan aku lepaskan aku," kini Intan sudah diikat diatas ranjang. Walaupun gadis itu telah berontak tapi tetap saja kalah dengan tenaga laki-laki kekar yang menyeretnya.
"Sayang, ada apa ini? Lepaskan sayang ini sakit,"
__ADS_1
Sakit? Gara-gara jala** sepertimu aku hampir melenyapkan anak kandungku. Kau bilang dia tidak berharga dan kau ingin melenyapkannya bukan? Sepertinya memang membuang sesuatu yang tidak berguna menjadi bagian kesenanganmu ya? Lihatlah akan aku bungkam kau agar tidak lagi mengganggu keluarga Wijaya.