Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 204


__ADS_3

Kevin tersenyum. Kemudian dia kembali menarik dagu istrinya dan memagut kembali bibir mungilnya. Monica kembali memejamkan kedua matanya seolah menikmati.


Gairah yang semakin berkobar. Kevin semakin menggila, dengan perlahan tangannya mulai menyusup dalam balik lengirie. Mencoba meraih dua gunung yang menantang dirinya. Monica yang memiliki ukuran 42b itu memang begitu menggoda hasrat kelelakian Kevin.


Entah apa yang terjadi, seakan Monica limbung terjatuh dalam kenikmatan yang tiada tara. Sentuhan Kevin dan remasan tangan kokoh itu pada dua gundukan miliknya begitu membuatnya lepas kendali. Matanya bahkan terpejam menikmati setiap sentuhan Kevin pada tubuhnya.


Seakan tersengat aliran listrik, Kevin kembali menggila. Tangannya mulai turun kebawah perut tanpa melepas pagutan lembut bibir istrinya. Membelai lembut bongkahan daging yang masih tertutup kain tipis itu.


"Ah," Monica mendesah ketika tangan Kevin menyentuh area sensitifnya.


"Aku menginginkanmu sayang." Bisiknya ditelinga milik istrinya.


"Ambil hakmu sekarang Mas Kevin. Aku berasa gila sekarang." Desis Monica dengan mata yang terpejam.


Dengan perlahan Kevin membaringkan tubuh istrinya dikasur. Kemudian dia menarik sebuah tali yang menutupi dua gundukan yang mulai saat ini akan menjadi favoritnya. Setelah terbuka matanya melebar. Benar-benar indah pemandangan didepan matanya kini. Istrinya tengah terbaring pasrah dengan dua gundukan yang menjulang minta untuk dipuaskan.


Setelah puas memandangnya, Kevin segera menundukkan kepalanya menghisap ujung gundukan yang berwarna merah muda itu. Satu tangannya meremas gundukan yang lainnya. Membuat Monica semakin menggelinjang hebat.

__ADS_1


"Ah Mas Kevin. Jangan tinggalkan aku." Kedua tangannya menarik rambut Kevin. Membuat laki-laki itu sedikit meringis kesakitan. Rasa itu dia abaikan karena rasa yang terlalu menggila lebih mendominasi.


Setelah puas menghisap ujung gundukan itu, Kevin segera membuka lebar paha mulus istrinya. Masih berbalut kain tipis yang menutupi daerah sensitifnya. Dengan cepat Kevin melepas CD berenda berwarna merah menyala itu. Terlihatlah kini mahkota berharga milik istrinya itu. Laki-laki itu tersenyum. Bongkahan daging yang ditumbuhi bulu-bulu halus berwarna hitam itu begitu menggiurkan.


Monica masih mengatur nafasnya. Seperkian detik berikutnya dirinya dikejutkan oleh sesuatu yang membuatnya jijik.


"Ih Mas Kevin kamu ngapain disitu?" mencoba merapatkan kembali kedua pahanya.


"Sayang ... Nikmati saja permainanku."


"Mas Kevin itu menjijikkan. Jangan lakukan lagi." Memelas dengan nafas yang terputus-putus.


"Tapi Mas ... Itukan-,"


"Jadi kau nggak ikhlas memberikannya padaku?" Nada kesal dilontarkan Kevin.


"Tidak Mas! Bukan begitu maksudku. Apa mas tidak jijik itu kan buat,"

__ADS_1


"Sayang nikmatilah atau aku akan menganggapmu tak ikhlas memberikannya padaku."


Monica pasrah, kini dibukanya kembali kedua pahanya lebar-lebar. Membuat Kevin tersenyum lebar.


"Bagus Sayang. Ingatlah semua yang ada di tubuhmu ini milikku."


Setelah mengucapkan kalimat penuh penekanan, Kevin melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda. Menenggelamkan kepalanya ditengah-tengah kedua paha mulus milik Monica. Menyesap setiap inci mahkota berharga milik Monica.


Kenikmatan yang begitu menggila. Membuat Monica memejamkan kedua matanya. Menikmati setiap permainan Kevin pada tubuhnya.


"Oh Massh ..."


"Keluarkan Sayang, jangan ditahan. Ini kerja keras suamimu juga." Perintah Kevin.


Monica yang sudah dimabukkan gairah yang sampai pada titik puncaknya, kini menyemburkan cairan kenikmatan untuk yang pertama kalinya.


"Aaahhhhh," pekiknya sembari meremas kuat sprai putih. Kemudian memejamkan kedua matanya. Kenikmatan yang tiada tara begitu memabukkan dirinya. Hingga lupa apa yang terjadi sebelumnya. Dirinya yang semula malu-malu kini nampak begitu ingin dipuaskan sekali lagi.

__ADS_1


"Sayang ... Padahal aku masih menggunakan lidahku Lo. Belum Jerry juniorku ini masuk kedalam lubangmu." Memperlihatkan tonjolan keras dari balik celana boxernya. Membuat kedua mata Monica melebar.


Padahal baru saja permainan lidah, tetapi dirinya telah dimabukkan gairah yang menggelora.


__ADS_2