Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 79


__ADS_3

"Kau tahu apa kesalahanmu? Kesalahan ini sangat fatal kau tahu?!!! Saat itu semua kolega Bisnisku semua hadir disana !!! Kalau perempuan ja***g itu selingkuh yasudah !! Buang saja kenapa kamu malah menampakkan wajahmu disana ?!! Katakan sekarang aku harus bagaimana?"


"Maafkan aku pa. Waktu itu aku benar-benar emosi." Kembali menundukkan kepalanya.


"Heh. .. enak sekali bicaramu !! Kau tahu harga saham kita tiba-tiba anjlok !! Ini pasti gara-gara kau menyinggung keluarga Leonardo!! Kau tahu mereka siapa?! Mereka termasuk dalam jajaran 5 keluarga konglomerat di Asia !!! Perusahaanku bukan tandingannya !! Dan kau justru menjerumuskan aku?! Dimana akalmu Johan?!" Saputra menarik nafas dalam-dalam. Sekarang perusahaannya benar-benar sedang diujung tanduk. Banyak para investor menarik kembali investasi mereka. Padahal selama ini kinerja perusahaannya benar-benar sangat baik. Hanya gara-gara ketololan anak semata wayangnya tidak mungkin sekarang situasi menjadi seperti ini.


Intan.... Benar-benar ja***g kamu.


"Pergilah pikirkan cara bagaimana mencari investor baru !!! Jangan buat aku marah Johan!!! Hentikan kelakuan burukmu itu." Saputra mendudukkan bokongnya dikursi kebesarannya dengan kasar. Memijat pelipisnya. Anak semata wayangnya pun dengan gemetar bangun dari berlututnya.


Saat tangannya tengah memegang gagang pintu. Kembali suara papanya terdengar. Dengan suara yang masih menggelegar.


"Ingat kalau kau tak segera menemukan investor secepatnya. Kita habis !!!" Intonasi angkuh terdengar. Johan menganggukkan kepalanya dengan cepat. Kemudian melanjutkan langkah kakinya dengan lemas menuju ruangannya sendiri. Pikirannya kacau. Selain masalah pengkhianatan yang dia terima kini justru dia dihadapkan dengan perusahaannya yang hampir collapse. Terlihat beberapa kali mengusap wajah kasar. Mendaratkan kepalanya diujung sofa. Pikirannya menerawang jauh. Rambutnya yang selalu rapi kini terlihat berantakan. Wajah yang selama ini terlihat tampan dan dingin. Kini menampilkan wajah yang cemas dan berantakan.


"Bagaimana ini? Kenapa bisa jadi begini?"

__ADS_1


"Ani..... Seandainya kita masih bersama apakah keadaanku lebih baik dari ini? Saat aku dirundung masalah kau selalu memberikan arahan. Memberi nasihat. Hah..... Apa benar kamu sudah menikah? Duhhh kenapa tiba-tiba dadaku sesak gini ya."


Bangkit berdiri berjalan menuju meja kerjanya. Diatas meja tersebut terdapat sebuah gelas air putih. Dia mengambilnya kemudian meneguknya hingga habis. Seketika itu juga dia mendengar suara ribut.


Dia bangkit dari tempatnya mencoba mencari jawaban. Saat itu juga begitu membuka pintu keributan berhenti seketika.


"Maaf pak saya sudah melaksanakan sesuai perintah bapak tapi perempuan ini ngotot. Katanya kalau belum bertemu dengan bapak akan membuat keributan." Ucap Satpam itu takut-takut.


Johan menganggukkan kepalanya. Jika saja ayahnya mendengar keributan ini mungkin dia bisa tamat hari ini juga.


"Ikut aku." Ucap Johan sinis.


"Dasar perempuan kadal kalau orang penting mana mungkin aku dapat perintah melarang kamu masuk !!!"


Ceklek....

__ADS_1


"Kenapa kau sampai membuat keributan? Ngomong-ngomong kau benar-benar tak tahu malu ya sampai berani datang ke perusahaanku?" Johan duduk di kursi kebesarannya sikapnya dingin kepada perempuan yang dihadapannya. Tak seperti biasanya Johan akan bersikap manis dan hangat kepadanya. Namun sekarang berbeda perempuan itu telah menorehkan luka yang teramat dalam dihatinya.


"Sayang.... Aku...." Intan mencoba mendekat. Mencoba merayu Johan. Karna satu-satunya sandarannya hanya Johan. Ya untuk saat ini.


"Cukup !!! Jangan melewati batas mu." Teriak Johan dengan ekspresi dinginnya.


"Aku kemari untuk minta maaf padamu." Ucap intan sembari menggigit bibir bawahnya.


"Ha.... Minta maaf?" Tanya Johan sarkas. "Lalu bagaimana dengan pengkhianatan mu?" Sebenarnya Johan memiliki wajah yang tampan sikap dingin dan acuhnya benar-benar cocok disandingkan dengan Ardan namun keduanya memiliki sifat yang sangat berbeda karna Ardan tak pernah menarik tangannya untuk perempuan. Hanya saja jika dibandingkan dengan kekuasaan memang Ardan masih jauh didepannya.


"Maafkan aku Johan itu permintaan papaku... Kamu tahu kan papa ku bagaimana? Makannya saat itu aku belum memutuskan hubungan kita." Memasang wajah mengiba.


"Kamu harusnya orang yang paling tau tentang aku. Bagaimana pengkhiatanmu? Tetap saja bukan, kau berkhianat. Dan aku orang yang paling benci pengkhianatan." Tegas Johan.


Intan menundukkan kepalanya. Benar.... hanya karna pengkhianatan palsu yang ia buat hubungan antara Ani dan Johan harus berakhir. Bahkan berakhir cukup tragis. Karna sakit hati dan kecemburuan Johan luar biasa maka saat itu juga hukuman untuk Ani adalah Johan mencambuknya hingga pingsan tak sadarkan diri. Mata hatinya telah tertutup dengan rasa cemburu buta.

__ADS_1


"Maaf." Menundukkan kepalanya dalam-dalam. Rasa takut mulai menyergap hatinya. Kalau-kalau apa yang terjadi dengan Ani di masa lalu akan terjadi juga padanya.


"Harusnya kamu orang yang paling tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Intan."


__ADS_2