
Ber-berbahaya! Rendy mencoba untuk menahan sesuatu yang kian menjalari tubuhnya. Bahkan bulu kuduknya pun meremang.
"Bagaimana tante?" tanya Elena. " Apa kau belum percaya juga?"
"Kau! Gadis tengik! Tuan Rendy? Apa kau masih membutuhkan kami?" tanya wanita itu masih dengan kepercayaan diri yang tinggi.
"Kalian pergilah!" teriak Rendy dengan nafas yang menggebu-gebu. Rendy juga mengeratkan lehernya. Ada sesuatu di bawah sana yang mulai memberontak.
Para gadis-gadis panggilan itu mulai ketakutan dan memilih untuk pergi. Meskipun mereka emosi dan tak terima perlakuan dari Elena, mereka lebih takut akan kemarahan dari Rendy. Setelah kepergian para gadis-gadis itu, Elena tersenyum puas.
"Heh ... Beraninya kalian melawanku. Paman, lihatlah aku sudah membantumu mengusir mereka," ucap Elena.
Tak ada jawaban dari Rendy. Tetapi tiba-tiba Elena yang hendak bangkit dari posisinya justru tangannya ditarik oleh Rendy membuat Elena harus berakhir duduk di pangkuan Rendy.
__ADS_1
"Tanggung jawab. Kau harus tanggung jawab," bisik Rendy di telinga Elena. Membuat Elena merinding. Pasalnya sikap dari Rendy juga aneh. Nafasnya yang mulai tak beraturan beserta detak jantungnya yang terdengar berpacu lebih cepat di trlinga Elena.
"Paman kau kenapa? Kau sakit?" Rlena mencoba menempelkan punggung tangannya di kening Rendy. Lagi-lagi Rendy membisu. Tetapi ... Rendy justru mendaratkan ciuman di bibir Elena. Sedangkan dua orang jomblo ngenes Jonathan dan Kei yang sedang berada di ruangan VIP itu mundur alon-alon. Merasa malu dan risih karena ada di sela-sela pasangan yang sedang berciuman itu. Mereka meninggalkan ruangan itu, untuk memberikan tempat bagi pasangan yang tengah dimabuk cinta itu.
"Paman! Hentikan. Ada apa denganmu? Mengapa wajahmu memerah?" Elena kembali menghujani Rendy dengan banyak pertanyaan. Namun tetap saja berakhir nihil.
Rendy tetap diam, namun sejurus kemudian dia segera menyergap Elena. Hingga membuat Elena berakhir berbaring di sofa. Kedua netra hitam milik Rendy terus menatap kedua netra milik Elena. Mencoba mengobrak-abrik didalam sana. Kedua netra hitam milik Rendy terlihat begitu sayu. Ada satu hal yang membuat Rendy begitu agresif.
Tring ... Sebuah pesan masuk di ponsel Rendy. Membuat Elena ingin segera bangun. Namun lagi-lagi, Elena tertahan oleh Rendy yang masuh belum ingin bergerak.
"Elena ... Aku peringatkan kau. Jangan pernah membangunkan sesuatu lagi. Jika kau masih nekat, lihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Aku tidak akan tinggal diam. Apa kau mengerti?" tanya Rendy dengan suara yang sersk. Lelaki itu tengah mempertahankan sebuah gair*h yang begitu besar.
"Iya Paman. Maaf," jawab Elena. Meskipu. masih kebingungan, tetapi pada akhirnya dia mengiyakan apa yang dilakukan oleh Rendy.
__ADS_1
Rendy pun bangkit. Lelaki itu segera merogoh ponsel yang ada di saku celananya. Lelaki itu terlihat menautkan kedua alisnya.
"Elena aku akan mengantarmu pulang terlebih dahulu. Dimana Kei?" tanya Rendy sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Nihil, hanya ada dirinya dan Elena.
"Paman ... Kau ada urusan mendadak? Aku bisa menunggumu."
"Tidak perlu. Aku akan mengantarmu pulang terlebih dahulu. Mungkin malam ini aku tidak akan pulang. Kau harus menurut padaku. Kau berjanjilah akan selalu menuruti kata-kataku ini." Setelah Rendy mengirimkan sebuah pesan untuk Kei, seceoat kilat lelaki itu telah melesat dan kini telah berada di hadapan Rendy dan Elena.
"Tuan Muda." Kei berdiri dengan tegap.
"Elena menurutlah. Jika kau membuatku marah sekali lagi, kau akan tau akibatnya. Dan aku juga sudah menahan sesuatu yang begitu besar. Jangan membuatku emosi." Rendy menatap Elena dengan tatapan yang tajam. Membuat Elena mau tak mau menganggukkan kepalanya.
Jika bukan pesan dari Leo, aku akan menghabisimu saat ini juga. Untung aku bisa menahannya.
__ADS_1