
Seperti yang dijanjikan, Artur dan Sabrina menuju ke tempat di mana Aretha tinggal sementara. Di sebuah rumah yang besar. Beruntung Sabrina memberikan tempat tinggal ini atas nama Xander Grup. Dengan begini, Aretha sedikit tenang.
"Aretha?" panggil Sabrina pada gadis yang termenung di depan panti asuhan yang. Mendengar namanya dipanggil, Aretha mendongakkan kepala.
"Sabrina?" lirihnya. Aretha lalu berlari memeluk Sabrina.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Sabrina.
"Sedikit lebih baik. Masuklah," ucap Aretha.
Artur dan Sabrina lalu berjalan masuk ke dalam. Sabrina mengukir senyuman ketika anak-anak panti sudah bermain seperti biasa. Seolah apa yang terjadi waktu itu tidak pernah terjadi. Tapi entah bagaimana dengan hati mereka yang ditinggal oleh orang-orang yang dia cintai.
"Maaf hanya ada air putih. Aku masih berantakan," ucap Aretha.
"Tidak masalah. Kalian nyaman tinggal di sini?" Sabrina memperhatikan mimik wajah Aretha.
__ADS_1
"Alhamdulillah. Em, Artur. Terima kasih. Sudah bersedia untuk memberikan tempat tinggal." Aretha mengukir senyuman kaku.
Mendengar pernyataan dari Aretha, Artur mengerutkan dahinya. Dalam benaknya ia tidak merasa melakukan apapun. Sabrina lalu menyikut perut Artur. Membuat Artur paham jika itu adalah ulah Sabrina.
"Sama-sama." Artur menjawabnya sekilas. Ia tidak nyaman di posisi ini.
"Aretha, aku boleh bertanya kejadian waktu itu? Maaf, hanya saja kenapa ada tindak kejahatan di panti asuhan. Aku merasa ini aneh." Sabrina membuka topik pembicaraan dengan hati-hati. Tak ingin membuat Aretha tersinggung.
Tampak Aretha menghembuskan napas panjang. "Polisi mengatakan keduanya bunuh diri. Padahal, mungkin saja itu hanya alibi. Aku melihat sendiri! Dua orang itu menyekap kami." Aretha menghentikan kalimatnya. Perlahan menggelengkan kepala diiringi air mata yang perlahan menganak sungai.
"Kejanggalan? Entahlah. Karena aku menemani adik-adikku belajar. Seperti biasa, hanya aku yang paling besar di sini. Menjadi tugasku untuk mendisiplinkan adik-adikku di sini. Aku hanya meninggalkan mereka sebentar. Aku ke toilet. Tapi saat aku kembali adik-adikku sudah dalam keadaan terikat. Kejadian itu sangat cepat," jelas Aretha.
Sabrina terdiam. Ia mencerna kata-kata Aretha. Mendalaminya dengan cermat. Sabrina menatap lekat Aretha.
"Apa Bunda Ratih dan bibi tidak menunjukkan gelagat aneh?" Kembali Sabrina bertanya.
__ADS_1
"Tidak ada, Sabrina." Aretha menggelengkan kepala.
Sabrina mengedarkan pandangan. Ia melihat satu orang anak yang beberapa waktu lalu dikenalkan oleh Aretha. "Indah, kemarilah." Gadis cilik yang dipanggil Sabrina menoleh. Lalu berjalan menuju Sabrina dengan langkah kakinya yang mungil.
"Kenapa, Kak?" tanya Indah. Binar di kedua matanya telah redup. Tak seperti saat pertama kali Sabrina bertemu dengan Indah.
"Kakak ingin bertanya boleh?" tanya Sabrina. Terlihat Indah menganggukkan kepala. Imbuh Sabrina, "Dua orang jahat kemarin. Seperti apa?"
"Orang jahat itu satunya tinggi! Lalu satu lagi tinggi besar. Hanya dua," jawab Indah. Dari kedua mata itu, Sabrina tahu Indah tidak berbohong.
"Saat itu, Bunda Ratih di mana?" Sabrina melirik Aretha.
Indah menggelengkan kepala. Wajah itu terlihat sangat sendu. "Aku tidak tahu, Kak. Aku dan yang lain belajar. Sama Kak Aretha. Hanya saja Kak Aretha pergi ke toilet. Setelah itu ada dua orang jahat. Kami semua diikat. Saat Kak Aretha kembali, dia juga langsung diikat. Jadi tidak ada yang tahu tentang Bunda Ratih."
"Terima kasih, Indah." Sabrina mengacak rambut gadis kecil itu. Indah mengangguk dan berlalu.
__ADS_1
"Aku tidak bohong, Sabrina. Apa kau tidak percaya padaku?" lirih Aretha.