
"Bolehkah aku mengantarmu pulang? Ini sudah malam." Kevin mencoba mendekatkan diri dengan Monica.
"Eh. Anu, Pak. Lebih baik aku pulang sendiri saja. Toh masih ada bus terakhir. Kalau gitu saya permisi pulang ya, Pak." Monica membalikkan badannya.
"Aku bilang tunggu! Sudahlah aku antar, tak baik seorang gadis pulang larut malam. Lagian kita satu arah kok." Kevin memaksa. Toh mereka memang satu arah. Jadi daripada anak gadis pulang larut malam bahaya. Lagipula sekalian pdkt maksudnya.
"Ba- baiklah kalau gitu, Pak. Maaf merepotkan." Monica kaku.
Dia tak pernah pergi bersama lelaki. Waktu libur pun dia hanya akan berdiam diri di rumah. Namun akhir-akhir ini dia sering pergi ke rumah sahabatnya.Yah setidaknya untuk menikmati kue buatan Mariani.
"Oke aku ambil dulu mobilku ya. Kamu tunggu di depan." Kevin tersenyum lembut ke arah Monica.
Deg deg deg.... Duh jantungku kenapa ini. Monita tersenyum tipis.
Monica pun beringsut ke depan sesuai arahan Kevin. Dia menunggu laki-laki itu untuk pulang bersama. Sesekali dia meremas jari-jemarinya.
Tin tin... Sebuah mobil sport keluaran terbaru Lambhorgini Veneno. Memang Kevin tak sekaya Ardan, namun dia juga setidaknya berasal dari keluarga kaya. Dan memang dia tak pernah suka memakai supir. Dia lebih suka mengendarai sendiri.
Hah? Monica mematung. Melihat Kevin berada di mobilnya. Dia ragu untuk melangkah masuk ke mobil itu. Kevin pun tak sabar. Ia keluar dari mobil.
"Monic! Ayo keburu malam!" teriak Kevin.
"Iya, Pak." Monica kemudian berlari kecil menuju mobil Kevin. Kevin pun membuka pintu mobilnya. Mempersilahkan Monica untuk masuk.
"Terima kasih." Monica tersenyum kaku melihat Kevin memperlakukannya seperti itu.
Kevin pun memutari mobil dan kemudian duduk. Setelah memakai sabuk pengamannya dia kemudian menghidupkan mobilnya menuju ke arah rumah Monic.
"Besok aku nggak ke cafe." Kevin mengawali obrolan. Mencoba mencairkan suasana yang canggung.
"Kenapa, Pak?" tanya Monica heran.
"Hei, kenapa kau memanggilku pak? Apa aku setua itu?" Kevin menautkan kedua alisnya.
"Eh, terus aku manggilnya gimana?"
"Mas.... Seperti Ardan dan istrinya. Aku kan belum tua." Kevin menyeringai.
"Hehe... Iya, Mas Kevin?" Agak kaku Monica menyebut atasannya seperti itu.
"Aku besok akan berada di perusahaan Wijaya. Harus ikut Ardan meeting."
__ADS_1
"Mas Kevin kerja di perusahaan Pak Ardan?" Monica bertanya dengan nada tak percaya.
"Iya. Akan tetapi aku juga menghandle bisnis lain sih. Tapi kan perusahaan Wijaya besar jadi ya banggalah bisa bekerja di sana. Lagipula harga sahabat. Kami memang merintis ini semua dari lama. Semenjak satu kampus mungkin."
"Aku pikir Mas Kevin punya cafe ini. Mas Kevin ternyata juga kerja lain ya."
"Iya sebenarnya dulu aku punya perusahaan sendiri tapi semenjak papa meninggal perusahaan jadi bangkrut dan akhirnya yah ikut Ardan deh. Dia yang membantu ekonomiku saat aku tak punya apa-apa. Jadi ya aku berhutang budi sama dia," papar Kevin.
"Oh papa mas Kevin udah nggak ada? Maaf ya mas."
"Enggak apa, itu udah lama banget waktu masih sekolah. Lagian aku juga punya cafe dan restoran lain. Jadi bisa dibilang sekarang hidupku sudah lebih baik." Kevin tersenyum manis.
Gila ... Sport jantung ini mah.
"Kalau kamu?" tanya Kevin.
"Eh ... Aku? Kenapa, Mas?"
"Bagaimana kehidupanmu?"
"Ah biasa aja kok, Mas. Nggak ada yang spesial."
"Kamu hebat ya, kuliah sambil kerja gini nggak capek?"
"Semangat ya."
"Iya dong. Lagian aku pengen sukses menjadi desainer suatu saat nanti. Bahagiain orang tuaku."
"Membahagiakan orang tua ya. Ya, mama selama ini udah punya segalanya jadi cuma satu mimpi mama yang belum aku kabulkan." Kevin merubah mimik wajahnya. Seakan mendung. Mengingat bahwa sang mamalah yang hanya dia miliki.
"Ya Mas kabulkan dong. Lagian aku yakin Mas Kevin bisa. Soalnya Mas Kevin kan udah sukses."
"Apanya yang sukses aku bahkan belum punya perusahaan sendiri."
"Lah kan tadi Mas Kevin bilang kalau Mas Kevin punya banyak restoran dan cafe. Terus itu Mas Kevin kan mulai dari nol juga. Termasuk hebat loh. Masih muda juga."
"Oh ya usiamu berapa, Monic?"
"Kok jadi nanyain umur, Mas?"
"Ya tanya aja masa gak boleh sih?" tanya Kevin memonyongkan bibirnya.
__ADS_1
"Hehe usiaku tahun ini ya 19 tahun Mas. Baru lulus SMA trus ikut beasiswa."
Selisih 7 tahun. Kevin membatin. Tahun ini memang usianya 26 tahun.
"Menurutmu aku sudah tua belum?" tanya Kevin tiba-tiba.
"Hah? Ya enggaklah, Mas. Cuma kayaknya Mas Kevin harus buru-buru nikah deh."
"Iya sih. Nanti keburu tua seperti Ardan lagi."
"Hus nggak boleh loh mas ngomong gitu. Udah laku loh Pak Ardan."
"Wah kamu kok bela dia sih. Wah mentang-mentang istrinya sahabat kamu ya."
"Hehe iya, Mas. Loh Mas kok ke sini?" Mereka berhenti di salah satu restoran.
"Makan malam."
Kevin turun dari mobilnya. Kemudian membukakan pintu mobil untuk Monica. Monica melongo. Gadis itu tak bergerak sama sekali. Lagipula melihat desain restoran itu, Monica jadi minder.
"Ayo turun. Kamu nggak makan?"
"Enggak deh, Mas. Aku makan di rumah aja. Mas makan dulu aja sana."
Duit dari mana makan di tempat beginian. Monica membatin seraya meneguk ludah sendiri.
"Aku traktir."
"Enggak deh, Mas. Aku nggak laper." Monica tetap menolak lembut ajakan Kevin. Namun.... Krucuk krucuk. Mulut dan perut berbeda ya. Ternyata perut lebih jujur ketimbang mulut.
"Tuh bunyi." Kevin menahan tawanya.
Ni perut kenapa nggak bisa diajak rundingan sih pakek acara bunyi segala.
Monica diam tak bergerak. Kevin kehilangan kesabaran. Diraihnya tubuh Monica. Gadis itu berontak. Seakan tak terima dengan apa yang dilakukan Kevin.
"Mas, turunin! Malu, Mas."
"Diam. Di suruh turun salah sendiri nggak mau turun, aku udah lapar. Nungguin kamu pulang tau."
Kevin pun tak menghentikan aksinya sambil membopong Monica dia berjalan ke arah restoran tak perduli beberapa pasang mata tertuju bingung ke arahnya.
__ADS_1
"Mas Kevin! Lepasin! Banyak yang lihat!"