
"Paman ... Kau mau kemana?" tanya Elena saat dia melihat Rendy tengah berpakaian casual. Membuat Elena bertanya-tanya. Pasalnya gadis itu begitu bosan di rumah. Bayangkan, di rumah bersama dengan keluarga yang baru saja dikenalnya. Terlebih calon mertua. Itu bahkan lebih-lebih canggung lagi.
"Aku ada janji dengan temanku. Kau di rumahlah, Jack akan menjagamu. Jika kau butuh sesuatu kau bisa meminta tolong padanya."
"Paman aku ikut," kata Elena sembari menarik lengan Rendy. Gadis itu memasang wajah yang menyedihkan. Membuat Rendy mendengus kesal.
"Sana! Gantilah bajumu dan ikut denganku." Pada akhirnya Rendy mengiyakan permintaan Elena.
"Yeay!" Elena bersorak kegirangan membuat Rendy tersenyum tipis. Sepertinya pesona gadis remaja itu telah meluluhkan hati yang dingin milik Rendy.
"Aku tunggu di bawah." Rendypun melenggang meninggalkan kamarnya. Lebih baik menunggu Elena di bawah.
*****
Sejenak Rendy terpana melihat penampilan Elena yang terkesan simple dan lebih mementingkan rasa nyaman ketimbang harus berpenampilan sexy. Gadis itu memakai celana jeans hot pant berwarna hitam dipadu dengan sebuah sweater berwarna putih. Ditutup dengan sepatu kets yang juga berwarna putih. Kemudian dia menguncir ekor kuda surainya yang berwarna hitam legam itu.
"Ayo Paman! Kita mau kemana?" tanya Elena.
__ADS_1
"Ke tempat temanku. Dia ada di bar," sahut Rendy dengan santai.
"Tunggu! Paman ... Aku salah costum. Aku ganti baju dulu." Saat Elena hendak berlalu, tiba-tiba tubuh gadis itu melayang. Membuat Elena berteriak kencang.
"Kyaaaaaa."
"Diamlah atau aku akan menjatuhkanmu. Tidak ada waktu lagi. Kita sudah membuang waktu begitu lama. Kei ayo kita berangkat."
*****
Satu hal yang membuat hatinya bergemuruh. Pemandangan di depannya jauh lebih menarik perhatiannya. Lantaran Rendy, ada banyak para gadis-gadis cantik nan seksi yang berpakaian sangat minim menggoda Rendy. Bahkan iris abu-abu miliknya menatap marah pada Rendy yang hanya tersenyum tipis sembari menikmati segelas anggur.
Jadi dia mau kemari? Bermain dengan para gadis-gadis sialan itu? Ckckck seleranu benar-benar menjijikkan paman. Padahal setiap hari kau selalu bersama gadis remaja yang cantik dan menggemaskan. Kenapa tidak tertarik saja padaku? Bukankah aku ini cantik, manis dan imut? Mengapa malah melemparkan diri ke tempat yang menjijikkan seperti ini? Elena membatin kesal sembari memutar kedua bola matanya.
"Haish adik kecil. Kalau kau tidak minum dengan kami, mengapa kau kemari? Sepertinya kau juga belum cukup umur." Seorang wanita berpenampilan sexy menatap pada dua bukit milik Elena. Elena mengikuti pandangan meremehkan dari wanita itu.
Sial! Jadi dia menyindirku? Mentang-mentang gunung kembarnya lebih besar dari punyaku. Memanggilku adik kecil? Heh lihat saja.
__ADS_1
"Kenapa? Biarpun punyaku lebih kecil dari milikmu juga Rendy lebih suka menyusu padaku tiap malam daripada bermain denganmu, Nona."
Pufttt. Seketika Rendy menyemburkan anggur yang baru saja dia minum. Kemudian menatap wajah Elena yang tersenyum licik penuh kemenangan. Bukan hanya Rendy yang kaget, melainkan juga mereka semua yang berada disana juga begitu terkejut. Terlebih Jonathan yang baru saja bergabung dengan mereka di ruangan VIP itu.
"Heh anak kecil. Bagaimana mungkin Rendy menyusu padamu tiap malam? Memangnya kau tinggal bersamanya? Kau juga siapanya?" Wanita itu merasa tak terima jika dirinya dikalahkan seorang gadis yang masih remaja.
"Aku? Tentu saja aku tunangannya," jawab Elena singkat. Sesaat hening dan kemudian terdengarlah gelak tawa dari mereka semua yang ada di ruangan itu.
"Kau gadis tak tau diri! Tuan Rendy adalah orang yang begitu terkenal di Jakarta. Dia adalah pebisnis muda dengan banyak kerajaan bisnis. Mana mungkin memiliki tunangan anak kecil sepertimu?"
Kata-kata dari mulut wanita itu sukses membuat Elena emosi. Gadis itu dengan cepat menghampiri tempat duduk Rendy. Mendorong gadis-gadis yang ada di sebelah Rendy dengan kasar. Kemudian Elena duduk di pangkuan Rendy. Membuat Rendy seketika membeku dan membungkam mulutnya rapat-rapat. Kali ini kelakuan Elena sungguh berani. Sedangkan Jonathan yang masih saja berdiri justru terbengong melihat pertunjukan di depan kedua matanya. Lelaki itu juga heran mengapa Rendy hanya diam mematung saat seorang gadis duduk dipangkuannya. Padahal sebelum-sebelumnya Rendy pasti akan sangat emosi.
"Sayang." Elena membelai pipi Rendy dengan lembut. "Katakan pada mereka, jika aku ini adalah tunanganmu sewaktu di London. Kau juga membawaku ke Indonesia untuk segera menikahiku bukan?" Kini tangan Elena justru membelai dada bidang milik Rendy. "Aku sebenarnya ingin memberikan kebebasan satu hari untukmu. Tapi lihatlah, mereka mengataiku anak kecil. Padahal aku kan, selalu membuatmu ketagihan bukan?"
Seketika semua yang ada di ruangan itu terbelalak kaget. Jonathan yang paham betul karakter Rendy ikut ternganga mendapati ucapan dari gadis asing yang belum dikenalnya. Ditambah lagi, Rendy yang diam mematung tanpa memberikan sanggahan apapun. Seakan membuktikan keduanya benar-benar memiliki hubungan.
"Kau ingin bukti?" Tanpa basa-basi atau apapun. Elena kini mencium bibir Rendy dan ********** dengan lembut. Lagi-lagi Rendy hanya bisa membeku. Namun, ada sesuatu yang jauh dibawah sana berdiri tegak tetapi bukan keadilan.
__ADS_1