
Melihat pintu yang tertutup, Sabrina berlari dan melayangkan sebuah tendangan. Suara yang keras terdengar memekakkan telinga. Beruntung, pintu kayu itu bisa dibuka dengan muda. Suara bising kian terdengar.
"Pakai senter." Dixton menyalakan senter dari hpnya dan memberikannya kepada Sabrina.
"Astaga!" Semua orang berteriak.
Segera Artur mencari saklar lampu dan menyalakannya. Mata mereka semua melebar tatkala mendapati banyak sekali anak-anak yang diikat dan disumpal mulutnya dengan keadaan lemas. Dixton, Justin, Artur dan Sabrina segera melepaskan ikatan tangan dan sumpalan mulut itu.
"Aretha? Ada apa?" tanya Sabrina panik.
"Sa-Sabrina, to-long adik-adikku. Mereka kelaparan," sahut Aretha.
Sabrina lalu memberikan botol minumannya. Setidaknya memberikan rasa dahaga untuk kerongkongan Aretha yang kering.
"Teman-teman, tolong belikan makanan ya? Untuk anak-anak panti di sini. Sepertinya mereka kelaparan," pinta Sabrina.
"Biar aku dan Justin yang membelinya. Kau dan Artur memantau mereka," ujar Dixton.
"Baiklah. Aku akan mengganti uangnya. Terima kasih, Dixton," ucap Sabrina tulus.
"Tidak masalah. Tidak usah diganti. Kita harus tolong menolong," sahut Dixton sambil berlalu pergi.
__ADS_1
"Aretha, bisa kau ceritakan kenapa dengan kalian?" tanya Sabrina.
Aretha mengedarkan pandangan. Seolah meneliti adik-adiknya tak kurang satupun. Ia bernapas lega saat adik-adiknya telah lengkap.
"Aku tidak tahu siapa mereka, Sabrina. Mereka berpakaian serba hitam dan wajah yang memakai apa itu, aku tidak tahu. Entahlah aku tidak tahu. Tapi, kenapa mereka kemari? Rasanya kehidupan kami sebelumnya baik-baik saja," ucap Aretha dengan bibir yang bergetar.
Perasaan Sabrina gelisah. Kata-kata Aretha seolah menegaskan hidup mereka menjadi nahas begini dikarenakan Aretha yang berteman dengannya. Tiba-tiba Aretha bergerak panik. Wajah yang berantakan serta banyaknya air mata itu membuat Sabrina menoleh.
"Ada apa?" tanya Sabrina dengan lembut.
"Aku, aku tidak menemukan Bunda Ratih dan Bibi Eli. Di-di mana mereka?" Pertanyaan dari Aretha menyentak Sabrina.
"Tidak! Aku harus ikut! Aku harus memastikan mereka berdua baik-baik saja!" tolak Aretha.
"Baiklah. Ayo. Padahal, tubuhmu masih lemas begini." Sabrina memapah Aretha.
Kacamata gadis itu terlihat pecah sebelah. Sabrina dan Aretha berjalan semakin masuk ke dalam panti. Keadaan di dalam panti itu terlihat berantakan. Hingga mereka berdua telah sampai di depan sebuah kamar dengan pintu yang tertutup.
"Hanya di sini saja yang belum kita lihat. Sepertinya dikunci. Mundur, Aretha. Aku akan menendangnya," kata Sabrina.
Aretha menganggukkan kepala. Ia menyeret kedua kakinya sedikit menjauh dari Sabrina. Kini Sabrina melayangkan tendangannya mengenai pintu. Tak lama terdengarlah suara gebrakan dan pintu terbuka lebar. Pemandangan mengerikan terpampang nyata di depan Sabrina dan Aretha. Melihat dua orang menggantung di depannya, wajah Sabrina dan Aretha pias.
__ADS_1
"Argh!" Aretha memekik. Tak lama kemudian ia terjatuh pingsan.
"Ya Tuhan! Ada apa ini?" lirih Sabrina.
Gadis itu segera menghubungi polisi. Serta Sabrina membawa jajaran para tim investigasi. Hal ini cukup mengejutkan Sabrina. Pasalnya ia mencurigai Aretha, dan sekarang malah terjadi hal ini? Sabrina mengusap wajahnya dengan kasar. Lalu memanggil Artur untuk menggendong tubuh Aretha.
"Sabrina, apa pelaku ini adalah orang yang sama dengan teror di perusahaan ayahku?" bisik Artur.
"Aku tidak tahu, Artur. Yang aku takutkan adalah psikologi anak-anak itu. Mereka mengalami hal yang mengerikan. Bisa saja menyebabkan anak-anak tak berdosa itu trauma." Sabrina mendesah. Ia menatap pilu pada bocah-bocah yang lemas itu.
Tak lama kemudian, para polisi telah sampai. Sabrina menjelaskan apa yang ia temukan. Lalu membawa para polisi dan tim investigasi itu menuju kamar yang terdapat dua orang menggantung.
"Posisi kalian bagaimana saat itu?" tanya Pak Rohim. Bagian tim investigasi.
"Saya baru saja datang dari kampus, Pak. Beserta tiga orang lainnya. Kami hanya ingin memastikan Aretha teman kami baik-baik saja. Takutnya dia sakit dan tidak bisa mengerjakan tugas bersama kami. Karena dia tidak biasanya membolos," jawab Sabrina dengan tenang.
"Saat mendapati jasad korban. Anda di mana?" Pak Rohim kembali bertanya.
Lalu Sabrina menerangkan serentetan kejadian itu. Setelah menanyakan banyak pertanyaan, Sabrina dan teman-temannya diizinkan pulang. Mengingat, mereka hanya menemukan kejadian tersebut. Sedangkan Aretha, ia menjadi saksi.
"Siapa yang melakukan ini? Aku sudah tidak mungkin mencurigai Aretha lagi. Mengingat, ia sendiri aku temukan dalam keadaan terikat. Ditambah lagi, ia benar-benar syok dengan meninggalnya dua orang yang dia cintai," batin Sabrina. Ia dan teman-temannya berjalan meninggalkan panti asuhan yang kini telah diberi garis polisi.
__ADS_1