Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 461. Minta Jatah


__ADS_3

Baca sampai ending ya. Ada isi babnya. Ada yang penasaran sama Steward dan Fahmeeda? Ea,, Sabrina mau tamat niihh. Author sedang membuat novel baru tapi rilisnya nanti setelah dapat 5 bab. Biar sekali up, bisa crazy. Lalu babnya nggak akan banyak. Biar ada ide2 baru yang seru. Penasaran sama sosok Steward dan Fahmeeda? Nih, spoiler covernya dulu.



"Honey, bagaimana pertemuan dengan teman-temanmu?" William menyodorkan segelas susu ibu hamil kepada Sabrina.


"Kamu tahu nggak, Honey? Artur menerima perjodohan dengan Aretha! Aku senang sekali! Tadinya aku was-was melihat karakter mereka yang bertolak belakang. Nyatanya Artur mau menerima Aretha!" Sabrina dengan antusias bercerita tentang perhatian Artur kepada Aretha. Lalu meneguk susu hamil itu hingga habis dan memberikannya kepada William.


Pria itu menaruh gelas kosong di nakas. Kemudian merangkak naik ke atas ranjang. "Artur tadi cerita sedikit. Aretha tidak terlalu buruk untuk menjadi istri masa depannya kelak. Dia melihat bagaimana kamu menilai seseorang. Sebagai anak, Artur tahu jika apa yang kamu lakukan memang untuk kebaikannya. Dia bilang, kamu jangan terlalu banyak berfikir. Semuanya aman, Honey."


Sabrina menyandarkan kepalanya di pundak lebar sang suami. "Syukurlah kalau begitu, Honey. Setelah ini tugas Artur akan lebih berat. Karena sebelum dia menikah, dia harus digembleng untuk memahami bisnis-bisnis keluarga Wijaya. Tentu saja itu dilakukan sebagai pembekalan diri. Mengingat harta bisa saja menghilang dalam sekejap mata tetapi tidak dengan kemampuan seseorang."


William termangu. Apa yang dikatakan oleh Sabrina ada benarnya. Harta sebanyak apapun bisa menghilang dalam sekejap mata. Jika seseorang itu hanya mengandalkan harta, maka dia tidak akan bisa bertahan hidup jika harta itu lenyap. Berbeda dengan seseorang yang memiliki kemampuan berfikir dan berbisnis, sekalipun miskin dan tidak memiliki apa-apa, pasti bisa mencari pekerjaan dengan jabatan tinggi serta menghasilkan gaji yang tinggi pula.


"Kamu pasti sudah mengalami waktu yang sulit, Honey. Tidak mudah untuk menjadi pribadi yang hebat di usia muda," ujar William.

__ADS_1


"Aku memiliki dua geng mafia yang membutuhkan pemimpin. Itu warisan yang sangat-sangat kaya. Meskipun begitu, juga memiliki tanggungjawab yang besar. Sepertinya aku perlu melepaskan diri. Geng mafia ini berjumlah ribuan. Kupikir, aku perlu mengembangkan diri mereka menjadi bodyguard yang bisa disewa orang-orang yang membutuhkan kekuatan dan perlindungan. Cara geng mafia She's Devil perlu aku terapkan untuk The Queen terlebih dahulu," jelas Sabrina.


"Apa itu bisa?" tanya William.


"Tentu bisa. Orang-orang kaya membutuhkan perlindungan. Sedangkan kita memiliki sumber daya kekuatan yang besar. Honey, aku mengantuk." Sabrina mengucek kedua matanya.


"Honey, kau tidak marah perkara tadi siang?" William bertanya dengan hati-hati.


"Untuk apa marah? Aku justru berpikir kamu yang marah." Sabrina merebahkan tubuhnya di ranjang.


Sabrina menatap bingung ke arah suaminya yang terlihat ragu-ragu. Dahi wanita hamil itu mengernyit heran. Pasalnya, wajah William cukup sulit diartikan.


"Katakan saja." Sabrina akhirnya membuka suara.


"Hamil muda apakah boleh?" William memainkan jemari-jemarinya.

__ADS_1


"Apanya?" Nada suara Sabrina mulai terdengar kesal. Melihat sikap aneh sang suami serta kata-kata yang ambigu membuat Sabrina cukup kesal karena ia sedang menahan kantuk.


"Kamu hamil muda, Sayang. Apakah boleh ... Em itu. Itu loh, jatahku." Wajah William memerah malu. Dia selama ini selalu bisa menjebak Sabrina. Namun saat ini, dia sedang dalam mode yang disudutkan mengingat kejadian tadi siang. Sayangnya, melihat sang istri yang membuatnya gemas, otomatis gairah William terusik.


Tiba-tiba kantuk Sabrina lenyap begiru saja. Digantikan senyuman menggoda semakin membuat William frustasi. Apalagi Sabrina tak kunjung memberikan jawaban yang membuat sakit sesuatu di bawah sana.


"Kamu cinta nggak sama aku?" Akhirnya Sabrina membuka suara.


"Ya cintalah!" William ngegas.


"Sayang sama aku?" Lagi, Sabrina melihat wajah William yang berkabut gairah itu semakin frustasi karena ia mengulur-ulur waktu.


"Tentu saja!" Setelah menjawab dengan nada tinggi, William menyerah.


Sepertinya sang istri sedang tidak mood diajak bergulat di bawah selimut. Namun saat William akan merebahkan tubuhnya di samping Sabrina, piyama tidur William ditarik Sabrina. Membuat William sangat dekat dengan Sabrina. Wanita hamil itu mencium bibirnya tanpa aba-aba. Pertama William hanya bisa terdiam. Lantas, ciuman itu semakin membara dan menimbulkan ledakan gairah. Keduanya terhanyut dalam memadu kasih dan cinta yang menggebu.

__ADS_1


__ADS_2