
"Hah...." Monica menghela nafas panjang.
"Ada apa Monic?" tanya Ani. Dia sudah duduk dikelas sedari tadi. Dari awal Monica menampakkan batang hidungnya dia sudah bisa menebak bahwa Monica sedang ada masalah. "Ada masalah?"
"Biasa beb.... Oh ya... aku boleh minta saran dan masukan nggak?" Monica memperbaiki duduknya. Merapatkan duduknya disamping sahabatnya.
"Tentu saja. Kita kan sahabat. Kalau ada masalah cerita saja Monic siapa tau aku bisa bantu," ucap Ani dengan bersungguh-sungguh.
"Menurut kamu, kalau ada yang ngajakin nikah gimana? Em....Aku.....aku....," Monica ragu untuk mengucapkannya. Lidahnya terasa kelu.
"Mas Kevin ngajakin nikah ya?" Ani mencoba menebak apa yang sedang terjadi.
"Be...benar," Monica menundukkan kepalanya. Dunianya telah berubah. Dia yang bahkan tak pernah berdekatan dengan laki-laki manapun tiba-tiba dilamar oleh seseorang bahkan bukan kekasihnya.
"Apa kamu meragukan ketulusan mas Kevin?"
"Aku....aku tau dia mencintaiku. Tapi rasanya Iki terlalu cepat. Bahkan aku, bukan kekasihnya,"
"Kekasih atau bukan. Tak akan menghalangi niat suci seseorang Monic. Jangan khawatir kita semua mengenal baik siapa mas Kevin,"
"Apa dulu kamu juga begitu? Menerima mantan suamimu begitu saja? Aku takut,"
"Kita semua memiliki perbedaan satu sama lain Monica. Aku dan kamu berbeda, begitu pula dengan Kevin dan Johan. Kalian hidup dikota sedangkan aku hidup didesa. Didesaku banyak yang menikah muda. Apalagi ketika seorang gadis berusia dua puluh tahun. Itu sudah waktunya untuk menikah disana. Jadi pikirkan dengan hati yang lapang. Mengingat mas Kevin adalah orang yang baik. Pasti hubungan kalian akan bertahan lama,"
"Jadi aku harus terima mas Kevin,"
"Bagaimana dengan hatimu? Apakah kamu cemburu ketika ada yang mencoba mendekati mas Kevin?" Ani memancing emosi Monica. Setidaknya untuk memastikan perasaan sahabatnya itu. Dia tau bahwa Monica tak pernah menjalin hubungan dengan laki-laki manapun. Jadi wajar saja tiba-tiba ada seseorang yang mengajaknya utnuk menikah. Apa lagi Monica adalah tipe gadis yang memiliki pendirian.
Benar saja, ketika Monica menerawang ingatannya menangkap Jessica yang bergelayut manja di cafe taman hiburan kemarin. Saat itu dia sangat kesal. Namun dia mencoba memendamnya.
__ADS_1
Apakah itu juga termasuk cemburu? Waktu itu aku sangat kesal sekali. Tapi kalau dipikir-pikir ...... deg ...deg...deg.... jantungku... kenapa berdetak kencang begini? ahhhh plisss jangan maraton begini aku kan hanya membayangkan saat itu saja.
"Aku sangat kesal saat itu !!" gumam Monica.
"Itu berarti kamu cemburu !! Sudahlah jangan tarik ulur, langsung saja nikah sana. Dasar ya bucin," Ani terkekeh melihat reaksi Monica.
"Tarik ulur apanya dia ngekorin aku mulu,"
"Tapi mas Kevin beneran loh tancap gas, dipepetin terus kamunya,"
"Yakin deh beb.... kamu jangan ngetawain aku gini," Monica memanyunkan bibirnya. "Oh ya aku udah berenti kerja loh dari cafe mas Kevin semenjak dia nglamar aku. Ah gila deh aku,"
"Gila kenapa? Enak kan dibiayai hehe,"
"Apa itu bukan termasuk matre? Gila ah aku bukan cewek matre ya,"
"Diam Monic dosennya udah Dateng tuh,"
💞💞💞
"Rencana kedua gagal, gimana lagi sayang? Aku mau perempuan itu menderita. Buat dia menderita !!"
"Tenang sayang, dia sudah menghancurkan hidupmu. Tentu menjadi musuhku juga apalagi musuh kita sama-sama dari keluarga Wijaya. Tak kusangka kau memiliki dendam dengan istrinya sedangkan aku memiliki dendam dengan Wijaya sendiri. Hahahaha tentu saja semua informasi yang kamu berikan memang sangat membantu sayang, memang benar istrinya adalah kelemahannya. Akan sangat gampang kedepannya menggulingkan dia. Tenang saja bagaimana kalau ini," lelaki tua itupun membisikkan sesuatu.
"Hahahaa lihat saja Ani aku akan menghancurkan dirimu secara perlahan !! Monica sahabatmu itu pasti gak bakalan bisa jagain kau !! Dan aku sahabat lamamu akan terus memberikan salam dan hadiah-hadiah untuk membalas apa yang kau lakukan padaku," Intan tersenyum licik. "Apakah tuan Smith butuh sesuatu? Hmmmm...."
"Beruntungnya aku mendapatkanmu," kemudian menggiringnya menuju kamar.
💞💞💞
__ADS_1
"Ani !!"
Ani dan Agnes pun menoleh, melihat sosok yang memanggilnya pun dia memutar bola matanya.
"Tunggu ada yang ingin aku bicarakan," Johan mencoba meraih tangan Ani. Dengan cepat Agnes segera menepis tangan laki-laki itu. Seketika itu juga Johan menatap tajam kearah Agnes. Begitu juga sebaliknya Agnes menatap tajam Johan.
Siapa gadis ini?
"Tolong bersikaplah yang sopan !!"
"Siapa kamu?! Aku ingin bicara dengannya !! Jangan ikut campur urusanku,"
"Oke aku gak bakalan ikut campur urusanmu, tapi tidak jika menyangkut nona mudaku. Sekali saja kamu menyentuh ujung kuku nona muda, aku akan memberimu pelajaran !!"
"Heh sombong sekali kamu?! Cuma seorang gadis miskin saja kamu sok, minggir !!" mencoba mendorong tubuh Agnes yang sudah menamengi tubuh Ani. Namun sia-sia gadis itu bahkan tak bergeming dari tempatnya sedikitpun.
Nih cewek kenapa sih?! Kepala batu banget sok lagi. Berlaga kayak bodyguard lagi.
"Aku bilang minggir!! Atau ..."
"Atau apa?"
Agnes menantang Johan. Bagaimanapun laki-laki dihadapannya ini benar-benar membuatnya kesal. Sudah diberi peringatan aman dia malah melunjak.
Sialan nih cewek. Aku harus ngomong dengan Ani.
Johan mengangkat tangannya. Dan....
Agnes menghentikan tangannya. Selanjutnya.....
__ADS_1
Plaaakkkk..... Agnes menampar Johan. Matanya berkilat. Menunjukkan bahwa dia sangat emosi.