
Saat ini semua keluarga besar Wijaya telah berada di area pemakaman umum. Semuanya ikut hadir tanpa kecuali mengantar kepergian Ardan Wijaya. Anak, cucu dan menantu menempati barisannya masing-masing l. Hanya Artur yang berdiri di barisan sendirian lantaran dia termasuk cucu buyut Ardan. Berbeda dengan William yang bergabung dengan menantu keluarga Wijaya. Berbaur bersama Elena.
Setelah jasad Ardan Wijaya dikebumikan, kini semua orang berada di ruang keluarga yang telah didesain luas. Semua orang telah berkumpul. Di meja yang paling ujung, duduk Mariana sebagai kepala keluarga besar. Sekalipun sang suami telah berpulang, wanita yang berwajah sendu itu tetap mengukir senyuman hangat. Melihat anak, cucu dan menantunya berkumpul.
Di samping Mariani duduk tampak dua orang pria yang akan membacakan pesan terakhir dari Alm. Ardan Wijaya. Bukan perkara Warisan lantaran Mariani masih hidup. Akan tetapi perkara penghuni baru yang bergabung dengan keluarga Wijaya.
"Selamat malam, anak, cucu dan menantuku." Mariani membuka suara. Semua orang menjawab. Imbuh Mariani, "Keluarga ini akhirnya berkumpul setelah sekian lama. Anak-anakku, Rendy, Rania, dan Alex. Bunda menyayangi kalian dengan sangat. Tidak pernah membedakan kalian. Lalu, untuk menantuku, Elena, Aryo (suami Rania), dan Yuna (Istri Alex). Bunda menerima kalian dengan baik. Bunda juga menyayangi kalian tanpa pernah membedakannya. Kalian tahu itu."
__ADS_1
Mariani berhenti sejenak. Lanjutnya, "Untuk cucu-cucuku, oma menyayangi kalian semua tanpa terkecuali. Oma harap, saat ada penghuni baru di keluarga kita kalian semua bisa menerimanya dengan baik. Satu bulan lagi kediaman ini akan mengadakan pesta. Lebih tepatnya setelah empat puluh hari kepergian opa kalian. Pesta itu adalah pernikahan Sabrina Azzahra Wijaya. Kita semua tahu pernikahannya sebelum ini sangat sederhana."
Mariani mengambil segelas air putih dan meneguknya. Wanita tua sangat berwibawa. "Kemarilah, cucu buyutku. Artur."
Merasa namanya terpanggil, Artur mengerjapkan kedua matanya berulang kali. Terlihat sekali wajahnya sangat bingung. Ia menoleh ke arah Sabrina. Terlihat Sabrina menganggukkan kepala. Hal itu membuat Artur berdiri dan berjalan gugup ke arah Mariani. Tentu saja dia gugup. Kali ini ia menjadi perhatian oleh semua anggota keluarga.
"Manis sekali. Sebelum memenuhi undanganku, kau meminta izin kepada Sabrina." Mariani menepuk bahu lebar Artur. Mariani terdiam sejenak. Lalu ia berkata, "Kau memang belum sempat bertemu dengan opa buyutmu. Akan tetapi, dia memiliki satu pesan untukmu."
__ADS_1
Artur dan William terlihat sangat syok. Keduanya membeku di tempatnya. Di tempat duduk William merasa pusing. Semua ini tak pernah ia bayangkan. Saat William hendak bersuara, seseorang kembali berbicara.
"Surat perjanjian ini tidak bisa diganggu gugat. Di sini tertera, jika Tuan William selaku suami dari Nona Sabrina menolak, maka harap bersedia meninggalkan Nona Sabrina. Karena mau seperti apapun, semua yang diberikan oleh mendiang Arfldan Wijaya sesuai dengan yang saya sebutkan tadi. Intinya, hal itu harus diterima karena tanda ia telah sah menjadi bagian dari keluarga ini." Abraham menohok William. Semua yang ada di kepala William terbaca oleh Abraham.
"A-anu ... Sa-saya, merasa tidak pantas untuk menerimanya." Artur menundukkan kepala dalam-dalam.
"Maka dari itu, perusahaan itu akan benar-benar menjadi milikmu jika kau berusaha memantaskan diri, Artur. Tidak baik menolak perusahaan itu. Lagipula itu adalah perusahaan yang kecil. Akan menjadi besar jika kau berhasil melebarkan kualitas dari perusahaan itu. Terimalah, karena kau satu-satunya yang tidak akan mendapatkan warisan. Hanya hadiah itu yang akan menjadi modal untuk masa depanmu," tutur Mariani dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
__ADS_1
"Sepertinya dia akan meminta pendapatmu, Sabrina. Lihatlah, dia melirikmu lagi. Anak muda yang manis sekali." Rania membuka suara. Ia mendapati Artur yang terlihat memelas kepada Sabrina.
"Terimalah. Itu untuk masa depanmu. Oma sedang menantangmu. Maka dari itu buktikan jika kau bisa." Sabrina menyahut. Mengabaikan pria yang duduk di sampingnya dengan mata yang mendelik. William tak bisa berkata-kata.?