
"Entahlah pa. Aku gak tau nama lengkapnya."
Apa mungkin dia memang Dion Leonardo? Kalau memang benar syukurlah.
"Apa kamu benar bahagia disana?"
"Tentu pa. Apa papa tau? Disana bahkan aku seperti menemukan sebuah mutiara didalam lumpur. Aku seperti mendapatkan mutiara yang gak bakal bisa aku temukan di tempat yang lainnya. Dimanapun. Mutiara yang disebut kasih sayang. Aku mendapatkan kasih sayang seorang ibu melalui mami tuan Ardan dan istrinya yang bersikap layaknya seorang ibu bagiku. Kemudian sahabat. Seperti Monica," Agnes tersenyum lebar. "Dan aku juga bersenang-senang pa."
"Apa maksudmu? Kau berkelahi dengan seseorang?"
"Masih belum. Jika terjadi aku mungkin akan berkelahi. Tapi sebelum aku turun tangan malah Monica sudah memberikan pelajaran !!" Agnes menggerutu.
"Maksudmu Ardan memiliki musuh?"
"Entahlah pa. Aku tidak tahu," mengendikkan bahunya. "Tapi aku punya sesuatu kok untuk melindungi diri."
"Apa?"
"Ini !!" Agnes memperlihatkan revolver berkaliber 22.
"Kau... Mengambil digudang papa?" Tanya Anggara mulai emosi.
"Tidak. Tuan Ardan memberikannya padaku. Katanya untuk berjaga-jaga."
"Hah.... sepertinya keinginanmu sudah bulat ya?"
"Tentu."
"Kalau begitu papa akan bertemu dengan Ardan secepatnya."
"Kenapa pa?" Agnes mulai cemas.
__ADS_1
"Hanya ingin menitipkan anakku semata wayang."
"Papa membolehkan ku kembali kesana?"
"Huh.. Lihatlah wajah bahagianya Viona. Anak nakalmu ini benar-benar membuatku emosi."
"Sudahlah pa," menggenggam tangan suaminya.
"Kalau dia mau menerima syarat dariku," papanya kembali memberikan tatapan tajamnya kepada Agnes.
"Haih... papa tenang saja. Aku suka bersenang-senang," mata Agnes berbinar. Setidaknya dia akan bahagia bersama sahabat barunya. Tentang masalah perjodohan itu dia tak perduli. Toh nona mudanya juga pernah diposisi itu. Dan sekarang hidupnya sangat bahagia.
💞💞💞
"Sayang.... kemarilah," menepuk tempat kosong disampingnya.
"Sebentar mas," mengenakan baju tidur yang super tipis. Titah dari sang paduka raja. Setelahnya menjatuhkan dirinya disamping suaminya.
"Bukankah kita pakai shampoo yang sama?"
"Entahlah wangi rambut kamu mas suka sayang. Rasanya waktu kerja inget rambutmu terus. Wangi strawberry ya?"
"Iya mas. Ini wangi kesukaanku. Tapi kan mas pakai shampoo ku juga. Pasti harumnya sama kan?"
"Kamu gak suka ya mas kayak gini?" Intonasi suaranya meninggi satu oktaf. Membuat Ani gelagapan sendiri.
"Bukan mas, bukan seperti itu. Hanya saja mas aneh banget akhir-akhir ini suka nempel-nempel sama ciumin rambut aku."
"Bilang aja gak suka !! Kenapa berbelit-belit hah?"
Ani memutar bola matanya kesal. Dasar bayi besar !! Umpatnya. Namun tetap mencoba merayu Ardan agar menahan emosinya.
__ADS_1
"Sudah mas bukan begitu. Nih katanya tadi mau cium rambut aku,"
"Sudahlah!! Kamu kan gak mau aku cium rambutmu. Buat apa lagi ini ?!" Menyibak rambut itu hingga mengenai wajah Ani. Gemetar-gemetar menahan kesal. Kemudian menempelkan tubuhnya ke tubuh suaminya yang sudah berbalik memunggunginya. Merasa ada yang mengusiknya Ardan membalikkan tubuhnya.
"Kamu menggodaku ya?"
Apa? Kenapa mas Ardan aneh banget sih.
"Ah aku.... emmm," terlambat Ardan sudahe menutup mulutnya dengan pagutan lembut. Tangannya mulai menelusup masuk kebalik baju tidur istrinya. Sekali sentak baju tidur tipis itu sudah teronggok dilantai.
Apa? Kenapa baju tidurku dirusak lagi?!
Pagutan lembut itupun bergerak menjadi pagutan penuh gairah. Ani pasrah Ardan menguasai permainannya.
Malam yang panjang penuh gairah pun berlanjut.
💞💞💞💞
"Bagaimana cara kerja mereka? Kenapa bisa gagal?"
"Tenang sayang," seorang wanita muda dengan kemeja putih tanpa menggunakan bawahannya mendekati pria yang sudah berumur. "Kita masih punya banyak waktu. Kegagalan saat ini biar saja menjadi salam pertama dari kita."
"Tapi teman-teman kampusmu itu benar-benar gak bisa diandalkan !!"
"Iya sayang kita pikirkan cara lain ya," mencium laki-laki yang sepatutnya pantas menjadi ayahnya itu.
"Ah kamu benar kenapa kita tidak bersenang-senang sayang. Ayo berikan pelayanan yang memuaskan untukku," menepuk bokong gadis itu.
"Oh ya ampun sayang tenagamu !!"
"Kenapa? tenang saja sayang nanti kamu akan puas," menjatuhkan tubuh gadis itu dengan sekali hentakan. "Aku datang hahahaha,"
__ADS_1