
Setelah kejadian semalam, Sabrina dan William pada akhirnya memiliki kesepakatan. William tak akan lagi protes hal apapun. Sedangkan Sabrina, ia harus mengajak William saat ia pergi kemana pun. Keduanya tidur saat jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari.
Di sebuah ranjang, seorang gadis menggeliat pelan di balik selimutnya yang tebal. Gadis itu mengerjapkan kedua matanya berulang kali. Sesekali ia bahkan menguap karena rasa kantuk yang masih terasa. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi.
"Alamak! Hari ini ada jam kuliah!" Sabrina hendak bangkit.
Akan tetapi sebuah tangan kekar melingkar di perutnya. Sabrina menoleh. Mendapati William tengah memeluk erat membuatnya menyunggingkan sebuah senyuman manis.
"Wah, tidur saja masih ganteng. Apalagi ketika melek," lirih Sabrina.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu membuat Sabrina menoleh. Hingga terdengar seseorang bersuara," Sabrina. Ini sudah siang. Apa kau tidak ke kampus?" Orang yang mengetuk pintu sepertinya Artur.
"Oh iya!" Sabrina membuang tangan kekar milik William. Membuat pria itu terusik. Sabrina melangkah cepat ke arah pintu. "Artur, aku belum mandi!"
Artur melihat keadaan Sabrina yang masih muka bantal. Pria muda itu menyadari jika pasti Sabrina dan William pulang terlalu larut. "Ya sudah. Kau bolos saja. Aku akan mengizinkanmu yang tidak masuk. Istirahatlah. Setelah sarapan aku akan berangkat ke kampus."
"Eh, eh tunggu! Kau akan sarapan dulu?" tanya Sabrina.
Artur memutar tubuhnya, "Iya. Aku bisa pingsan kalau tak sarapan."
"Katakan pada Bibi Rosi, untuk membuatkan aku bekal. Aku akan sarapan di kampus. Terima kasih, Artur!" Sabrina segera menutup pintu.
__ADS_1
Artur mematung sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Memangnya aku melakukan apa? Padahal dia sendiri sudah melakukan banyak hal untuk aku dah ayah."
Di dalam kamar, Sabrina mengunci pintu dan segera mengambil pakaian ganti. Kemudian dia berlari menuju kamar mandi. Seulas senyuman muncul di bibir William. Pria itu menyibak selimut tebalnya. Lalu perlahan bangkit dari ranjang. Berjalan santai dengan bertelanjang dada dan celana boxer khasnya ketika tidur.
Senyuman penuh arti masih saja terukir di bibirnya. William mendorong pelan daun pintu kamar mandi. Terdengar suara gemericik air yang berjatuhan. Senyuman menyeringai kali masih terlihat jelas di wajahnya. Setelah melepaskan penutup kain di tubuhnya, William menuju di mana Sabrina berada.
Teriakan menggema dari Sabrina terdengar, saat tengah mengguyur badan di bawah shower. Gadis itu reflek menutup tubuhnya. Tatapan mematikan Sabrina layangkan untuk William yang sudah berdiri tak jauh dari tubuhnya berada. Segera Sabrina membelakangi William.
"Un-Uncle, mengapa kemari?" Sabrina tergagap.
"Mandi," sahut William dengan enteng.
"Ta-tapi aku sedang mandi!" seru Sabrina.
"Memangnya kenapa?" Masih dengan raut tak tahu diri William menjawab pertanyaan Sabrina dengan asal. "Kita mandi bersama pasti mempersingkat waktu. Aku juga kesiangan," imbuh William.
Tiba-tiba dua tangan kekar melingkar di perutnya. Sabrina terlonjak kaget saat tangan tersebut menarik tubuhnya. Kini William berada tepat di belakang tubuhnya. Tubuh Sabrina menegang seketika.
"Apa yang kau lakukan? Cepatlah mandi, kau sudah membuang banyak waktu," bisik William.
Dengan cepat Sabrina menggosok tubuhnya dengan sabun. Melihat kepanikan Sabrina, lagi-lagi William tersenyum. Pria itu masih saja menatap tubuh belakang Sabrina dengan raut yang tak bisa dijelaskan. Tak lama, Sabrina memutar tubuhnya lalu mengambil handuk kimono. Keluar kamar mandi dengan membawa pakaian gantinya yang tak berguna itu.
Melihat hal itu, William tertawa terbahak-bahak. Suara tawa yang lepas dan menggema di setiap sudut ruangan. Wajah pria itu masih saja mengukir senyuman.
__ADS_1
"Bukankah ini pagi yang menyenangkan?" gumam pria itu.
Sejurus senyumannya lenyap. Pria itu merasa tingkah Sabrina terlalu murni. Padahal dulu ketika gadis itu menggila menyatakan cinta padanya, William berpikir jika Sabrina adalah gadis yang liar.
"Aku telah salah berpikir tentangmu," lirihnya.
Di luar, Sabrina telah berpakaian. Mengeringkan rambut dengan asal, lalu segera keluar dari kamar William. Jantungnya sudah berdetak heboh sejak berada di kamar mandi. Meliht penampilan Sabrina, Artur memicingkan kedua matanya.
"Kenapa rambutmu masih basah?" tanya Artur.
"Diam! Bibi Rosi, ini bekalku?" Sabrina mengabaikan pertanyaan dari Artur.
"Benar, Nona. Bibi sudah menyiapkan bekal seperti yang Nona minta," sahut Bibi Rosi.
"Baiklah, terima kasih, Bi. Aku berangkat dulu!" Sabrina segera menarik tangan Artur. "Ayo, kita berangkat!"
"Eh? Aku belum melihat ayah. Aku sudah kehabisan uang saku. Hei, kenapa jalannya cepat sekali?" rengek Artur.
"Diamlah, kita sudah terlambat. Menunggu ayahmu pasti masih lama. Dia sedang mandi. Aku yang akan memberikanmu uang saku. Tapi, lebih baik kita cepat berangkat!" Sabrina terus menarik tangan Artur.
"Aku tidak mengerti denganmu," keluh Artur.
"Lebih baik tidak usah mengerti!" Sabrina dan Artur kini telah sampai di garasi.
__ADS_1
Artur memilih diam. Sabrina terlalu berbahaya untuk ia lawan kali ini. Setelah semua rahasia itu tersibak. Setelah memakai helm dan Sabrina naik di jok belakang, Artur segera melajukan sepeda motornya menuju ke kampus.
"Sepertinya aku harus sedikit bersyukur. Dengan adanya Artur saat kepepet begini, dia masih bisa diandalkan. Argh! Apa yang terjadi dengan uncle William? Gila! Pagi ini gila!" rutuk Sabrina dalam hati.