
"Mulai saat ini jangan terima makanan dari wanita manapun. Ya, kalau kau tidak ingin ada masalah dengan mereka. Makanan yang mereka bawa buang saja ke tong sampah. Mengerti tidak?" Sabrina berucap dengan nada yang dingin.
"Baik, Honey. Apa, ada lagi yang ingin kau katakan?" William bertanya dengan hati-hati.
Sabrina menghembuskan napas pelan. "Waspadalah. Wanita seperti Ara ada banyak jenisnya. Bahkan mereka lebih nekat lagi." Sabrina menatap ujung jarum akupuntur itu. "Sudah kuduga. Sepertinya aku perlu ke kantor dengan jadwal rutin. Menunjukkan posisiku agar lebih mudah memantau mereka yang ingin makan uang yang bukan hak mereka. Atau, para wanita lainnya yang kurang ajar seperti Ara agar tahu diri."
William meneguk ludah dengan sederet kalimat terakhir dari Sabrina. Sepertinya memang ada banyak jenis wanita dengan berbagai definisi. William terus menatap Sabrina tanpa melewatkan ekspresi apapun. Pria itu merasa Sabrina saat ini tengah dalam mode galak.
"Aku pulang saja. Julia?" Sabrina memanggil Julia yang telah berdiri di ambang pintu.
"Ya, Nona?" Julia melangkahkan kakinya menuju Sabrina berada.
__ADS_1
"Honey, lebih baik aku pulang sekarang. Lanjutkan pekerjaanmu. Aku malas berada di sini." Sabrina berbicara dengan ketus.
"Honey, kau marah padaku?" Tubuh William menegang seketika.
Sabrina melirik William sekilas. Lalu berjalan dengan mantap. Meninggalkan William yang mematung di tempatnya. Sepertinya mood Sabrina sedang jelek. Mengingat sikapnya setelah kejadian Ara yang kurang ajar.
"Dia marah? Ini memang salahku. Karena aku tidak bisa tegas kepada Ara." William menyesal.
"Sial*n! Pria itu benar-benar tidak pernah berpikir! Kenapa dia sama sekali tidak waspada? Mentang-mentang sekretarisnya! Oke, oke. Aku akan bermain denganmu, honey! Lihat saja! Argh! Aku akan memberimu hukuman!" Sabrina menggerutu.
Dadanya terlihat naik turun tak beraturan. Julia tak berani membuka suara. Takut jika Sabrina akan melampiaskan kemarahan kepadanya. Sabrina memijat kepala yang terasa berputar dan berdenyut.
__ADS_1
"Julia, ayo kita pulang! Cepat!" Sabrina berteriak.
Julia tak menjawab. Ia memilih membukakan pintu mobil untuk Sabrina yang emosi. Setelah Sabrina masuk ke dalam mobil, Julia segera mengambil alih kemudi mobil dan menginjak pedal gas. Memilih pulang ke rumah William.
"Eh, eh! Mau kemana ini? Kita jalan-jalan ke mall, Juu! Mall terserah! Yang jelas jangan pulang ke rumah!" Lagi, Sabrina emosi.
"Ba-baik, Nona!" Julia memutar kemudi untuk balik arah.
Ia harus melajukan mobil menuju mall terdekat. Dua puluh menit kemudian mobil memasuki area parkir sebuah mall. Begitu mobil berhenti, Sabrina membuka pintu mobil tanpa menunggu Julia membukakannya.
"Sebenarnya aku takut. Sayangnya mau bagaimana lagi? Ini sudah menjadi tugasku mematuhi perintah Nona Sabrina. Memang sih berada di posisi Nona Sabrina, aku juga akan marah. Melihat suami yang aku cintai dalam posisi yang bisa membuat orang salah paham. Sudahlah. Siapa juga yang mau punya suami? Malas sekali aku." Julia membatin gelisah.
__ADS_1
"Aku sedang marah, Julia. Wanita itu terlalu nekat sekali. Entah bagaimana nasib pernikahan kami jika aku datang terlambat. Kenapa dia tidak bisa bersikap tegas dan mendorong wanita kurang ajar itu? Aku kesal, Julia! Aku kesal!" Sabrina kembali berteriak. Beruntung, suasana masih sepi. Sabrina pun terus meluapkan kekesalannya.