Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 312. Keputusan


__ADS_3

Setelah baca part ini, Mampir baca novelku ini ya.Ini novel baru. yang author buat. Kelonjotan, karena ditagih pihak editor terus.



William mematung di tempatnya. Begitu pula dengan Artur. Hanya bisa menatap sang ayah, dengan tatapan iba. Tidak lama kemudian, raut wajah Artur berubah. Entahlah. Hatinya tak nyaman. Pria remaja itu mendekati sang ayah.


"A-Ayah?" panggil Artur dengan tergagap. Ia menepuk bahu William. Sang ayah menoleh, dengan senyuman pahit.


"Artur. Perusahaan itu, ayah bangun bersama bundamu. Ayah harus, bagaimana sekarang? Bagaimana dengan masa depanmu? Bagaimana dengan anak-anak, yang mendapat beasiswa dari Almarhum bundamu? Artur, mengapa sesulit ini?" Kata-kata putus asa dari William, membuat Artur membisu. Ia bahkan masih terlalu muda, untuk memikirkan perusahaan.


"Ayah, apa Ayah terima saja, tawaran dari Om Rendy? Aku rasa, Ayah bisa membicarakan masalah rumah tangga ke depannya bersama Sabrina. Maksudku begini, tentang perjanjian pra nikah? Setelah beberapa waktu, Ayah bisa berpisah baik-baik dengannya." Artur berjongkok. "Dengar, Ayah. Artur sebenarnya juga bingung. Tapi mau apa dikata? Ayah bilang, itu perusahaan milik Ayah dan Bunda. Terima saja, Ayah. Tapi, aku tidak bisa berjanji untuk menerimanya sebagai bunda baruku."

__ADS_1


"Artur, jangan bicara seperti ini. Masalahnya, masa depan Sabrina. Dia masih begitu muda. Entah mengapa, Rendy bisa setega itu pada Sabrina. Ayah harus bagaimana, Artur?" tanya William. Suara pria itu terdengar parau.


Artur gamang. Di sisi lain, ia begitu mencintai almarhum sang ibunda. Lalu, ia tidak ingin jika sang ayah menikah lagi. Pikiran Artur kembali melayang kepada Sabrina. Bagaimana rekasi gadis itu? Argh! Jangan berfikir yang lain, Artur! Pikirkan perusahaan yang dibangun susah payah oleh Ibundamu. Benar.


"Ayah. Terima saja, permintaan Om Rendy. Yang penting, perusahaan yang Ayah bangun bersama Bunda aman. Bukan Artur menyetujui Ayah menikah lagi, akan tetapi mengingat perjuangan Bunda dulu. Nanti Ayah buat saja, perjanjian pra nikah. Bagaimana, Ayah?" Artur mulai cemas.


"Perjanjian pra nikah? Benar juga. Aku dan Sabrina, menikah karena paksaan dari Rendy. Astaga, aku akan membicarakan ini secara pribadi dengan Sabrina. Aku harus mencobanya," sahut William. Pria itu mulai bangkit.


Lanjut William, "Berikan nomor ponsel Sabrina. Ayah akan segera menghubunginya." Artur segera mengambil ponsel miliknya. Lantas mengirimkan nomor ponsel Sabrina pada William.


__ADS_1


Di sisi lain, seorang gadis berada di sebuah pelatihan beladiri campuran. Ia mengenakan rok sepaha, dengan baju berwarna hitam berlengan panjang. Gadis itu menoleh. Sabrina mengedarkan padangan di tempat yang baru saja kakinya menjejak di tanah.



"Hai, Nona Sabrina. Sesuai pesan Tuan Muda Rendy, mulai hari ini kau akan belajar beladiri di camp ini. Hari Sabtu dan Minggu," terang seorang pria yang mendekati Sabrina.


Gadis bermata biru itu, memutar kedua bola matanya kesal. "Jadi maksudmu, aku akan berada disini sepanjang hari weekend? Astaga! Paman Danar, jangan bercanda! Aku bisa kehilangan masa-masa indahku, Paman!" tukas Sabrina dengan mencebik kesal.


"Maafkan saya, Nona Muda. Tapi, ini semua perintah dari Tuan. Mulai hari ini. Anda akan memiliki banyak agenda, untuk berlatih. Mengingat Anda akan menggantikan Tuan, sebagai seorang ketua mafia," jelas Danar.


"What? Maksudmu, aku akan benar-benar berlatih disini?" tanya Sabrina. Danar menjawabnya dengan anggukan kepala. Lanjut Sabrina, "apa yang aku lakukan ini, setimpal dengan apa yang aku dapatkan?" Sabrina menggumam.

__ADS_1


Astaga! Jika benar. Percuma aja dong, aku meminta bantuan papa? Aku malah terjebak sendiri! Padahal, jelas-jelas hubunganku dengan uncle, jalan di tempat! Ya ampun, Sabrina! Kau bodoh! sesal Sabrina dalam hati.


Eh? Sabrina merasakan ponselnya bergetar. Gadis itu, segera merogoh sakunya. Tak lama kemudian, dahi gadis itu mengerut. Nomor asing?


__ADS_2