Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 42


__ADS_3

Di ruang kelas...


"Ani aku benar-benar kesal dengan si Johan ******** itu." Gerutu Monica kesal.


"Aku sebenarnya tak ingin mencari gara-gara."


"Aku tau tapi laki-laki ba*****n seperti dia pantas di dihajar !!"


"Aku tau. Aku tak setegas kamu. Terima kasih kamu tadi telah menolongku."


"Hei ..!!! Kamu bicara apa?! Jangan bilang terima kasih aku hanya melakukan tugasku sebagai sahabat."


Ani tersenyum melihat Monica yang begitu tulus dengan perasaannya.


"Eh Mon aku boleh tanya nggak?"


"Tanya apa? Tumben kamu ada pertanyaan untukku.?" Tanya Monica heran. Tumben sekali sahabat satu-satunya ini menanyakan sesuatu tentang dirinya yang mungkin begitu penting karna Ani bertanya dengan hati-hati.


"Tapi janji ya jangan marah?" Ani memastikan jawaban yang harus dia dapatkan. Tugas dari sang suami untuk memulai panah asmara milik sahabatnya.


"Iyaaa.... Aku jadi penasaran pertanyaanmu apa sampai-sampai kamu takut aku marah. Atau jangan-jangan kamu lagi nyariin istri kedua ya buat suami kamu?" Mata Monica tiba-tiba melotot mendengar pertanyaan konyolnya sendiri.


"Sialan kamu Mon !!! Ya enggaklah aku gak segila itu tau !!! Lagian hubunganku sama mas Ardan baik-baik aja kok." Kata Ani sambil mengerucutkan bibirnya. Kesal dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Monica. Bagaimanapun dia sudah mulai mencintai suaminya itu.


"Lalu apa an. Hahahaa aku hanya bercanda loh. Jangan dimasukin dihati dong lagian kamu tanya pakek acara muter-muter. Kalau pengen tanya ya tanya aja. Gak usah takut."


"Kamu udah punya pacar apa belum?"


"Pacar ? Ya nggaklah ngapain aku punya pacar tapi mainnya masih sama kamu? Kalau aku punya pacar nanti kamu udah aku tinggal."

__ADS_1


"Monic.... Jangan bercanda dong. Aku serius." Ani mendengus kesal emang dasar itu si Monica.


"Hehe enggaklah sayang. Lagian aku ingat keluargaku. Aku masih punya dua orang adik yang masih kecil. Jadi aku gak bakalan bisa sebebas kamu. Mereka masih butuh biaya buat sekolah dan keperluan mereka sehari-hari aku sangat ingin membantu kedua orang tua ku jadi aku masih belum memikirkan tentang hal itu."


"Mon.... Kamu gak jauh beda kok sama aku." Ani memeluk Monica. Rasanya dia bisa merasakan bagaimana menjadi Monica.


"Hehe iya... Yuk masuk kelas nanti keburu dosennya masuk lagi. Bisa-bisa kita dihukum".


Mereka berdiri bergegas meninggalkan tempat itu.


Keduanya pun kini menghilang dibalik kelas desain.


Ting.... Terdengar ada sebuah pesan masuk.


Mas Ardan Monica belum memiliki pacar. Dia mungkin secara tidak langsung mengatakan bahwa dia membutuhkan pekerjaan paruh waktu.


Begitulah satu pesan dari istrinya. Kemudian dia mendial nomor sahabatnya.


"Apa?" Seseorang diseberang sana.


"Cewek incaran loe masih Single".


"Oh ya?" Terdengar suara renyah antusias mendapati jawaban yang seakan dinantikannya.


"Iya tadi istri gue udah tanya. Bye." Ardan menutup telpon secara sepihak padahal orang yang diseberang sana belum 100% yakin bahwa gadis yang diincarnya belum memiliki kekasih. Akan tetapi dia hanya dapat mendengus kesal karna teleponnya telah ditutup.



__ADS_1


Kevin prov....



Ting....


Satu pesan baru



**Ardan**


*Namanya Monica dia kuliah di kampus universitas gajah Mada kampus terbaik dikota J melalui jalur beasiswa. Berasal dari keluarga menengah kebawah. Mandiri. Saat ini sedang membutuhkan lowongan kerja part time*.



"Sepertinya gue ada ide. Semoga dia mau kerja di tempatku. Bagi gue latar belakang itu gak penting. Yang penting dia mau Nerima gue apa adanya gue. Gue rasa itu sudah cukup. Lagian gue cuma punya mami. Gak mungkin gue lama\-lama seperti ini. Seandainya papi masih hidup. Gue gak bakalan se khawatir ini. Semoga benar kamu jodohku."



*Kasih tau istri loe di tempat gue butuh karyawan baru. Jadi waiters dicafe baru gue didekat kampus XX. Biar dia Deket kalau\-kalau mau berangkat kerja*.



Ardan



Pesan terkirim.

__ADS_1


 


__ADS_2