
"Kalau memang gadis itu tak berguna habisi saja. Menyusahkan!!" umpat Smith.
Intan tersenyum puas. Ya kau harus patuh padaku. Siapa yang tidak penting dan berarti sekali kau mengatakan mati maka kau harus melenyapkan dia. Siapapun itu. Satu persatu sahabatku. Dan kamu yang terakhir. Hahahaa.
Intan tersenyum licik. Entah bagaimana dia merasa kesialan yang terjadi padanya semua itu akibat ulah Ani, sahabatnya. Padahal Ani selama ini tak pernah mengusik hidupnya sama sekali. Namun karena kedengkian dan iri hati yang begitu besar menyelimuti hatinya. Kini hatinya seakan terbutakan.
Terlihat Smith mencari pakaiannya yang berserakan dilantai. Kemudian mengenakannya satu persatu. Intan hanya melihatnya sembari mendekap selimut yang menutupi tubuh polosnya.
"Sayang...aku bereskan dulu gadis itu," mengecup kening Intan dengan mesranya. Dan kemudian berlalu meninggalkan intan dikamar.
Smith menapaki satu persatu tangga menuju bawah tanah. Tempat yang penuh sesak dan debu. Dimana Rianna ditahan diruangan yang pengap dengan minimnya udara. Dia tersenyum sinis melihat pemandangan yang memilukan itu. Sesosok gadis dengan luka lebam dimana-mana. Tubuh lemas karena tak ada asupan makanan dan minuman.
"Bagaimana? Kau masih belum menyerah? Katakan. Kau mau berakhir seperti apa?"
Gadis itu diam. Tak ada jawaban apapun. Bukankah percuma saja dia menjawab atau tidak.
"Panggil Rangga. Untuk mengeksekusi gadis brengs** ini. Dasar pion tidak berguna !!" sebelum meninggalkan Rianna laki-laki memberikan sebuah tamparan. Seperkian detik berikutnya laki-laki itu kembali melangkahkan kakinya kearah pintu.
__ADS_1
"Sudah kubilang mau kau menyiksaku sekalipun aku tak perduli. Sekalipun aku harus mati !!"
Mendengar Rianna begitu berani Smith membalikkan badannya. Dengan langkah kaki yang cepat dia menghampiri kembali Rianna.
"Kau benar-benar seorang jala**!!!" beberapa pukulan lagi-lagi mendarat telak ditubuh gadis itu tanpa adanya perlawanan sedikitpun. "Aku berubah pikiran. Kau memiliki tubuh yang indah. Bagaimana kalau kau bermain dulu sebelum mati? Aku sangat menyukai gadis sepertimu. Tapi sepertinya kau masih perawan," Smith meraba leher jenjang milik Rianna. Kulit putih bersih itu mulai berkeringat dingin. Namun saat Smith meraba leher itu, disana melingkar sebuah kalung liontin. Ya kalung liontin bertahta batu ruby yang sangat dikenalnya.
Terlihat laki-laki itu menautkan kedua alisnya. Kembali mengamati kalung itu. Kalung yang sangat berharga dan hanya ada satu didunia ini. Karena dibelakangnya terdapat inisial. Tangannya bergetar hebat.
Bagaimana mungkin? Kenapa kalung ini ada padanya?
Smith mengamati netra mata biru milik gadis yang saat ini tengah menatapnya tajam. Namun tak bisa dipungkiri bahwa tubuh gadis itu bergetar hebat saat Smith mengatakan bahwa laki-laki itu tergiur akan tubuhnya. Bagi Rianna lebih baik mati ketimbang harus mengoyak kesuciannya. Mahkota yang paling berharga.
"Tuan kita diserang. Mereka berhasil menemukan markas besar kita," ucap salah satu pengawal miliknya.
"Apa? Bagaimana bisa mereka bergerak secepat ini?!"
"Menurut Tyo ada dua geng mafia besar ikut turun tangan tuan," pengawal itupun menunduk takut-takut.
__ADS_1
"Apa? Bagaimana bisa?! Sial !! Kenapa disaat kita belum menerima pasokan amunisi baru malah mereka menyerang duluan,"
Smith kemudian melepas paksa kalung liontin milik Rianna. Rianna yang menyadari hal itu terkesiap kaget.
"Jangan ambil kalungku !! Kembalikan !!"
"Kalungmu? Dari mana kau mendapatkan ini?" tanya Smith.
"Tutup mulutmu !! Itu milikku !! Kembalikan !!" air mata sudah mengalir dari pelupuk matanya. Boleh saja dia dihabisi hari ini. Tapi tidak untuk kalung liontin bertahta batu ruby itu. "Tolong kembalikan," lirihnya.
"Diam !! Kau bisa diam tidak?!!" Smith pun segera melangkahkan kakinya. Namun baru beberapa langkah dia mendengar Rianna berkata dengan lirihnya. Membuat laki-laki itu sejenak menghentikan langkahnya.
"Kembalikan....itu milikku. Kenangan terakhir dari mama,"
Deg.
💞💞💞
__ADS_1
Masih mau lanjut lagi? Ayo kasih author like comen dan vote