Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 335. Sabrina Populer


__ADS_3

"Eh? Uncle William kok berangkat kerja?" tanya Sabrina.


William menghentikan langkah kakinya. Pria itu menoleh ke arah Sabrina. Tiba-tiba jantung William berdetak lebih kencang. Entah mengapa setiap berdekatan dengan gadis itu, jantung William bertalu-talu. Tubuh pria itu saat ini mematung di tempatnya.


"Ayah? Bukankah ini hari Minggu? Kok Ayah seperti mau bekerja?" tanya Artur. Pria itu kini berdiri di samping William. Keduanya hendak sarapan. Akan tetapi, sepertinya penampilan William membuat Sabrina dan Artur salah fokus.


"Pekerjaan ayah cukup banyak di kantor. Jadi, mau tak mau ayah harus bekerja hari ini," jawab William. Pria itu menepuk bahu putra tercintanya.


"Bukankah Uncle kemarin sakit? Kenapa nekat bekerja?" Sabrina kembali melontarkan pertanyaan.


Hal itu membuat William menoleh. "Ya. Ada banyak pekerjaan. Aku baru saja memenangkan satu bisnis besar. Mungkin beberapa waktu ke depan, juga masih akan sibuk."


"Apa Uncle butuh bantuan?" tawar Sabrina.


Pertanyaan Sabrina membuat Artur dan William menoleh. Gadis itu hanya mengulum senyuman terbaiknya. Sabrina mundur satu langkah. Kini tangannya sibuk menyiapkan sarapan. Gadis itu seperti menyadari ia salah mengambil tindakan.


"Apa kau yakin bersedia?" William seolah paham dengan apa yang dirasakan oleh Sabrina. Pertanyaan dari William membuat Sabrina segera menoleh ke arah William kembali.

__ADS_1


"Iya. Itu jika Uncle menerima kehadiranku. Mungkin, seharian aku bisa menyakiti mata Uncle William jika kita bekerja di satu tempat yang sama. Tapi jika tidak, yah Sabrina tidak bisa memaksa. Mending, Brina pergi keluar saja," kilah Sabrina. Mencoba baik-baik saja. Setidaknya sedikit mengurangi gengsinya.


Mendengar Sabrina akan pergi keluar, hati William mendadak aneh. Pria itu seketika menjadi gelisah. Seolah tidak suka dengan pernyataan Sabrina. Pikiran William mengarah pada sosok pria yang kemarin memberikan hadiah kepada Sabrina.


"Ikutlah ke kantorku." Setelah mengatakan hal itu, William segera mendudukkan bokongnya di kursi memilih memulai untuk mengisi perutnya. Seraya menutupi hatinya yang galau.


"Sungguh boleh?" Sabrina terlonjak girang. Kedua mata biru itu berbinar.


"Ehem. Tentu. Kenapa tidak boleh? Aku sangat berterima kasih, jika kau bersedia membantu," ucap William setenang mungkin.


"Hore! Aku ganti Baju dulu, Uncle!" teriak Sabrina. 


"Ayah, aku boleh ikut juga kan?" tanya Artur.


"Aku harus mengamati ayah dan Sabrina. Jangan sampai mereka berdekatan!" batin Artur dengan kesal.


"Apa maksudmu, Artur? Pergilah bermain sendiri. Ayah takut kau akan mengacaukannya, seperti terakhir kali. Ayah membutuhkan Sabrina. Pekerjaan ayah cukup menyita energi dan pikiran ayah. Ayah harap, kau mau mengerti keadaan ayah." William berbicara dengan nada lembut. Agar buah hatinya itu mau mengerti keadaannya.

__ADS_1


"Sialan! Mengapa ayah mengabaikanku? Kenapa malah Sabrina yang dibolehkan ikut? Apa ayah mulai jatuh cinta pada Sabrina?" Artur membatin gelisah.


"Oh begitu? Okay, Ayah." Artur mendudukkan bokongnya di kursi. Memilih mengalah daripada mendapatkan masalah.


Hening melenggang. Artur dan William memilih menikmati sarapan nasi goreng seafood. Hanya terdengar suara gesekan antara sendok dan garpu. Tak berapa lama, Sabrina telah bergabung di meja makan.


"Tunggu aku, Uncle!" Sabrina terburu mengambil nasi goreng.


"Tenanglah, masih keburu. Makanlah dengan pelan. Kau seorang gadis." William bersuara tanpa melihat sosok Sabrina. Takutnya, ia akan merasakan sesuatu yang aneh kembali.


Sabrina rasanya ingin koprol ataupun salto. Ini pertama kalinya William bersikap lembut terhadapnya. Gadis itu tersenyum malu-malu. Mengabaikan satu orang yang mengawasi gerak-geriknya. Siapa lagi jika bukan Artur.


"Dasar wanita iblis! Kau seolah berlagak polos di depan ayahku. Tapi ketika di belakangnya, kau malah berani mengancamku! Benar-benar tidak bisa aku biarkan. Lebih baik, aku menyusun rencana. Ya, aku harus bisa berfikir sedikit lebih tenang. Jangan sampai dia bahagia dan mendapatkan hati ayah." Artur bermonolog dalam hati.


Pada akhirnya sarapan telah selesai. William terlihat bangkit dari kursi. Begitu pula Sabrina juga bangkit. Gadis itu terus saja memasang senyuman bahagia. Mengekor di belakang William tanpa sepatah katapun.


"Setelah sekian lama, akhirnya Uncle William bersikap lembut padaku. Apakah dia sudah jatuh cinta padaku? Oh oh, Sabrina kau harus bisa menjaga sikapmu! Jangan sampai menjadi garang, ketika Uncle William ada di hadapanmu!" Sabrina membatin. Ia mengingatkan dirinya sendiri.

__ADS_1


Di dalam mobil, William dan Sabrina tak ada yang mengeluarkan kata-kata. Keduanya nampak saling membisu. Meski begitu, Sabrina sesekali melirik William. Senyum malu-malu tergambar jelas di wajah Sabrina. Sedangkan William, pria itu memalingkan wajah. Bukan tak sudi untuk berada dsatu mobil dengan Sabrina. Akan tetapi, jantungnya tak bisa dikondisikan. Bagaimana nantinya jika Sabrina mendengar jantungnya yang berdetak lebih kencang? 


"Sebenarnya apa rasa aneh ini? Kenapa semakin lama semakin tidak jelas? Ya Tuhan, ini semakin membuatku gelisah. Padahal jelas-jelas pekerjaanku juga sedang banyak. Mengapa aku memikirkan Sabrina? Apakah aku mulai cemburu?" tanya William dalam hati.


__ADS_2