
Rendy menyodorkan sebuah plastik yang berisikan entah apa itu kepada William. Dengan memakai sarung tangan, William menerima plastik tersebut. Dahi pria itu berkerut. William menatap Rendy meminta jawaban.
"Apa ini, Rendy?" tanya William.
Rendy membuka suara, "Pada malam penyerangan di perusahaanmu. Sabrina mengambil sampel racun yang digigit oleh musuh untuk mengakhiri nyawanya. Karena gagal dalam bertugas. Sabrina ingin meneliti tentang komponen yang terdapat pada racun itu. Ya, aku telah mengumpulkan orang yang ahli di bidang racun. Mereka meyakini, jika racun ini ada di sekitaran perbatasan negara Irak dan Israel. Kemungkinan, memang ada dendam. Atau, mereka sedang mengincar Sabrina."
Deg.
Jantung William berpacu. Musuh menginginkan Sabrina. Gadis yang kini perlahan mengisi hatinya yang kesepian. Ya, William mulai menerima status Sabrina sebagai istrinya. Lantas, jika musuh menginginkan Sabrina, apa yang harus ia lakukan? Apa William akan melepaskannya begitu saja, setelah William ingin menjadi sosok yang pantas untuk Sabrina? William mulai tersulut emosi.
__ADS_1
"Kenapa mereka menginginkan Sabrina?" tanya William.
Rendy tersenyum sinis dan menjawab, "Apalagi? Tentu saja karena kemampuan Sabrina. Dia bagaikan senjata yang bisa menghasilkan pundi-pundi uang. Bisnis? Dia bisa membalikkan keadaan terjepit sekalipun. Putriku itu, pernah memenangkan tender besar. Hal mudah, sekalipun aku menarik semua investasi yang kuberikan untuk perusahaannya. Apalagi yang kurang? Semuanya tentang uang dan kekuasaan. Sabrina memiliki keduanya."
Tubuh William menegang seketika. Jika musuh menginginkan Sabrina, itu memang satu alasan yang besar. William mengusap wajahnya kasar. Kemampuan Sabrina memang tak diragukan. Bahkan mampu membantu William tak sampai bangkrut karena Sabrina yang menghandle.
Hening. William memilih membisu. Ini adalah hal pertama baginya. Tapi, jujur dalam hati William tak ingin kehilangan sosok Sabrina. William perlahan terbiasa dengan kehadiran Sabrina yang seolah memberikan warna dalam hidupnya. Tegang, kecewa, marah ataupun jatuh cinta.
"Aku akan mencari tahu lagi. Tenang saja, ada banyak tangan yang akan membantu kalian. Kuharap ini yang terakhir, William. Aku ingin kalian hidup tenang dan damai tanpa harus ada yang mengusik," ujar Rendy.
__ADS_1
William mengendikkan bahunya. William pun berkata, "Aku tidak bisa menjamin kami bisa hidup tenang dan damai. Mengingat, Sabrina adalah ketua mafia dari dua geng sekaligus."
Rendy menggelengkan kepala perlahan. "Tidak. Sekalipun kami geng mafia, tapi kami tak melakukan kejahatan untuk manusia yang tak bersalah. Kau pikir, di dunia ini tidak ada perdagangan anak di bawah umur? Saat ini geng mafiaku yang berperang untuk merebut kembali anak-anak tahanan itu. William, ingat pesanku ini. Jangan melihat satu orang dengan apa yang kamu lihat. Karena itu semua bisa menipu."
"William, pulanglah ke rumah. Ini sudah sore. Kami harus segera berangkat kembali ke markas kami. Ini bukan hanya teror dari saingan bisnismu. Tapi dari organisasi pembunuh bayaran, yang ingin menculik Sabrina atau membunuhnya. Jaga diri baik-baik, dan tolong jaga putriku." Elena menepuk bahu William. Seolah memberikan kekuatan kepada William.
"Sabrina. Bukankah ini seperti mimpi? Kupikir geng mafia pasti akan melakukan banyak tindakan melanggar hukum. Mungkin memang membunuh sudah menjadi hal yang biasa di dunia mafia. Tetapi tentang apa itu mafia sendiri, aku tak mampu berspekulasi. Mengingat apa yang dikatakan oleh Rendy cukup membuatku terkejut." William membatin.
"Lebih baik aku pulang. Pikiranku benar-benar tak sehat!" William pada akhirnya memilih untuk pulang.
__ADS_1