Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 74


__ADS_3

"Kita jangan seperti ini mas. Udah ya besok-besok jangan anterin aku lagi kekampus."


"Kenapa? Toh aku juga mau ke cafe. Kan searah."


"Enggak!! Tolong besok lagi jangan kayak gini mas. Kamu kan bosku. Aku gak enak sama kamu. Lagian juga ngapain kamu kayak gini."


"Kenapa? Bukankah sudah jelas ya aku sedang mencoba mengakrabkan diri denganmu? Nanti pulangnya aku jemput ya."


"Ini tuh nyusahin mas. Mas Kevin kan sibuk. Kalau kayak gini itu brarti aku gak punya hati nurani dong. Udahlah mas."


"Tapi kata mama......"


"Jangan bawa-bawa Tante Sarah?!! Udahlah mas. Kalau pun mas Kevin ngotot kayak gini aku tambah ilfil sama kamu." Ucap Monica kesal.


"Hah.... Tapi aku pengen Deket sama kamu." Ujar Kevin pelan. Dengan wajah memelas dia mengatakannya seakan dia bersedih akan hal itu. Tapi percayalah Monica benar-benar tak enak hati akan hal itu.


Kemarin pagi sampai hari ini. Saat kemarin pagi Monica baru keluar dari rumahnya. Terlihat sosok tampan nan wibawa berdiri membelakangi mobil sportnya. Bukan hanya Monica namun kedua orangtua Monica juga mengalami hal yang sama. Terkejut. Pasalnya Kevin adalah laki-laki pertama yang mendekati Monica. Tentu saja kedua orangtuanya mengizinkan mereka berangkat bersama terlebih jika Kevin menyangkut pautkan dengan mama sarah. Monica yang mengenal sosok perempuan anggun nan menawan itu. Akhirnya mengikuti kemauan Kevin untuk mengantarkannya ke kampus. Hingga akhirnya mereka bentrok pagi ini. Karna Monica kesal laki-laki yang mengatakan dengan rasa percaya diri yang tinggi di depan kedua orangtuanya, bahwa dia mencintai Monica setulus hati. Benar-benar menjengkelkan.


"Hah.... Baiklah baiklah... Jangan pasang wajah melas gitu. Mukamu tambah lucu tau." Berusaha memalingkan wajahnya yang sudah memerah seperti tomat rebus.


"Hah?" Kevin menautkan kedua alisnya.


Lucu?


Saat memalingkan wajah dengan kesal. Monica tak sengaja menangkap sosok sahabat yang dikasihinya. Sedang berdebat dengan seorang yang dianggapnya baji***N itu. Hatinya memanas.

__ADS_1


"Beraninya kau !!" Gumamnya. Kemudian berjalan kearah sahabatnya dengan langkah cepat.


"Hah?" Sekali lagi Kevin dibuat melongo dengan gumaman kecil dari bibir mungil Monica. Setelah seperkian detik seperti orang bodoh. Akhirnya dia memutuskan untuk mengikuti langkah Monica.


"Johan!! Cukup... Seharusnya kau malu menggangguku !! Jangan melewati batasmu !!" Sentak Ani.


"Tolong Ani maafkan aku. Aku hanya menyapamu saja. Jangan berlebihan." Ucap johan. Dengan nada lirih.


Dia tahu. Dia benar-benar memalukan. Dia tahu betul apa yang telah dia perbuat pada mantan istrinya itu. Dia membuat Ani hampir kehilangan nyawanya. Hanya gara-gara termakan gosip yang sudah dibuat oleh intan.


"Aku berlebihan? Heh. Kalau aku berlebihan lalu kau bagaimana? Kau hampir membuatku mati Johan !!"


"Maaf." Sesal memenuhi dadanya hatinya bergejolak. Seandainya saat itu dia masih setia dengan wanita yang kini ada di hadapannya itu. Mungkin dia masih bahagia. Bukan merundung seperti saat ini. Namun penyesalan hanya tinggal penyesalan. Karna sudah tak ada lagi yang dapat dia perjuangkan.


Mencoba menarik lengan Ani yang mengacuhkannya yang hendak melangkahkan kakinya untuk pergi dari tempat yang membuatnya sesak.


Keduanya menoleh. Terlihat sosok dengan amarah yang membuncah. Seakan tak terima dengan perlakuan laki-laki itu.


Plaaaakkk.... Plaaaaakkkkk menampar pipi Johan sekuat tenaga. Membenarkan dari bekas tamparan yang menjejak dipipi Johan.


Baiklah dua manusia **** yang bernama Ani dan Kevin itu kini terpaku dengan apa yang mereka lihat. Monica yang dikenal dengan kepolosannya. Selalu ceria. Kini berdiri penuh emosi. Laki-laki yang membuat hidup sahabatnya hancur. Kini dengan tak tahu malu menghampirinya. Menyapanya.


"Dia sudah menikah jangan menyentuhnya !!" Teriak Monica.


"Aku hanya menyapanya saja."

__ADS_1


"Omong kosong !! Laki-laki be**t sepertimu mana mungkin hanya menyapa?! Sudah kubilang dia sudah menikah !!! Kenapa kau malah memegang tangannya?!!"


"Heh memangnya kau siapa? Kenapa kau yang begitu emosi? Ani saja tak ada masalah. Kenapa kau yang sewot?"


"Dia sahabatku!!"


"Hah sahabat?! Aku yakin kau pasti belum mengenalnya dengan baik kan? Kalian kan baru beberapa bulan ketemu. Bagaimana mungkin kau membelanya sampai seperti itu?"


"Salah? Heh jangan memancing emosiku!!" Teriak Monica sarkas.


"Kau mengancam ku?" Tanya Johan sinis. Menjentikkan tangannya dikening Monica.


Sadar akan sesuatu. Monica bergegas. Segera ditariknya tangan laki-laki itu. Kemudian dia pelintir memutar tubuh laki-laki itu hingga terdengar teriakan.


"Arrghht....."


"Ini peringatan!!! Jangan sampai ada peringatan lainnya lagi." Melepaskan tangannya.


Johan yang tak terima pun akhirnya bersiap. Terdengar suara gemerutukk giginya. Kemudian dia angkat tinggi-tinggi tangannya. Siap untuk melayangkan emosi untuk kesekian kalinya yang sudah tertahan sejak tadi.


Namun sejurus kemudian telah mendarat tendangan diperutnya entah untuk yang keberapa kalinya. Yang pasti cukup untuk membuat dirinya tak bisa berbuat banyak.


"Uhukkkkk...."


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa vote untuk menambah semangat author ya


__ADS_2