Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 66


__ADS_3

"Sayang .... Terima kasih karena telah mempercayai kami ya. Kami akan menjaga Rendy dengan baik. Lihatlah rumah ini. Kembali hidup dan ramai dengan adanya Rendy." Ucap mami dilihatnya suasana yang penuh haru. Seorang bocah lelaki berlarian kecil kesana kemari membuat sang kakek harus berakhir dengan mengikuti setiap ulah bocah lelaki kecil itu. Dialah sang kakek. Nico Wijaya. Ani tersenyum melihat keduanya. Sudut matanya pun berair. Terharu. Karena mereka memperlakukan Rendy selayaknya cucu mereka sendiri.


"Aku yang harusnya berterima kasih sama mami dan papi yang sudah mau direpotkan sama Rendy. Apalagi mami sama papi yang sudah berusia lanjut. Seharusnya papi dan mami beristirahat saja."


"Hei... Apa maksudmu nak? Kalau kamu tak bawa Rendy kemari justru papi dan mami yang bakalan kesepian !! Iya kan mi? Setidaknya ada Rendy disini kami punya kesibukan. Toh juga nanti ada baby sister disini. Setidaknya kami bisa menikmati hari-hari kami yang diujung senja nak." Papi ikut nyerocos seakan tak terima pernyataan dari menantunya itu.


"Benar apa yang dikatakan papi. Mami sama papi justru punya kesibukan. Dan kesibukan ini benar-benar yang kami dambakan selama ini. Jadi kamu fokuslah kuliah kamu." Greeta menepuk bahu menantunya itu. Menantu yang sangat dikasihinya.


"Nanti aku bakalan kesini tiap hari mi. Sepulang kuliah aku gak ada kesibukan kok." Kata Ani.


"Loh bukannya kamu lagi sibuk praktek ya?" Tanya mami.


"Ah....Iya mi. Tapi setidaknya aku bakalan tiap hari jenguk Rendy biar dia juga bisa ngerasain gimana bundanya Deket sama dia."


Mati aku !!! Tugasku !! Aaaaaaa duh ni otak gak bisa jalan kenapa sih?! Apa gara-gara Johan dulu sering mukul ya makanya otakku radak gesrek... Hush coba deh besok aku minta tolong Monica.


"Kamu kenapa nak? Ayo kita makan malam. Ardan pasti sibuk ngurus bisnisnya. Kenapa bengong? Apa ada yang kamu pikirkan?" Tanya papi. Karna sedari tadi greeta sudah memanggil-manggil nama menantunya namun sang menantu malah asik dengan pikirannya sendiri.


"Eh enggak Pi. Ayo kita makan." Jawab Ani tergagap. Dia sedang memikirkan tugas prakteknya itu.


Sepertinya otakku benar-benar gesrek sama sekali gak ada ide. Aaaaa Tiga tahun kemana aja sih aku ini !!


💞💞💞


"Ma !!! Tolong lihat keadaan juga dong !!" Teriak Kevin.

__ADS_1


"Kevin Andreas Winata !! Mama gak pernah mengajarimu untuk tidak sopan sama orang tua."


"Oke.. maaf .. Kevin minta maaf. Tapi disini yang keterlaluan adalah mama. Kenapa mama bisa seenak sendiri menyeret karyawan Kevin kedalam masalah pribadi kita ma."


"Tahu kesalahanmu dimana?"


"Ma...." Kevin kesal jika harus dihadapkan perdebatan dengan sang mama.


"Huhhh... Kamu benar-benar Kevin. Apa kamu gak tahu mama kesepian? Mama ingin sebuah keluarga Kevin."


"Bukankah mama masih ada Kevin? Kenapa mama masih merasa kesepian? Apa maksud mama.... Mama ingin menikah lagi?"


"Kevin !!!! Kamu tahu bagaimana hati mama!!"


"Hah.... Baiklah ma. Sudah jangan berdebat lagi ya?" Kevin melunak. Sudut mata mamanya kini mulai menganak sungai. Direngkuhnya tubuh mamanya. Dipeluknya erat.


"Maaf ma bukan maksud Kevin."


Kevin mengambil nafas berat. Pikirannya melayang ketika dia masih remaja. Saat itu adalah hari terpuruknya betapa mereka kehilangan sosok pahlawan bagi mereka. Benar. Kevin tahu hati mamanya ada dimana. Dia tahu betul itu. Apa yang membuat mamanya bertahan sampai sekarang. Mamanya cantik. Walaupun terdapat kerutan diwajahnya karna usia namun tak meruntuhkan sosok anggun nan menawan diwajahnya. Dan dia tahu betul apa yang dimaksud Sarah. Dia menginginkannya untuk segera menikah membina sebuah keluarga. Sarah sudah berkeliling dunia. Mencoba melepaskan semua beban yang ada. Namun tetap saja dimana pun dia berada tetap pikirannya kembali pada kenyataan, Kesepian.


"Mama menyukainya Kevin." Ucap Sarah.


Kevin melepaskan pelukannya. Menatap lekat sosok yang sangat dekat dengan denyut nadinya.


"Apa lagi maksud mama?" Tanya Kevin lirih. Mencoba menatap tajam manik mata Sarah. Mencoba mencari jawabannya.

__ADS_1


"Monica."


Kevin menautkan alisnya. Monica? Gadis yang membuatnya bertingkah konyol. Gadis yang akhir-akhir ini mencuri sebagian perhatiannya. Tingkah laku. Kepolosan. Dan semuanya. Membuat Kevin merasa nyaman berada disampingnya. Kevin masih berpikir. Apa sangkut pautnya Monica dan pembicaraannya dengan mamanya saat ini.


"Mama menyukainya. Jadikan Monica menantu mama." Kevin melepaskan pelukannya. Mencoba menelaah pernyataan mamanya. Satu-satunya hidup yang dia pegang saat ini. Tanpanya dia akan hancur. Kemudian setelah menemukan jawabannya dia menarik sudut bibirnya. Seulas senyum bertengger disana.


"Aku akan berjuang untuk kebahagiaan mama." Kata Kevin.


"Bukan Kevin. Jika kamu bahagia mama juga akan bahagia. Berikan mama sebuah keluarga. Berikan mama menantu. Monica menantu mama." Ujar Sarah. Ingatannya kembali pada pertemuan pertama dengan Monica. Bagaimana gadis itu membanting satu pria ******** dengan mudahnya. Meninggalkan kesan tersendiri baginya. Seorang gadis dengan harga diri yang tinggi. Begitulah pemikirannya pada kesan pertama.


"Oke. Jadi mama harus menurut Kevin ya." Kevin mengecup kening Sarah hangat. Artinya dia harus ikut tinggal dengan Kevin. Tak berbuat hal-hal konyol lagi. Hanya untuk memaksanya menikah.


"Iya... Oh ya katanya Ardan sudah menikah? Benar?" Sarah mendudukkan bokongnya di sofa.


"Iya ma sudah hampir tiga bulan kok. Istrinya Ardan teman Monica."


"Oh ya?" Menutup mulutnya kaget.


"Hemm. Kami bertemu sewaktu dirumah Ardan yahhh akhirnya dengan upaya Kevin dia jadi karyawan di cafe Kevin. Oh ya aku yakin mama gak akan mempermasalahkan latar belakangnya bukan?"


"Hahahaha Kevin jangan naif. Mama gak bakalan memandang Monica seperti itu. Mama sudah mengambil keputusan dari saat dia menolong mama. Jadi mama akan senang jika memang kalian akan berakhir dengan hati yang sama."


"Menolong mama? Kapan?".


"Sudahlah gak perlu dibahas. Oh ya antar mama yuk kerumah Ardan mama mau kasih oleh-oleh untuk Ardan. Juga mau kasih hadiah pernikahan untuk istrinya."

__ADS_1


"Besok saja ma ini sudah malam."


"Baiklah."


__ADS_2