
"Kalian kenapa ikut?" celetuk Artur.
"Hei! Kau ini teman kami apa bukan sih? Oh, aku tahu. Kau ingin berkencan dengan Sabrina bukan? Alah, nanti saja. Setelah makan, kalian bisa kencan kemanapun. Ya kan, Justin?" Dixton menaik turunkan alisnya.
Mendengar hal itu, kedua mata Artur mendelik seketika. Mereka telah beropini jauh. Padahal Artur sudah menyangkalnya berulangkali. Di sisi lain, Artur ingin sekali memukul kepala Sabrina agar sedikit waras. Bisa-bisanya, dia menikmati makanan di restoran begini dengan santainya.
"Apa dia tidak melihat wajah Lexi tadi? Kurasa, pria bajing*an itu akan mencari masalah lagi dengan Sabrina. Ayah juga sekarang memiliki jadwal berlatih. Apa jika aku ikut, mereka juga akan mengajariku? Sudahlah. Biarkan saja," batin Artur.
"Sabrina, ini semua kau yang traktir? Uangmu banyak juga ya?" tanya Justin.
"Makan saja, kalian jangan banyak tanya. Ngomong-ngomong, kalian sudah berteman lama?" Sabrina menatap Justin dan Dixton.
Dua pria muda yang tampan berasal dari keluarga kaya. Tetapi, Sabrina bisa menilai dari tutur kata mereka. Keduanya seperti Artur yang hanya suka bersenang-senang. Namun, masih dalam batas kewajaran.
__ADS_1
"Sudah. Sebenarnya dari SMP. Hanya saja, kami terpisah saat SMA. Entahlah, kenapa aku harus bersama dengan Artur yang mesum ini. Menyedihkan sekali aku," cicit Dixton.
"Astaga! Berhentilah mengejekku. Kau ini sahabatku, atau sahabat dia sih?" kesal Artur.
"Sahabat Sabrina!" celetuk Justin dan Dixton secara bersamaan. Keduanya bahkan tersenyum. Membuat Artur memutar bola mata kesal.
"Hari ini, Sabrina mentraktir kita dengan sangat loyal. Jadi, dia sahabat kami, Artur. Sorry, bro. Duit di sini berbicara," sahut Justin.
Sabrina menikmati makanannya dengan santai. Mengabaikan tatapan kesal Artur. Sesekali tangannya memenceti tombol jam tangan. Mencari tahu data diri sahabat Artur yang saat ini tengah duduk bersamanya dan Artur.
Mendengar nama Aretha disebut, Sabrina menoleh. "Kenapa?"
"Entah. Tapi, aku hanya merasa sedikit aneh. Darimananya yang aneh, aku tidak tahu. Yang jelas, tatapan kedua matanya." Justin menjelaskan kejanggalan yang ia rasakan.
__ADS_1
"Jadi, kalian berdua merasakannya?" tanya Sabrina. Ia menyimpan kembali jam tangannya. Tak lagi mengutak-atik.
Dixton mengangguk. "Kemarin, kita duduk bersama bukan? Aura yang ada di sekitar dia, tidak enak. Aku tidak melihat dari segi dia kaya ataupun miskin. Hanya saja, waspadalah. Auranya tidak enak."
"Tapi, aku sudah mencari identitasnya. Jika data itu disembunyikan, rasanya aku tidak mungkin kecolongan. Bahkan dari ibu panti, Aretha sudah tinggal di panti asuhan dari kecil. Entah apa yang aneh dan janggal. Atau itu semua karena sikapnya yang tertutup?" Sabrina membatin.
"Aku akan waspada. Ngomong-ngomong, siapa itu tadi cewek yang ada di belakang Lexi? Kenapa seperti mau memusuhiku?" tanya Sabrina.
"Masya?" Justin menganggukkan kepala. Lanjutnya, "Dia memang begitu. Mungkin saja, dia mengincar Lexi sebagai pria selanjutnya. Kelihatan banget kan?"
"Jal*ng teriak jal*ng. Bisa gitu ya? Tapi, Sabrina. Biasanya wanita kalau sedang cemburu itu menakutkan lo. Menurutku, dia mungkin akan bertindak lagi. Terlebih, kau menamparnya. Kau bisa dituntut," jelas Dixton.
"Biarkan saja. Sekalipun dituntut, aku bisa melakukan sesuatu yang bisa membuat dia tidak bisa lagi menyombongkan diri." Sabrina tersenyum menyeringai. Diikuti kedua alisnya yang naik turun.
__ADS_1
"Jika aku dituntut balik, aku bisa mencuri data perusahaan keluarganya. Menghancurkan bisnis kedua orangtuanya sampai ke dasar. Dengan begitu, bukankah Masya tak lagi bisa memiliki uang untuk menyewa pengacara? Hasilnya bisa aku donasikan untuk korban bencana. Itu lebih baik dan bermanfaat. Daripada untuk orang pongah seperti Masya. Setidaknya, itu hukuman untuk orang yang tak bisa menghargai orang lain," kata Sabrina dalam hati.