
Jam telah menunjukkan pukul 18.00 WIB. Mobil William telah memasuki halaman rumah. Setelah mobil berhenti, Ryu membukakan pintu mobil untuk William. Benar saja, William keluar dari mobil dengan wajah yang sudah fresh.
"Honey?" Panggil William ketika ia telah memasuki rumah. Pria itu mengedarkan pandangan ke sekitar. Mencoba mencari sosok Sabrina.
"Ya, Honey?" Sebuah suara yang justru muncul dari dapur.
Pandangan William kini teralihkan ke arah dapur. Perlahan bayangan seseorang muncul. Sabrina muncul dengan cukup menawan. Terlihat garang namun anggun. Dress hitam selutut lalu rambut yang disanggul. Disusul dengan high hells setinggi 5cm. Benar-benar menunjang penampilannya menjadi sosok yang berbeda dari gadis kebanyakan. Perhiasan anting dan kalung yang bertahtakan berlian tampak begitu cantik di leher dan telinga Sabrina. Terlihat juga sepasang sarung tangan berwarna hitam hingga ke siku
"Em, Honey? Kok malah melamun? Bagaimana penampilanku? Aku tidak menyukai warna yang lain. Aku suka hitam." Sabrina memainkan jemarinya.
"Ya. Aku merasa itu karakteristikmu, Honey. Kau sudah siap?" tanya William. Ia terus menatap ke arah Sabrina. Di mana lehernya yang jenjang terlihat mulus.
__ADS_1
Sabrina mengangguk cepat. "Ya. Aku sudah siap."
"Honey? Kau percaya padaku kan?" tanya William.
Senyum di bibir Sabrina terbit. "Tentu saja, Honey. Kenapa aku harus tak percaya padamu? Kau ini anrh sekali. Ayo, kita berangkat saja."
William mematung di tempatnya. Ia lalu menghirup napas panjang dan menghembuskannya. "Bisakah kau berjanji? Di mana kau akan mempercayaiku apapun yang terjadi? Lalu kau juga akan menanti aku menjelaskannya sendiri."
Sabrina menghembuskan napas berat. "Aku selalu mempercayaimu, Honey. Apa kau masih meragukan hatiku lagi?"
William terdiam sejenak. Terlihat sekali jika ia sedang berpikir dan sedikit gelisah. Selanjutnya, William justru tersenyum. "Baiklah, Honey. Aku percaya padamu."
__ADS_1
William menarik tangan Sabrina. Lalu pria itu membawa Sabrina menuju mobil. Ryu segera menutup pintu mobil William. Tak lama kemudian, Ryu melajukan mobilnya menuju tempat tujuan. Hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit, mobil yang dikendarai Ryu telah sampai di ballroom mewah sebuah hotel.
"Sekian lama. Rupanya teman-teman sudah mempersiapkan ini semua ya?" gumam William.
"Honey, kau bicara apa?" celetuk Sabrina.
Hal itu membuat William gelagapan. "Em, bukan apa-apa. Ayo kita segera turun."
William mengulurkan tangannya kepada Sabrina. Dengan senang hati tentu saja Sabrina menerima uluran tangan William. Tangan Sabrina kini bergelayut manja di lengan William. Begitu pula dengan William yang melingkarkan tangannya di pinggang ramping milik Sabrina. Tak menghiraukan tatapan sinis yang ditujukan kepada Sabrina dan William. Menyadari tatapan sinis ditujukan ke Sabrina, kini gadis itu justru menata hati dan pikirannya utnuk tetap tenang.
"Aku tidak boleh berada di titik yang dicemooh. Aku harus menegakkan badanku dan membuktikan jika ku bukan wanita yang lemah dan mudah ditindas. Ya. Aku harus memberikan pelajaran kepada pelakor murah*n itu! Aku yakin, wanita masa lalu William itu pasti akan kegatalan melihat William," gerutu Sabrina dalam hati.
__ADS_1
Saat William membawa Sabrina menyapa teman-temannya, seseorang berjalan dan berakhir menepuk bahu William. Senyum di bibir William kini lenyaplah sudah.