
"Hai ****** !!!"
Seseorang berteriak lantang. Semua orang menoleh. Begitu pula Ani dan Monica memalingkan wajah seakan penasaran siapa yang berteriak. Intan.... Gadis itu mendekat. Benar-benar geram entah karena apa.
"Heh ngapain kamu kesini ? Mau cari tunangan ku hah ?" Intan berteriak seakan tidak ada orang disekitar mereka. Padahal kini mereka tengah menjadi pusat perhatian. Kurang ajar kamu. Masih beraninya cari Johan heh. batinnya.
"Apa maksudmu? Aku ke kampus ini tentu saja aku mahasiswa disini." Ani tak mau kalah. Dulu.... Dulu sekali mungkin dia bisa bersabar tapi kali ini tidak. Setelah dia menghancurkan rumah tangganya. Dan merebut suaminya. Namun kali ini dia tak akan membiarkan harga dirinya diinjak-injak.
"Hahahaha gila ya kamu kalau bohong tuh lihat-lihat".
Ani dan Monica saling berpandangan. Apa maksud perkataannya?
"Udah deh gak usah belagu aku tau kamu kesini karna mencari tunangan ku kan? Lagian orang kayak kamu jadi mahasiswa disini? Hahahaha lucu !!! Emang kamu punya duit hah?" Intan terus berbicara dengan nada tinggi. Sehingga semakin banyak yang mengelilingi mereka. Monica tersulut amarah. Memang dia tak mengerti apa maksud pembicaraan gadis dihadapannya. Namun saat dia berbicara seolah orang miskin gak bisa kuliah disini. Mau bagaimanapun juga dia termasuk dari keluarga miskin yang kuliah di universitas gajah Mada dengan jalur beasiswa. Seakan tak terima dia maju kedepan namun Ani mencegahnya.
"Biar aku selesaikan ini". Kata Ani setengah berbisik pada Monica. Monica mengangguk.
"Aku benar-benar tak mengerti apa maksudmu? Dan aku memang mahasiswa disini. Ini hari pertamaku. Kalau kamu tak percaya ini ada kartu mahasiswaku yang menunjukkan bahwa aku mahasiswa disini." Ani membuka tasnya. Kemudian mengambil kartu mahasiswanya.
"Ini lihatlah."
Intan mengamatinya dengan seksama. Bagaimana mungkin?
__ADS_1
"Oke kamu emang kuliah disini tapi aku yakin yang bikin kamu kuliah disini pasti karna tunanganku kan? Kau masih mencintai dia kan? Heh gak ngaca ya kamu. Kamu itu udah dibuang sama Johan apa kamu berfikir bisa rebut tunanganku hah?"
Semua orang yang mendengarnya kini mulai bisik-bisik.
"Ih pelakor ternyata ada dimana-mana ya."
"Heran deh masa iya kampus kita ini sekarang Nerima pelakor?" Sahut yang lainnya.
Ani menghela nafas Monica menatapnya tak percaya.
"Bukankah seharusnya aku yang bilang begitu?"
"Heh nyatanya kamu ngejar-ngejar tunanganku sampai saat ini. Dan sekarang kamu kuliah disini. Bukankah tadinya kamu berada di desa hah? Kalau bukan kamu kesini untuk merebut kembali tunanganku lalu apa hah ?" Intan tersenyum puas kini semua orang berbisik-bisik seolah ani lah yang pelakor.
"Intan.... Sudah cukup kamu bicaranya?"
"Kenapa ? Takut banyak yang dengar kalau kamu itu ngejar laki-laki yang bahkan udah punya tunangan?" Intan tersenyum penuh kemenangan
Ani tersenyum. Semua orang terkesima melihatnya. Begitu pula Monica. Ada apa dengannya? Seharusnya dia marah atau apa karna sekarang dia dipermalukan habis-habisan. Tapi.. aku tak menyangka bahwa dia pelakor. Padahal tadinya aku benar-benar ingin bersahabat baik dengannya. Sepertinya aku tak seharusnya berada di sini. Monica mulai memundurkan dirinya.
"Intan sahabatku. Sudah selesaikah kamu bicaranya?" Semua orang yang berada disana tercengang mendengar Ani memanggil gadis dihadapannya dengan panggilan sahabat. Namun kenapa malah gadis itu yang memaki-makinya. Jadi gadis didepan ini sahabatmu Ani? Dan kamu bahkan masih mengejar laki-laki yang menjadi tunangannya? Sepertinya benar aku telah salah menilaimu. Monica
__ADS_1
"Kenapa? Kamu mau bilang apa hah?" Intan menantang namun hatinya benar-benar puas karna bisa memperlakukan Ani.
"Cukup!!!" Terlihat Johan datang bersama teman-temannya. Dia sebenarnya datang sudah dari tadi. Akan tetapi dia tetap berada di kerumunan untuk melihat apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun kini tunangannya itu benar-benar dirasa telah membuatnya malu. Menyulut emosi yang sepertinya sudah lama ia pendam. Terlihat jelas dia menggertakkan giginya serta kepalan tangan yang siap melayang.
"Intan..... Aku rasa kamu sudah tau jelas apa yang kamu bicarakan adalah kamu sendiri." Ani tetap tenang tak bergeming." Kalau kamu bilang aku pelakor padahal aku tak berbuat apa-apa lalu kamu apa?" Intan terbungkam.
Semua orang kini terdiam yang tadinya bisik-bisik pun kini menutup mulut rapat-rapat. Seakan mereka semua menunggu jawaban apa yang sebenarnya terjadi. Johan kini menatap mantan istrinya lekat. Seakan Ani adalah sosok yang dia rindukan selama ini. Memang walaupun berpisah Johan belum sepenuhnya bisa melupakan Ani. Kini semua orang menatap Ani lekat. Dia bahkan masih kokoh tanpa ekspresi apapun.
"Sahabatku.... lantas sebutan apa yang pantas untukmu. Yang merebut lelaki yang kini berada disampingmu. Bukankah dia dulunya adalah suamiku?"
Semuanya terhenyak kaget. Kemudian menatap Ani dari atas sampai bawah. Seakan tak percaya jika dia seorang janda. Dia masih terlihat cantik dengan polesan make up tipis dengan body gitar spanyol. Sedangkan jika dilihat begitu saja Ani masih seperti gadis lajang.
Intan kini hanya diam. Seakan memikirkan cara untuk menyerang balik.
Hah? Janda? Dia janda? Monica masih melongo bahkan mulutnya pun terbuka. Terlebih lagi dia tadi juga hampir menghakimi Ani padahal belum tahu cerita yang sebenarnya.
"Kamu ....!!!!!" Intan kehabisan kata-kata.
"Kenapa? Kamu sahabat yang terbaik kok. Mau menampung bekasku." Ani masih sama tak berekspresi apapun. Walaupun ada sedikit rasa sesak di dadanya.
"Aku yakin kamu kesini mau ngrebut Johan dari aku kan."
__ADS_1
"Cukup intan jangan bikin malu." Johan meninggikan suaranya. Dia terlihat kesal.
"Kalian kan sama-sama tak tahu malu. Bercinta didalam kamarku. Dan kemudian mengusirku. Tenang saja Intan aku tak akan melakukan hal itu padamu. Karna aku tau kamu bisa gila jika hidup tanpa mantan suamiku kan?" Ani tersenyum.