Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 428. Menemui Aretha.


__ADS_3

Sabrina menatap sendu pada sebuah rumah yang besar serta ketat penjagaannya. Rumah yang disediakan oleh Elena untuk menampung adik-adik angkat Aretha. Di sana, Elena menjadi penyumbang terbesar untuk kehidupan bocah-bocah tak bersalah itu. Ada banyak pengurus baru yang disediakan oleh Elena untuk mengurus anak-anak. Setidaknya anak-anak tak bersalah itu bisa makan dengan cukup. Bisa tidur tanpa takut tak nyenyak. Lalu tak perlu khawatir tentang pendidikan mereka yang terancam putus sekolah.


"Nona Sabrina?" Julia menatap kaget Sabrina yang ada di depannya. "Apa Anda ingin menjenguk sahabat Anda?" imbuh Julia.


Sabrina tersenyum tipis. "Benar. Apa kau bisa membawaku menemui Aretha? Aku ... Aku ingin melihat keadaannya."


"Mari ikuti saya, Nona." Julia berjalan lebih dulu.


Membiarkan Sabrina mengikutinya dari belakang. Tubuh Sabrina kaku. Melihat sorot mata anak-anak tak bersalah itu memandang Sabrina kosong. Bahkan Indah gadis kecil yang ceria kini berubah menjadi sedikit murung. Meski Indah masih melemparkan sebuah senyuman untuk Sabrina.


"Nona Sabrina." Julia membuka pintu kamar.

__ADS_1


Sabrina melongokkan kepala dan berjalan masuk ke dalam kamar. Tubuhnya menegang tatkala menemukan sosok yang dirindukannya tergolek lemah di ranjang pesakitan dengan kondisi tubuh yang terikat.


"Kenapa dia?" tanya Sabrina.


"Nona Aretha terkadang berteriak hebat. Saat melihat orang asing mendekatinya. Tapi mau bagaimana lagi, Nona? Para suster di sini juga harus memberinya vitamin dan banyak obat agar dia bisa sembuh seperti sedia kala. Jadi karena dia histeris, hanya ini satu-satunya cara. Nyonya Elena bahkan memberikan 3 dokter khusus yang menangani Nona Aretha," terang Julia.


Sabrina tak sanggup menahan air matanya. Jadi separah itu keadaan Aretha? Sepertinya keputusan bagus membiarkan Azumi masih bernapas. Siapa tahu, bisa menguliti wanita itu epiknya. Sabrina mendekati ranjang pesakitan Aretha.


"Maafkan aku. Gara-gara aku, kau menderita. Aku benar-benar bodoh! Kenapa aku tidak bergerak dengan cepat? Mengapa aku hanya menuduhmu saja? Padahal jelas-jelas itu bukan kamu." Sabrina menangis tanpa bisa dibendung lagi.


"Sabrina." Satu kata lolos dari bibir Aretha setelah 2 minggu lamanya.

__ADS_1


Mendengar suara yang memnggil namanya, Sabrina mengangkat wajahnya. Terlihat Aretha telah menatap wajahnya. Sabrina mematung di tempatnya. Ia bingung bereaksi seperti apa.


"Sabrina?" Lagi, Aretha memanggil nama Sabrina.


Aretha menatap Sabrina dengan tatapan sendu. Sabrina pun berjalan mendekati Aretha. Ia sadar, jika Aretha mungkin membutuhkan sesuatu.


"Aretha, ka-kau butuh sesuatu?" tanya Sabrina dengan hati-hati.


Hening. Aretha menatap Sabrina dengan kedua mata yang berkaca-kaca. "Kau menjengukku?" Suara Aretha terdengar lirih.


"Maafkan aku, Aretha! Aku tidak mencarimu. Aku terlalu bodoh menjadi temanmu." Sabrina tergugu. Isalan tangisnya pecah melihat Aretha yang masih saja tak bereaksi. Entah sudah berapa lama, Aretha terdiam. Sedangkan Sabrina masih dengan isakan tangisnya.

__ADS_1


"Hiks. Sabrina ... Mereka menyakitiku! Mereka menyiksaku! Katanya Bunda Ratih mereka bunuh! Hiks aku sedih, Sabrina! Kenapa Bunda yang aku sayangi justru meninggalkanku? Kenapa? Aku salah apa, Sabrina? Kenapa mereka jahat sekali? Ha-ha-ha! Sekarang aku tidak memiliki apapun! Kenapa mereka tidak membunuhku saja? Bukankah itu lebih baik! Hua!" Aretha histeris tatkala ia ingat dengan apa yang terjadi padanya.


"Ah, Aretha. Maafkan aku," lirih Sabrina pilu.


__ADS_2