
"Wah, kalian sudah datang?" Sabrina menyembul dari atas tangga. Wajahnya terlihat berseri-seri.
"Yo, Sabrina! Rumah ini nyaman. Padahal sedikit sumpek," ucap Dixton seraya tos dengan Sabrina.
"Banyak bicara kau!" Artur tak terima rumahnya dikatakan sumpek.
"Hai, Justin. Bagaimana perjalanan kalian?" tanya Sabrina. Ia melakukan tos kembali dengan Justin.
"Kupikir kalian tinggal di rumah mewah. Lumayan mengejutkan. Kalian tinggal di sini? Aku dengar juga bukankah Xander Grup baru saja memiliki dua perusahaan sekaligus? Ayolah, pasti harusnya kalian memiliki kemampuan membeli rumah mewah," tukas Justin.
Sabrina melirik Artur. Meminta untuk menjawabnya. Artur yang mengerti pun ia menjawab, "Bisa. Tapi untuk kenyamanan? Kami nyaman di sini. Tidak perlu membuang uang lagi. Daripada memiliki rumah besar dan mewah pda akhirnya kesepian? Bukankah lebih baik rumah kecil tapi ramai!"
"Kau seperti sedang menyentilku, Artur." Dixton menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa panjang. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. "Jadi, kalian tidak mau menyuguhkan sesuatu?"
"Tidak ada apapun. Sabrina lupa kalian akan kemari," timpal Artur.
"Oke-oke. Sorry. Aku bahkan bangun kesiangan. Kalian sudah makan?" tanya Sabrina.
"Sebenarnya sudah. Tapi aku hanya makan sedikit. Nggak bernafsu untuk makan sendiri," celetuk Dixton. Raut wajahnya berubah sendu.
__ADS_1
"Aku siapin sarapan dulu. Kami juga belum makan. Tunggu ya." Sabrina melengos ke dapur.
"Dia bisa masak? Apa aku harus meragukan masakannya?" tanya Dixton. Pria itu menunjuk Sabrina.
"Jangan ragukan keahliannya. Kau hanya akan jantungan jika tahu kemampuannya. Ayo ke dapur. Kita bisa melihat Sabrina masak sambil berdiskusi," ajak Artur. Ia pun bangkit.
Dixton dan Justin mengikuti dari belakang. Lagi, mereka terkejut. Pasalnya Artur membawa mereka ke ruang makan di mana juga terdapat sebuah dapur. Sabrina sedang berada di dapur entah ia melakukan apa.
"Sabrina, kau masak apa?" tanya Dixton.
Ia menghampiri Sabrina di dapur. Sedangkan Justin dan Artur memilih duduk di kursi. Justin bahkan telah mengeluarkan laptop miliknya. Begitu pula dengan Artur.
"Semua aku bisa makan. Kalau Justin biasanya sarapan roti," jawab Dixton.
"Mau kubuatkan sandwich?" Sabrina mulai mengambil selada yang ada di lemari es.
"Boleh. Eh, apa itu? Udang?" Dahi Dixton berkerut.
"Hm. Untuk camilan juga. Duduklah sana, kau membuat sempit dapurku," keluh Sabrina seraya mendorong tubuh Dixton.
__ADS_1
"Hei! Dapurmu memang sempit!" Dixton menjatuhkan bokongnya di kursi.
Ketiga pria itu mulai dengan aktivitasnya. Mencari informasi perusahaan yang tepat untuk diwawancarai. Sedangkan Sabrina, ia berkutat dengan bahan-bahan untuk sarapan. Bibi Rosi sendiri sudah membersihkan rumah jika hari libur. Dikarenakan Sabrina sendiri yang akan turun tangan untuk memasak.
"Lo, kenapa minumannya ada lima? Bukankah kita ada 4 orang?" tanya Justin penasaran.
Tiba-tiba sebuah suara deheman membuat mereka semua menoleh. Semua pria menatap ke arah sumber suara. Sabrina juga sudah bersiap dengan menu sarapan yang telah ia buat.
"Sarapannya sudah siap. Padahal aku akan memanggil Uncle," ucap Sabrina.
"Ada tamu? Kenapa tidak membangunkanku?" tanya William dengan nada yang meninggi.
Sabrina dan Artur mematung. Keduanya saling pandang. Sabrina sendiri mulai was-was. Sedangkan Justin dan Dixton bangkit dan menyambar tangan William untuk berjabat tangan.
"Saya Justin, Om. Lalu ini Dixton. Kami kemari untuk diskusi tugas. Maaf ya, Om. Kami datangnya terlalu pagi," ucap Justin sembari menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
William tak menjawab. Tatapan tajam ia layangkan ke arah Sabrina yang mematung. Hingga gadis itu berjalan menuju ke arahnya. Menyingkirkan tubuh Dixton, lalu menarik tangan William menuju meja makan.
"Tidak baik berdiri lama. Ayo, Uncle. Duduklah. Kita sarapan," ajak Sabrina.
__ADS_1