
"Perintah terakhir, bunuh siapapun yang kalian temui. Tentu saja untuk mereka yang memakai pakaian musuh. Ingat jangan lupa ada satu orang sandera yang harus kalian keluarkan hidup-hidup!" titah Mu dengan menggelegar.
Mendengar perintah dari Mu, membuat William terkesiap. Pria itu melongo di tempatnya. Tak menyangka tentang Mu yang justru ingin membunuh para musuh.
"Tuan Mu? Apa tidak apa-apa? Membunuh mereka?" tanya William.
Mu tersenyum menyeringai. "Tidak masalah. Mereka adalah penjahat. Nanti akan ada saatnya untuk melenyapkan mereka. Anda tidak usah khawatir, Tuanku."
Mendengar kata-kata Mu, William bergidik ngeri. Baru kali ini ia mendapati sesuatu yang mengerikan tapi dianggap biasa oleh orang lain.
"Seolah nyawa tidak ada harganya saja," gumam William dalam hati.
"Tuanku, waktunya Anda untuk turun. Anda sudah memakai baju anti peluru kan?" tanya Mu.
"Sudah. Sedikit berat, tapi aku bisa menanganinya. Ini terasa seperti memakai jas hujan. Bukankah ini harganya mahal? Bukankah biasanya hanya baju atas saja? Tapi lihatlah ini. Aku bahkan juga memakai celananya juga," balas William.
"Memang mahal. Tapi baju anti peluru itu didesain oleh Nona Muda Amelia. Rasanya Anda hanya perlu memakainya. Itu juga buatan terbaru yang akan dipasok untuk para TNI negara kita nantinya. Anda sudah bersiap? Ayo!" Mu menggerakkan mobil jeepnya.
William hanya membisu. Tak mampu berkata-kata lagi. Toh sekalipun ia bilang tidak, Mu akan tetap menjalankan mobil jeepnya memasuki rumah kosong yang sangat besar itu.
Saat sudah mendekati rumah kosong itu, sesekali terdengar baku hantam atau suara baku tembak. Seketika membuat nyali William menciut. Baru kali ini benar-benar turun di medan tempur.
__ADS_1
"Ya Tuhan. Ini mengerikan sekali. Ada banyak manusia tergeletak di lantai tanpa ada yang menolongnya." William membatin ngeri. Bulu kuduknya merinding tak dapat dibendung lagi.
William yang mulai paham situasinya, ia segera menyokong senjata ke arah musuh. Sehingga para musuh semakin terdesak. Mu terus mengemudikan jeep itu masuk ke dalam rumah. Sekalipun ada banyak mati terlidas ban mobil jeep, Mu tak ambil pusing. Ia terus mengemudikan mobil jeep memasuki rumah. Sayang, tidak akan bisa untuk naik ke lantai dua.
"Tuan, hanya cukup sampai di lantai satu. Sekarang ayo kita turun dari sini dan bertempur!" Mu turun dari mobil.
Alhasil William juga turun dari mobil. William semakin gemetar. Lagi-lagi pikiran William mengingat kejadian teror di perusahaannya. Sabrina seolah tidak takut terluka ataupun sekarat. William segera menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.
"Aku harus berani. Sabrina saja berani, mengapa aku tidak?" gumam William.
Pelan tapi pasti. William mulai tak lagi menundukkan kepala. Dengan berani ia mulai mengangkat kepala. Terlihat Mu telah baku hantam dengan musuh. Tanpa basa-basi, William menarik pelatuk senjatanya dan seketika musuh menggelepar di lantai.
"Ayolah, Tuan Mu. Jangan menggodaku. Lebih baik kita masuk lagi," ucap William. Ia sedikit malu karena Mu saja sadar jika sebelumnya ia ketakutan.
Mu tak lagi berkata apapun. Pria itu melangkahkan kakinya kembali. Kali ini ia menuju lantai dua. Sama seperti di lantai satu. Banyak sekali adegan baku tembak maupun baku hantam. William dan Mu terus mengendap-ngendap. Sesekali mereka berdua melepaskan tembakan jika nyawa sedang terancam.
Entah sudah berapa lama mereka mengelilingi rumah itu. Nyatanya belum menemukan sandera yang dimaksud. William merasa putus asa. Karena yang disandera adalah teman Sabrina. Jika dirinya gagal, apa yang harus ia katakan kepada Sabrina? Ah sungguh lucu. William menggeram. Pria itu mengeraskan rahangnya menahan amarah yang kian membuncah.
Disaat itu, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara kaca yang pecah. Tak hanya itu, tiba-tiba ada dua orang yang terhambur bersamaan dengan kaca yang pecah. William menajamkan pandangannya. Lalu ia menyokong senjata.
"William, apa kau berniat membunuhku?" Suara yang cukup familiar di telinga William. Sontak saja William terjingkat kaget. Pria itu adalah Rendy.
__ADS_1
"Rendy? Nyonya Elena?" William cukup syok dibuatnya.
Hei! Ini adalah lantai tiga. Elena dan Rendy masih saja membersihkan sisa-sisa pecahan kaca. Sedangkan para anak buah mereka menundukkan kepala sebagai penghormatan kepada ketua mereka.
"Seumur-umur aku baru terjun perang hari ini," celetuk Rendy.
"Kei sudah pensiun. Memangnya kau mau membawa siapa?" ejek Elena.
"Mungkin Julia. Dia kan anak satu-satunya Kei. Pasti menyenangkan ditemani gadis cantik seperti dia." Tiba-tiba seseorang menarik kerah leher Rendy. Dia adalah Elena.
"Beraninya kau bermain api di belakangku! Kau mau aku cincang? Atau aku racun biar mati perlahan wahai, Pak Tua?" ancam Elena.
"Sayang, aku bercanda. Mana mungkin aku berani! Aku kan cinta mati padamu, Sayang. Sudah ya. Ayo kita selamatkan teman putri kita. Sebelum semua terlambat." Rendy mulai tersudut.
Elena melepaskan kasar cengkaraman tangannya. Terlihat Rendy mencebikkan bibirnya. Ia sangat kesal ketika Elena memanggilnya Pak Tua. Pasalnya usia mereka terpaut tujuh tahun. Padahal tanpa Rendy sadari, William dan Sabrina justru selisih lima belas tahun.
"Aku tahu di mana mereka menyandera teman Sabrina," sela Elena dengan wajah yang serius.
"Di mana, Nyonya Elena?" tanya William.
Elena dan Rendy bergerak. Karena musuh telah berjatuhan, mereka bisa bergerak dengan santai. Diikuti dengan William dan anak buah Dark Knigh yang lain. Lagi-lagi William hanya menatap heran kepada dua orang yang menjadi suami istri itu. Entah mengapa mereka berdua terlihat keren di mata William. Suami istri bertarung bersama. Ah, seperti sebuah film saja. Gumam William.
__ADS_1