Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
Bab Terakhir.


__ADS_3

Beberapa waktu kemudian...


"Ayah!" teriakan tiga bocah menggelegar menguasai seisi rumah itu. Dari arah dalam rumah tergopoh-gopohlah seorang lelaki muda berusia 35 tahunan. Lelaki itu sedang mengeratkan dasinya dengan melangkah secara terburu-buru. Teriakan ketiga bocah kecilnya itu selalu membuatnya harus siap sedia untuk bergegas. Jika tidak, maka berakibat fatal untuk dirinya ketika malam hari.


"Iya, ayah datang ayah datang. Ayo cium ayah!" suara bariton yang khas itu melunak begitu melihat ketiga buah hatinya.


Winata Steward Wijaya, anak lelaki yang berusia 6 tahun itu tetap duduk manis tanpa memberikan respon apapun. Berbeda dengan Sabrina Arrafah Wijaya yang berusia 4 tahun. Gadis kecil itu segera menghambur kepelukan sang ayah tercinta. Sedangkan si bungsu, Amelia Sandra Wijaya yang berusia 3 tahun itu berjalan perlahan mendekati sang ayah. Seketika lelaki itu segera duduk berjongkok untuk menyambut putri bungsu di keluarga kecilnya itu.


"Wah anak-anak ayah semuanya disiplin! Jam segini kalian sudah menunggu ayah untuk sarapan bersama! Baiklah ayo kita duduk menunggu mama kalian selesau menyiapkan sarapan."


Lelaki itu menggendong dua putrinya dan mendudukkannya di kursi masing-masing. Sesaat kemudian muncullah wanita berparas cantik dengan perut yang membuncit sembari membawa nampan berisikan sarapan untuk mereka semua yang sudah bersiap untuk menyantap sarapan.


"Maaf ya, Mas. Hari ini kita sarapan nasi goreng seafood. Hari ini aku sedikit kesiangan. Anak-anak susunya masih disiapin sama bibik. Ini hanya susu hamil untukku. Tidak apa-apa kan, Mas?"


"Elena, aku sudah bilang jika kau kelelahan kau bisa minta tolong kepada bibi. Jangan memaksakan dirimu sendiri. Aku tidak ingin melihat kau kelelahan. Pasti sangat menyulitkanmu, karena saat ini kau tengah hamil 8 bulan lebih. Sebentar lagi kau melahirkan. Disaat seperti ini pun kau tidak melupakan kewajibanmu. Aku merasa sangat beruntung memilikimu. Tetapi kau harus tau batasan dirimu sendiri. Ingat kau tengah hamil besar. Pasti tidak mudah beraktifitas dengan keadaanmu yang seperti ini," kata Rendy dengan suara serak. Seakan menyesali burungnya yang keterlaluan karena masih saja bisa membuat istrinya melendung.


"Mas Rendy, sudahlah. Aku sudah bilang berapa kali. Aku tak menyesal. Aku hanya ingin menjadi seorang istri dan seorang ibu yang sempurna untuk anak-anakku. Percuma, meskipun kita memiliki jabatan tinggi tetapi kita tidak bahagia. Saat ini aku sudah cukup bahagia bersamamu. Menjalani hari-hariku bersama anak dan suamiku, itu jauh lebih berharga dari apapun. Jangan mengatakan hal aneh lagi. Apa kau tidak menyadari jika saat ini ada aura yang sudah menusukmu? Ayo kita sarapan!"


Rendy melirik kearah sampingnya. Benar saja, tatapan maut itu menghujam hatinya. Sama seperti tatapan Elena ketika marah atau merajuk. Seketika Rendy meneguk salivanya. Memaksakan senyum senatural mungkin sembari mengajaknya sarapan.

__ADS_1


"Steward, ayo kita sarapan! Tunggu apa lagi? Ayah yakin kau pasti lapar.," ajak Rendy dengan senyum terpaksa.


"Aku sudah kenyang melihat Ayah dan Mama!" jawabnya dengan tatapan yang masih terasa mencekik leher Rendy.


Deg.


Aura anak ini tidak main-main! Apakah ini adalah perwujudan aku dimasa kecil? Oh tuhan! Rasanya sekarang Steward sedang mencekik leherku. Bahkan bulu romaku meremang. Dasar bocah! Kenapa kau selalu bisa menusuk hati ayahmu ini, Nak!


******


"Mas! Oh, perutku mulas!" seruan Elena membuat Rendy segera membuka kedua matanya lebar-lebar. Meskipun dirinya baru terlelap 20 menit yang lalu, tetapi lelaki itu tanpa sepatah kata segera membopong tubuh istrinya keluar dari kamar.


"Baik tuan Muda!" Danar segera bergegas. Setelah Rendy memastikan Elena sudah berada didalam mobil, Rendy kembali ke dalam kamarnya mengambil tas yang sudah dia siapkan untuk kelahiran anak keempat mereka. Sepertinya setelah memiliki 3 orang anak memberikan pengalaman hidup untuk Rendy. Seperkian detik berikutnya mobil segera menuju rumah sakit.


"Mas." Keluh Elena. Peluh kian membasahi tubuhnya. Sembari menggigit-gigit bibir bawahnya, Elena terus mengepalkan tangannya ketika rasa sakit itu mendatanginya. Setelah melahirkan tiga orang anak dengan cara yang normal, Elena paham bagaimana rasa sakit itu datang. "Dok-Dokter, sepertinya dia sudah mau keluar."


Dokter Lia mengangguk dan segera mengambil tindakan. Mendorong ranjang pesakitan Elena menuju ruang persalinan. Seperti biasanya Rendy ikut masuk ke dalam ruangan itu. Rendy menghela nafas dalam-dalam. Ketika berada diruangan ini dia juga ikut merasakan hidup dan mati. Berbeda dengan Elena, Rendy merasakan eksekusi dari Elena karena wanita itu selalu saja menjambak, mencakar, memukul atau bahkan menggigit tangannya. Itu hal yang biasa. Tetapi tetap saja membuat Rendy harus menahan rasa sakit.


Plak! Untuk kesekian kalinya Elena menjatuhkan tangannya di pipi Rendy. Sesekali Elena mengumpat atau memaki Rendy. Elena seakan lupa jika bukan hanya dia dan Rendy yang berada di dalam ruangan itu.

__ADS_1


"Huuuuhhhhh! Kenapa? Kenapa setiap kali aku yang mengandung 9 bulan dan setiap kali aku melahirkan, kenapa mereka selalu seperti kamu?" teriak Elena sembari menjambak rambut Rendy sekuat tenaga.


"Aku tidak tau, Sayang," jawab Rendy dengan pasrah. Lelaki itu bahkan memegang ujung ranjang pesakitan Elena sebagai penahan agar tubuhnya tidak jatuh saat rambutnya ditarik sekuat tenaga oleh sang istri.


"Memuakkan sekali jawabanmu! Sekali! Sekali saja aku ingin anak ini mirip denganku. Kenapa aku selalu saja zonk? Kenapa genku tidak ada pada mereka bertiga kecuali mataku! Sial*n kau, Rendy! Dasar lelaki! Aku yang melahirkan kau yang enak-enak saja! Huuuuhh begitu anak itu lahir kenapa harus mirip denganmu! Huuuuhhh aaahhhhhhhh."


"Sayang, tenanglah. Kau harus tenang, anak kita mau keluar."


"Tenang? Tenang apa? Huuuuhhh, aku yang berjuang kenapa kau yang menang? Aaaaaaahhhh." Elena mengejan panjang. Seperkian detik berikutnya, terdengarlah tangisan seorang bayi laki-laki. Elenapun melepaskan tarikan tangannya pada rambut Rendy. Seketika lelaki itu meringis kesakitan. Dia sudah menahan rasa sakit itu dari tiga jam yang lalu.


Oek oek oek.


"Selamat Nyonya Rendy, anaknya berjenis laki-laki!" Dokter Lia pun segera membawa bayi mungil


"Laki-laki? Mas Rendy, aku zonk lagi?" Elena pasrah. Sembilan bulan mengandung, membawanya kemanapun dia pergi kemudian setelah sembilan bulan lamanya dirinyapun akhirnya berjuang kembali mempertaruhkan nyawanya untuk kehadiran malaikat kecilnya. Namun lagi-lagi, Elena tak mendapat bagian. Rendynyalah pemenangnya.


"Aku menang lagi, Sayang! Selamat datang Kezio Al-Faruq Wijaya. Sayang, mari kita coba lagi? Kita bertaruh lagi, anak berikutnya kau kebagian atau tidak?"


Dasar suami istri gila!

__ADS_1


TAMAT.


__ADS_2