
"Papamu mengundangku untuk makan malam di rumahmu." William memulai pembicaraan. Melirik kearah Sabrina yang masih terdiam. "Mungkin membicarkan pernikahan kita," pungkas William.
"Mungkin." Sabrina malas untuk menyahut.
"Kau tidak ingin mengatakan sesuatu?" tanya William.
"Tidak ada." Hening kembali.
Sabrina begitu enggan menjawab. Pikiran gadis itu melayang kepada Elena. Bagaimana jika mamanya itu tidak menerima pernikahan ini? Rasanya, Sabrina ingin sekali menculik William dan mengancam akan meledakkan kepala pria itu. Ah, pikirannya kembali sadis. Tetapi ngomong-ngomong, William juga sadis. Mengatakan pernikahan hanya sebuah sandiwara.
Dia sepertinya masih kesal padaku. William menghembuskan napas kasar. Padahal dulunya, Sabrina begitu ceria. Tapi lihatlah saat ini, Sabrina lebih terlihat murung dari biasanya.
Saat telah sampai di rumah, Sabrina lagi-lagi memilih lari. Gadis itu berlari seolah-olah, William adalah hantu. William tersenyum miris. "Ryu, kembali ke kantor."
"Baik, Tuan." Ryu menginjak pedal gas kembali. Meninggalkan halaman luas, milik keluarga Rendy.
Dari balik gorden, Sabrina mengintip. "Uncle, lihat bagaimana aku akan memancingmu untuk tertarik padaku. Aku pastikan, kau akan bertekuk lutut padaku. Meskipun aku yang mengejarmu, bukan berarti aku bisa kau injak sesukamu!"
Sabrina melirik jam tangannya. Satu lebah penyadap suara, sudah melekat sempurna di mobil milik William. Gadis itu tersenyum seringai. "Dengan begini, kau tidak akan bisa membohongiku, Uncle. Aku harus memperbanyak penyadap yang dilengkapi CCTV ini. Akhirnya, alat yang aku ciptakan berguna juga. Jangan fikir aku bodoh!"
"Siapa, yang kau katai bodoh itu?" sebuah suara cempreng menyadarkan Sabrina. Gadis itu menoleh. Elena telah berdiri di samping sofa ruang tamu. Sabrina mendesah.
"Ada pria yang tidak tahu malu, menguntit Sabrina," kata Sabrina sembarangan.
__ADS_1
"Menguntit? Siapa yang berani menguntitmu?" Intonasi suara Elena terdengar membahana. Membuat Sabrina, memikirkan cara lain.
"Dia sudah kabur, Ma. Enak saja, siapa yang mau sama dia. Orang tidak waras. Teman-teman pria di sekolahku, semua bodoh, Ma. Aku tidak suka. Lebih baik, mencari seorang pria yang jenius! Siapa tahu, dia bisa aku ajak kerjasama membuat bom jenis terbaru!" kata Sabrina. Hal itu justru membuat Elena mendelik.
"Sabrina! Kau ini seorang gadis!" jerit Elena.
"Ish, Mama juga gadis dulu. Nyatanya, Mama juga ketua mafia!" Sabrina menjulurkan lidahnya. Lalu berlari menuju kamarnya, yang berada di lantai atas.
"Ya ampun. Dia benar-benar. Sepertinya aku juga tidak bisa menghindari takdir. Sudahlah. Aku pusing!" Elena berlalu. Ia berjalan menuju dapur. Malam nanti akan diadakan acara makan malam, bersama keluarga William.
Senja kini digantikan oleh pekatnya sang dewi malam. Sabrina menatap cermin lamat-lamat. Pandangannya terlihat berbeda. Masih dengan berbalut handuk, Sabrina menatap pantulan dirinya di cermin.
"Malam malam." Sabrina bergumam.
Gadis itu lalu berbenah diri. Berjalan menuju walk in closet miliknya. Dengan sigap, ia mencari pakaian yang pas untuk malam ini. Sabrina berfikir, ia harus bisa membuat William terpesona.
Setelah mematut diri di depan cermin, Sabrina melirik jam di dinding. Tinggal sedikit lagi, gumamnya. Sabrina adalah gadis yang keras kepala. Tidak akan mengambil pusing suatu masalah, jika itu sepele. Tetapi berbeda, jika itu menyangkut harga dirinya. Sekalipun, pria yang ia cintai.
Tok Tok tok.
Bunyi suara pitu diketuk, menyadarkan Sabrina. Gadis itu berjalan mendekati pintu. Begitu pintu dibuka, kedua iris biru Elena justru membulat. Wanita paruh baya itu lalu menerobos masuk.
__ADS_1
"Sabrina, apa-apaan ini? Kenapa kau memakai gaun hitam? Ini acars makan malam, Sayang," tukas Elena yang tengah syok. "Memangnya, kau sedang menghadiri pemakaman?"
"Aku sudah bilang, Ma! Aku menyukai warna hitam! Kenapa Mama memberiku, gaun berwarna?" seru Sabrina tak kalah dengan Elena.
"Ini acaramu, sini ganti! Ayo, ganti!" Elena menarik tangan Sabrina. Gadis itu memberontak.
"Ma! Aku tidak mau! Jangan paksa, Brina. Udah dong, Ma! Buang-buang waktu nih!" rengek Sabrina.
"Ini juga karena kamu, Brina! Dari awal, Mama sudah bilang. Pakai gaun yang Mama kasih! Memangnya, kau akan menghadiri pemakaman? Disini tidak ada yang mati!" pungkas Elena dengan nada ketus.
"Hati aku yang mati!" kesal Sabrina.
Elena tersentak. "Apa?" Ia menatap Sabrina, yang tengah memajukan bibirnya karena cemberut.
"Kenapa kalian berdua? Tamunya sudah datang, kenapa kalian masih berada disini?" tanya Rendy. Ia menyusul masuk ke dalam kamar Sabrina.
"Lihat, Pa. Anak gadis kamu ini. Masa mau makan malam, pakai gaun hitam? Padahal kan, mama udah siapin yang lebih cantik! Lagian, kenapa sih Brina, beli gaun mahal-mahal warna hitam? Papa juga, kenapa nggak negur Sabrina?" ketus Elena.
"Sayang, sudah. Ayo turun. Tamu sudah datang, malu Ma. Kalau mereka tahu, kalian berdua bertengkar disini," bujuk Rendy. Pria itu menggiring istrinya, keluar dari kamar Sabrina. Begitu pula dengan Sabrina, yang mengekor di belakang keduanya.
"Hai, William. Maaf ya, biasa. Mereka berdua ini suka sekali bergosip. Ayo, silahkan duduk," kata Rendy.
William dan Artur, duduk. Mereka bertiga, terlibat dalam suasana yang canggung. Sabrina sendiri membuang muka.
__ADS_1
"Sabrina, duduk!" titah Rendy.
Saat Sabrina berjalan mendekat, iris abu-abu William menangkap sosok yang masih membuang muka itu. Sebuah gaun berwarna hitam, serta rambut yang disanggul. Menampakkan lehernya yang jenjang. Gaun hitam? Dahi William berkerut.