
Masih alur mundur atau flashback
Dimulai dari kamu wahai gadis tak berguna. Intan tersenyum menyeringai. Wanita itu kini mendekati Rianna yang sedang menyiram kebun. Seperti biasa, dikala sore hari Rianna pasti akan menyiram setiap tanaman dan bunga yang ada ditaman belakang rumah Smith.
"Hallo," sapa Intan sembari mengulum senyum.
"Oh hallo tante. Apa Tante betah tinggal disini? Semoga papa tidak menyulitkan Tante. Dia hanya belum nyaman saja mungkin," sahut Rianna.
"Iya aku tau kok. Tapi em ... Boleh nggak minta tolong. Aku takut minta tolong papamu dia pasti akan menolak. Padahal aku sedang mengidam. Aku ingin sesuatu sepertinya keinginan anakku." Intan memasang wajah memelas. Membuat Rianna mau tak mau bersimpati padanya.
"Katakan saja Tante. Aku akan mencarinya. Lagipula nanti kan dia adikku juga. Jadi biarkan aku memberikan sesuatu untuk adikku."
"Kau tak keberatan?" tanya Intan.
"Tentu saja tidak. Katakan saja Tante." Rianna menyentuh tangan Intan. Seolah mengatakan katakan saja maka aku akan berusaha untuk mencarikannya. Mau seperti apapun, Rianna adalah sosok yang baik hati dan berhati yang besar.
__ADS_1
"Kalau begitu aku minta carikan martabak dong. Aku ... Aku benar-benar menginginkannya. Aku harap kau tak keberatan, Rianna."
"Baiklah kalau begitu aku akan bersiap." Rianna mematikan keran air. Kemudian saat dia hendak beranjak Intan menghentikannya.
"Tolong jangan beritahu papamu. Aku takut dia akan memukulku," ujar Intan dengan tubuh yang bergetar.
"Tidak akan Tante. Nanti aku akan pergi sendiri." Rianna mencoba menenangkan Intan yang seakan ketakutan.
"Terima kasih karena kau telah menerimaku dan anakku. Hiks hiks."
"Hei Tante tenanglah. Kau akan mendapatkannya nanti ya," ucap Rianna dengan lembut. Gadis itu hanya bisa berharap agar calon adiknya tak akan mengalami hal yang sama dengannya.
"Anda supir yang akan mengantarku bukan?« tanya Rianna. Gadis cantik bermata birru itupun menoleh kearah Intan.
"Iya Rianna. Dia supirku, pergilah bersamanya. Tolong ya maaf merepotkanmu," ujar Intan dengan nada lirihnya.
__ADS_1
Rianna mengangguk dengan mantap. Gadis itu segera masuk kedalam mobil yang sudah menunggunya tanpa berfikir dua kali. Bahkan gadis cantik dengan tinggi semampai itu mempercayai begitu saja Intan, wanita yang baru saja hadir dalam hidupnya.
Sepanjang perjalanan gadis itu tersenyum. Namun sesaat dia menyadari ada sesuatu yang salah. Benar, dirinya merasa asing dengan jalanan yang dituju.
"Anu, Pak kita mau kemana? Seingatku ini bukan jalan menuju alun-alun kota?" tanya Rianna dengan penuh hati-hati.
Hening menyapa. Baiklah perasaan tak enak tadi mungkin sebentar lagi akan terjadi. Memang ada yang salah sedari awal. Gadis itu kemudian mengepalkan tangannya. Seakan merasa dirinya begitu bod*h.
"Jika anda tak mau mengatakannya, maka maafkan aku Pak jika aku bertindak."
Dengan tekad yang kuat dan keberanian yang luar biasa dalam diri Rianna, gadis itu membuka pintu mobil yang saat ini tengah berjalan. Kemudian gadis itu melompat begitu saja dari dalam mobil itu.
Ckiiiiit. Seketika sopir gadungan itu menginjak rem dengan sekuat tenaganya. Matanya menatap nyalang pintu mobil yang terbuka. Tanpa dikomando, lakiclaki paruh baya itu segera melesat mencari Rianna. Dengan posisi mobil yang masih berjalan dirinya yakin jika gadis itu pasti belum jauh. Benar saja laki-laki itu tersenyum tipis begitu melihat Rianna tengah berjalan tertatih-tatih.
"Hai gadis sial, kemarilah. Jangan membuat om marah ya."
__ADS_1
********
Mau lanjut lagi? Jangan lupa vote dan like. Maka author up lagi hari ini.