
"Hari ini harus menjadi hariku. Jangan membuat moodku rusak! Kalian berdua duduk disini dan temani aku sarapan,"
Kedua gadis itu saling beradu pandang. Frustasi dengan apa yang dikatakan oleh nona muda mereka.
"Kenapa diam?"
"Ba-baik nona," dengan gelisah keduanya menarik kursi dan segera mendudukkan bokong mereka dikursi. Kemudian mengambil sepotong sandwitch dan mulai menggigitnya.
Begini amat deh nasib aku. Istriku sekarang sudah seperti macan.
Setelah selesai sarapan, Mariani menyiapkan sebuah kotak bekal. Kemudian dia menyodorkannya kepada suaminya.
"Sarapan di kantor saja mas daripada telat. Oh ya mas nanti aku akan menghabiskan uangmu di ATM. Mas Ardan apa akan memarahiku nantinya?" membelai dada bidang Ardan dengan lembut. Entah sejak kapan istrinya itu kini pandai memainkan emosinya. Entah itu menggodanya, memarahinya dan mengancamnya.
"I...iya sayang,"
Mariani mencium punggung tangan suaminya. Kemudian berangkat ke kampus ditemani Lita dan Jesslyn. Keduanya sudah diberitahu oleh pak Herman bahwa hari ini hari pertamanya untuk ke kampus mengikuti nona muda mereka. Menggantikan posisi Agnes dan Monica untuk menjaga nona muda mereka.
******
"Mariani....," sebuah panggilan dari seorang pria yang pernah hadir dalam kehidupannya. Membuat Mariani kedua gadis yang bersamanya menoleh.
Jesslyn dan Lita memasang mode waspada. Terlebih orang yang kini dihadapan mereka adalah laki-laki. Satu peraturan keras, menjauhkan nona muda mereka dari laki-laki manapun.
Mariani menatap tajam Johan Saputra. Laki-laki itu seakan tidak pernah menyerah untuk mengusik hidupnya.
"Aku ingin bicara denganmu," matanya beralih kearah dua gadis disamping Mariani. Memberikan kode untuk segera pergi meninggalkan Mariani. Namun sayangnya, kedua gadis itu diam tak bergeming. Bahkan tatapan mata dari kedua gadis itu menyorot tajam kearahnya.
Sepertinya kedua gadis ini bukan gadis sembarangan. Ternyata Mariani dijaga oleh orang-orang yang menyayanginya seperti sebuah berlian.
"Mariani, bisakah kita bicara sebentar?"
"Anda bisa mengatakannya sekarang tuan,"
"Bisakah kalian berdua pergi? Kau ingin bicara dengannya,"
"Maaf tuan lebih baik anda pergi dari sini,,"
"Hei! Kenapa kau lancang sekali hah? Aku bahkan mengatakannya secara baik-baik tapi kenapa kau nyolot begitu?"
"Johan cukup! Apa kau tuli? Pergilah jangan membuatku muak,"
Johan tersenyum licik.
"Kau sekarang sudah berubah ya? Wah bahkan kau sedang hamil," meremehkan perut Mariani yang membuncit.
__ADS_1
"Tutup mulutmu brengs*k!" umpatan Mariani membuat Jesslyn dan Lita menoleh. Ternyata emosi dari nona muda mereka bahkan jauh lebih besar dari biasanya.
Nona muda semakin menyeramkan. Jesslyn menatap frustasi sikap Mariani yang mulai emosi.
Ya ampun nona muda mengatakan kata brengs*k? Lita menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Mariani...sejak kapan kau menjadi sakartis begini?" pertanyaan dari Johan membuat Mariani memutar bola matanya. Kemudian menggerakkan tangannya sebagai kode untuk Lita dan Jesslyn.
"Cepat kalian berdua bereskan. Jangan membuang waktuku. Aku tunggu dimobil," melangkah pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Baik nona muda,"
"Hei minggir kalian berdua, jangan menghalangiku ada yang perlu aku bicarakan dengannya,"
Tanpa persiapan ataupun membela diri. Tiba-tiba tubuh Johan terpelanting dan jatuh ketanah. Dalam sekejap mata pukulan bertubi-tubi menghantam wajah dan tubuhnya. Suasana sepi disekitar tempat mereka. Memudahkan Jesslyn dan Lita melancarkan aksinya dengan brutal.
********
Hiruk pikuk di pasar tradisional membuat Dion waspada. Bisa saja istrinya itu menghilang dari jangkauannya karena keramaian di pasar itu.
Tiba-tiba seorang turis berteriak. Membuat suasana yang ramai semakin menjadi.
"Please! there is a snatch!" turis wanita itu panik.
Dion dan Agnes menoleh kearah keributan itu. Setelah mengetahui apa yang terjadi kedua pasang mata mereka menatap sebuah motor yang melaju dengan membelah keramaian dengan paksa.
"Hei! Ya ampun cewek aneh ini mau ngapain!" Dion frustasi namun tetap saja mengikuti jejak istrinya mengambil langkah seribu.
Diujung sebuah gang, mata Agnes menemukan sebuah sepeda motor Kawasi Ninja 250 ABS SE LTD.
"Sir, I borrowed the motorbike for a while. there is a snatch there take it easy I'll return it,"
"Okay miss but please return it but if you do not return it i will report you to the police. can I ask for your identity?"
Agnes merogoh tas kecil yang dia selempangkan dipundaknya. Mengambil KTP dan memberikannya kepada pria paruh baya itu. Dion telah sampai disamping Agnes dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Please miss this is the key," menyodorkan sebuah kunci kepada Agnes. Wanita itu segera meraihnya.
"Hei mau apa?" menatap istrinya yang mulai mendekati sebuah motor Kawasaki Ninja. "Kau yakin kau bisa mengendarainya?"
Hening tiada jawaban. Agnes kini sudah menaiki kuda besi itu. Kemudian memainkan gas hingga terdengar suara bising knalpotnya.
"Oh wow....motor ini benar-benar keren," seru Agnes. "Hei mau ikut bermain tidak?"
Tanpa berfikir lagi Dion segera menaiki kuda besi itu.
__ADS_1
"Tunggu apa kita tidak salah? Kenapa aku malah yang duduk dibelakang?" menyadari sebuah kesalahan.
"Diamlah. Aku akan mengajakmu bermain-main sekarang,"
Motor Kawasaki ninja itu melaju dengan sangat cepat. Membuat Dion hampir terjungkal kebelakang.
"Kau gila!"
Agnes terus mengejar motor yang sudah lebih dulu melaju. Begitu mengetahui jika mereka diikuti motor itupun semakin melaju cepat. Semua orang yang menyaksikan aksi kejar-kejaran itu menjadi heboh lantaran satu sepedah motor itu dikendarai seorang wanita.
Hingga diujung belokan gang ada sebuah kayu yang menutupi jalan berikutnya. Sepeda motor didepannya membelok kearah kiri membuat Agnes mau tak mau mengerem secara mendadak.
Ckiiiiit.... Suara ban beradu dengan aspal terdengar cukup nyaring.
"Oh mati aku mati," keluh Dion sesaat motor itu berhenti. Membuat mereka berdua menjadi sorotan orang-orang disekitar.
"Pegangan! Aku ajak kau bermain-main disini!"
Tanpa menjawab Dion memeluk pinggang rapi istrinya dari belakang. Agnes mulai menarik gas itu dan sedikit bermain-main. Kemudian dia mengambil memundurkan motornya beberapa langkah dan selanjutnya mengambil ancang-ancang gas yang panjang.
Motor melaju dengan cepat dan kemudian Agnes memulai aksi Track Jumping melompati kayu yang digunakan untuk menutup jalan selanjutnya.
Dion seketika reflek menutup mata dengan ulah sang istri saat mendapati dirinya seakan terbang karena ban motor itu tak menjejak aspal.
Ya ampun apa aku akan mati?
"Hei buka matamu bod*h! Kau seperti banci," ejekan dari istrinya membuat Dion membuka mata lebar-lebar.
"Kau itu seorang wanita! Bagaimana bisa melakukan atraksi seperti itu?"
Dia benar-benar menakjubkan.
Tidak ada jawaban dari Agnes kini dirinya melaju semakin cepat begitu melihat diujung ada motor yang dia cari. Sesaat mereka keluar dari gang sempit itu. Agnes menghentikan motornya, sepertinya kedua jambret itu telah menunggunya.
Dan benar saja ada sekitar lima orang preman muncul dengan senjata tajam ditangan mereka.
"Sayang...sepertinya kita akan lama disini,"
"Apa kau takut?"
"Kau mengejekku? Kau sendiri bahkan lupa kau seorang wanita!"
"Apa kau lupa siapa aku?"
"Oh baiklah istriku adalah seorang bos mafia yang terkenal. Bagaimana aku bisa melupakannya?"
__ADS_1
"Halo...Sepertinya hari ini kalian membuatku harus kembali kemasa laluku," Agnes tersenyum menyeringai.
Apa benar dia istriku? Kenapa rasanya dia seolah bukan orang yang aku kenal.