Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 452. Hamil?


__ADS_3

"Hamil?" Sabrina dan William saling berpandangan.


"Benar. Lebih baik, segera periksakan Nyonya Sabrina ke Dokter Obgyn. Karena saya hanya dokter umum saja. Kau mengerti, Wil?" Dokter Aldric memberikan pengarahan.


Sabrina dan William masih saja bungkam. Pikiran keduanya tiba-tiba kosong. William menatap Sabrina dengan kedua mata yang berkaca-kaca. Sedangkan Sabrina seperti tengah linglung.


"Baiklah, Will. Aku pergi dulu. Sepertinya kalian terlalu bahagia. Bayarnya via transfer aja deh." Dokter Aldric berlalu.


"Honey." William memanggil lembut sang istri.


Sabrina memandang wajah suaminya. Jantungnya bertalu-talu. Wanita itu masih saja tidak percaya jika dirinya tengah hamil. Ia juga sedang menanti bagaimana reaksi William.


"Kok diem? Lebih baik kita segera ke dokter yuk. Ayo! Sebentar, mana Ryu? Kenapa dia menghilang sih? Kan tadi aku udah nyuruh tunggu diluar." William gelisah. Lalu berjalan mendekati lemari dan mencari pakaian untuk Sabrina.


"Apa ini?" Sabrina menerima pakaian yang diberikan William.

__ADS_1


"Sini aku bantuin. Kita harus ke dokter cepat." William memakaikan pakaian kepada Sabrina tanpa meminta persetujuan dari sang istri.


"Honey! Ini kebalik! Rasanya aneh! Ya allah, sudah jangan panik. Kita ke dokter, iya. Tapi nggak buru-buru juga, Honey. " Sabrina menggerutu sembari mengenakan pakaian berlengan panjang. Bahkan William pergi begitu saja. "Sabar, Sabrina. Suamimu sudah aneh dari dulu."


Ryu membukakan pintu mobil untuk William. Sabrina hanya pasrah ketika William memilih menggendongnya. Jika hanya untuk berjalan, Sabrina masih memiliki tenaga. Hanya saja William terlanjur panik. Ben dan Darren juga telah bersiap dengan mobil lain yang berada di belakang mobil Ryu.


Dua pria itu juga mendadak panik lantaran William yang berlari ke sana kemari dengan Sabrina berada di gendongan. Dalam posisi seperti itu, jelas saja Darren dan Ben juga khawatir dan panik. Mengingat tugas mereka menjaga Sabrina dan William.


Bugh.


Selain Ryu, tampaknya Sabrina juga mendadak semakin pusing mendengar ocehan William. Wanita itu memijit pelipis kepala lantaran mabuk omelan dari sang suami. Padahal jelas-jelas Sabrina dalam keadaan baik-baik saja.


"Astaga! Mana rumah sakitnya? Ryu, apa kau tidak becus mencari rumah sakit hah?" William menghardik Ryu membuat Sabrina memutar bola mata kesal.


Saat Sabrina hendak membuka mulut, mobil ternyata telah memasuki pelataran rumah sakit terdekat. Mobil berhenti tepat di depan lobby rumah sakit. Saat itu juga William menarik tangan Sabrina dan kembali menggendong wanita itu dengan bridal style. Sabrina hanya bisa merutuki kelakuan William tanpa bisa mengeluarkan sepatah katapun. Terlalu menanggung rasa malu, membuat Sabrina memilih menundukkan kepala.

__ADS_1


"Hei! Tolong bantu istriku! Perawat! Dokter! Siapa saja tolong istriku!" William berteriak panik membuat beberapa perawat dan dokter tergopoh-gopoh mendekati Sabrina dan William.


"Ada apa, Tuan?" salah seorang perawat menanyai William.


Dengan sigap Sabrina telah berpindh dari gendongan William ke atas brankar ranjang pesakitan. Oh rasanya Sabrina sangat malu sekali ketika ia direbahkan di ranjang pesakitan dan didorong.


"Pak, apa keluhan istri Anda? Sus siapkan UGD sepertinya kita harus bertindak jika pasien ini memiliki penyakit dalam." Dokter memberikan perintah kepada salah satu suster sembari mendorong ranjang pesakitan Sabrina yang tentu saja dengan berlari.


"Apa? Apa? UGD apa? Istriku ini hamil. Mengapa harus masuk UGD?" Pertanyaan William membuat semua tenaga medis itu menghentikan dorongan pada brankar Sabrina.


"Maksud, Tuan?" Dokter itu kembali bertanya mewakili semuanya.


"Dengar tidak? Istriku ini hamil, saya harus membawanya ke dokter kandungan! Karena dia tidak bisa makan dan justru muntah-muntah! Kenapa pula Anda sebagai dokter malah mau membawa istri saya meunuju UGD?" William membentak semua tenaga medis yang mematung.


"Kenapa Anda tidak bilang daritadi?" Seseorang yang tadinya panik menyahut dengan nada terdengar jengkel di telinga sabrina.

__ADS_1


"Jadilah batu, Sabrina! Ini memalukan!" Sabrina memabtin seraya menangkupkan kedua tangan menutupi wajahnya.


__ADS_2