
"Sialan! Aku bahkan nggak tau kabar paman Rendy dimana. Ini sudah 3 hari dia tidak pulang kemari. Aaaarrrggghh please deh. Kenapa coba menghilang gitu aja? Atau dia saat ini tengah bersenang-senang dengan wanita lain?"
Elena mengepalkan tangannya. Rasa takut akan dibuang kembali menderanya. Sesekali gadis itu meremas jari-jemarinya yang lentik. Sekedar sedikit melepaskan kegundahan yang merasuki hatinya. Disaat itulah terdengar suara deru sebuah mobil. Secepat kilat Elena segera berlari kebawah untuk menyambut kedatangan Rendy.
"Paman!" teriak Elena dengan seulas senyum yang terbit di bibirnya. Namun sayang, senyuman itu lenyap saat mendapati ekspresi dari Rendy yang terkesan menyeramkan. Terlebih lagi, Rendy melewatinya tanpa sepatah katapun. Berikut dengan dua orang tangan kanannya. Sikap dingin dari Rendy menyisakan banyak tanya di hati Elena.
"Ada apa ini? Selama ini paman selalu bersikap baik padaku. Lalu mengapa kepulangannya ini justru sangat menyeramkan? Apakah aku harus mencari tau sendiri? Rasanya Kei dan Danar juga pasti akan membisu saat aku bertanya pada mereka. Bahkan mereka berdua sepertinya tuli."
Disisi lain, Rendy merebahkan tubuhnya diatas ranjang berukuran king size tersebut. Kedua iris hitamnya menatap langit-langit kamar. Sebenarnya Steven telah diseret ke ruang bawah tanah. Tetapi lelaki itu sedikit ragu untuk mempertemukan keduanya. Steven, lelaki ini bukan lelaki sembarangan. Dia seorang lelaki psicopath. Jika ditelusuri dari yang diceritakan oleh Elena, Stevenlah yang telah membunuh kedua orangtua angkat Elena. Tetapi jika mengingat dari motif pembunuhan itu adalah, keinginan Steven untuk bisa bersama Elenalah yang membuatnya marah. Membunuh orangtua kandungnya hanya untuk bisa bersama dengan adik angkatnya sendiri. Benar-benar tak memiliki hati nurani.
"Jalan takdir macam apa yang harus dilewati oleh Elena selama ini? Sial! Rasanya aku ingin membunuhnya dengan kedua tanganku sendiri." Dengus Rendy dengan kesal. Nafasnya tak beraturan menahan emosi yang kian membuncah di hatinya.
Tok tok tok. Terdengar pintu diketuk. Rendy dapat meyakini jika itu adalah Elena. Lelaki itu mendesah gelisah. Seperkian detik berikutnya menghela nafas yang panjang sebelum akhirnya memberikan izin untuk masuk.
"Masuk."
__ADS_1
Ceklek. Elena menampakkan hidungnya. Dengan sedikit takut-takut, Elena masuk ke dalam kamar. Meskipun Rendy tak mengatakan apapun tetapi dirinya merasa jika Rendy sedang gelisah. Elena menerbitkan senyumnya. Membuat Rendy mau tak mau melebur semua emosi yang membuncah di hatinya. Senyum polos dari Elena mengalahkan amarah yang tadi meluap-luap.
"Elena Kemarilah," ucap Rendy yang akhirnya membuka suaranya.
"Ada apa, Paman?" tanya Elena penasaran. Gadis itu mendekati Rendy.
"Pertama, apa yang aku katakan kemarin? Bukankah aku sudah mengatakan untukmu jika kau harus memanggil namaku?" tanya Rendy.
"Oke Re-Rendy," panggil lirih Elena.
"Mulai sekarang biasakan hal itu. Kedua, aku mempunyai kejutan untukmu."
"Tapi sebelum itu, aku ingin tau. Bagaimana perasaanmu padaku?" tanya Rendy dengan nada yang parau.
Deg. Entah bagaimana tetapi detak jantung Elena berdetak kencang. Perasaan yang aneh mulai memonopoli hati Elena. Apa maksud dari pertanyaan itu? Batin Elena menggelora.
__ADS_1
"Perasaanku?"
"Kita sudah berbulan-bulan bersama, bagaimana perasaanmu padaku? Apa kau mencintaiku?" tanya Rendy dengan perasaan yang kalut.
"A-ku tidak tau!"
"Apa kau mencintaiku?" desak Rendy.
"Rendy!"
"Sepertinya aku sudah tau jawabannya. Kau mencintaiku bukan?"
"A-Aku tidak tau bagaimana perasaanku sendiri. Tetapi ada perasaan aneh yang saat ini aku rasakan," jawab Elena dengan ragu-ragu.
"Baiklah, aku mengerti jawabanmu. Kedua, kejutanku adalah ... Aku telah menemukan Steven." Kata-kata dari Rendy seketika membuat kedua mata Elena melebar. Gadis itu mengeratkan lehernya.
__ADS_1
"Katakan! Dimana dia?" tanya Elena dengan emosi yang meluap-luap.
Sungguh reaksi yang diluar dugaan. Emosinya benar-benar merubahnya menjadi lebih dingin.