
Mereka semua yang kelelahan itupun segera merenggangkan otot-otot mereka. Mereka dengan setia menunggu Rianna sadar untuk kembali menampakkan senyumnya kembali.
"Mas, kenapa tadi ponselnya nggak aktif? Tadi aku mau minta izin buat pulang," ujar Monica sembari mendudukkan bokongnya disofa, disamping Kevin. Namun, laki-laki itu malah mencebik.
"Mas Kevin marah? Aku pulang juga cuma mau ambil baju aja kok. Nanti aku kembali kesini lagi. Sekarang kan sudah aman, jadi aku boleh pulang kan ambil baju?"
"Huh,"
"Kenapa sih kamu mas?" Monica menggelengkan kepalanya. Sudah terlampau bingung dengan sikap Kevin yang kekanakan. Memangnya apa salahnya? Justru seharusnya dia yang marah karena ponsel Kevin tidak aktif. "Jangan kekanakan begitulah mas!"
"Auw sakit, sakit sayang, sakit. Lepasin," Kevin mengaduh lantaran Monica mencubit perutnya.
"Mas Kevin itu keterlaluan! Aku yang seharusnya marah! Bukan mas Kevin,"
"Kenapa kamu harus marah?"
"Kenapa ponsel kamu nggak aktif?" menyilangkan kedua tangannya didadanya. Monica benar-benar kesal, sifat Kevin yang kekanakan.
"Ponselku ancur," jawab Kevin singkat.
"Ancur?" Kevin pun menganggukkan kepalanya.
"Kok bisa?" baiklah firasat Kevin mulai tak enak. Sepertinya Monica akan bertanya hingga akarnya. Tak mungkin Kevin akan menjawab jujur. Masa iya menjawab aku banting. Bisa-bisa Monica akan bertanya hingga ke akarnya. Ditambah lagi, Kevin kemungkinan besar akan ditertawakan jika mengatakan yang sejujurnya. Kalian faham kan sifat Monica yang terlalu blak-blakan? Mungkin Monica akan menertawakan kecerobohan Kevin dengan kerasnya.
"Iya tadi aku bawa ponsel yang nyerang markas mereka. Mungkin aja pas tadi jatuh,"
__ADS_1
Maaf sayang aku takut kamu akan bertanya Ampe akar-akarnya. Bisa-bisa kamu ngetawain aku.
"Hah ... yaudah deh kalau gitu mas. Aku boleh pulang nggak nih? Ambil baju,"
"Nggak usah ini udah jam sembilan malam. Biar nanti dibawain aja sama Ardan dan Ani. Mereka akan kemari lagi setelah membeli roti buaya,"
"Hah?" Monica melongo. Roti buaya? Jam segini? Nyari dimana aja juga susah.
"Bener yang dikatakan nak Kevin. Disini saja kita tunggu Riana sadar. Kamu kan bagian dari kami. Jadi nggak usah sungkan nak," Gretha yang sedari diam kini ikut bicara. Sedangkan Nico, dia sibuk dengan laptopnya. Rasa penasarannya terhadap hubungan Smith dan almh. Rosita seakan membubung tinggi dipikirannya. Dia tak habis pikir, jika adik iparnya ternyata memiliki anak hasil diluar nikah. Terlebih lagi, anak hasil diluar nikah tersebut adalah Rianna. Anak angkatnya sendiri.
Seakan takdir mempertemukan mereka di situasi genting. Mungkin jika Smith tak mengetahui Rianna anaknya. Korban dari bentrok keluarga Wijaya akan bertambah. Mengingat Smith adalah orang yang kejam.
Nico ingat, dulu Smith tak seperti ini. Smith adalah sosok laki-laki yang tegas dan tergolong orang jenius. Entah kenapa saat pembagian warisan Smith seakan tertutup mata hatinya. Ia ingin mendapatkan bagian harta yang lebih banyak. Padahal Gretha dan dirinya tak pernah mengambil apapun dari keluarga besar Philip (keluarga kandung dari Gretha.
"Pak Surya yang cepet dong,"
"Mas sudahlah, nanti kita cari sembari pelan-pelan mas. Pasti ketemu, ini kan sudah malam banget mas,"
"Apanya? Aku takut anakku ileran. Lanjutkan lah pak,"
"Baik tuan,"
Mobil berhenti, Ardan dan Ani memandang keadaan sekitar. Memandang letih kami bertiga. "Ada apa?"
"Bukan apa-apa kok,"
__ADS_1
Kini mereka telah sampai dirumah seorang pemilik toko roti.
"Bener ini alamatnya?" tanya Ardan. Ani mengangguk.
Ani mengetuk pintu secara perlahan. Kemudian, selang beberapa lama seseorang membukakan pintu. Terlihat seorang ibu-ibu paruh baya muncul diambang pintu.
"Ada apa ya? Toko sudah tutup. Bila ingin memesan roti besok saja ditoko. Ini sudah malam,"
"Oh hei!.tolonglah Bu," Sebenarnya Ani tidak tega.
"Tapi saya sudah tutup nak,"
"Bu tolonglah Bu. Saya lagi hamil Bu. Suami saya ngidam. Kalau tidak dituruti nanti saya yang akan susah," Ani meremas ujung dressnya. Perasaan takut dan was-was menyelimuti hatinya.
"Kamu hamil?"
"Iya Bu,"
"Tenang saja Bu kami akan membayar dengan harga tinggi," dasar Ardan saat seperti ini saja dia masih menyombongkan uangnya.
"Tidak usah. Bayar sesuai harga yang semestinya saja. Memangnya kalian mau membeli kue apa?" kini suaranya sudah turun satu oktaf.
"Kue buaya Bu tapi minta yang paling besar. Yang bisa dipeluk gitu. Seperti boneka lah minimal besarnya," tandas Ardan mengatakan keinginannya.
"Hah?"
__ADS_1