
Rendy kemudian menarik tangan Elena. Agar gadis itu mengikuti langkahnya menuju restaurant didepan mereka. Elena melingkarkan tangannya dilengan Rendy. Begitu juga dengan Kei yang senantiasa berada dibelakang Rendy. Kesetiaan Kei memang tak lagi diragukan.
"Good night Mr and Mrs Rendy. Anda sudah ditunggu kedatangannya. Tuan Oxley beserta Tuan Pyordova sudah menunggu anda didalam. Mari kami antarkan keruang VIP." Salah seorang pelayan di restaurant itu menyambut kedatangan Rendy.
"Sepertinya tempat ini sepi Paman? Apa kita tidak salah tempat?" tanya Elena.
Hening melenggang. Seperti biasanya Rendy membisu. Elena memutar kedua bola matanya kesal. Ini bukan untuk pertama kalinya dia mendapati sikap Rendy yang menyebalkan. Dia sudah hafal betul dengan sikap lelaki yang ada disampingnya itu. Kini mereka semua telah sampailah disuatu ruangan. Dimana disana sudah ada Leo teman baru Rendy yang berakhlak sempit bersama istrinya. Lalu seorang lelaki tampan duduk dengan elegantnya.
"Selamat malam," sapa Rendy keada mereka semua yang ada diruangan tersebut. Membuat mereka semua menoleh. Hingga kedua netra hitam milik Rendy menangkap keadaan Leo. "Kau sedang sakit?"
"Brengsek! Kenapa kau membuat keributan diluar hah?" tanya Leo dengan nada yang kesal.
"Maaf ... Hanya sedikit memberikan pelajaran. Kei ... Carilah tempat lain. Aku tidak apa-apa," ucap Rendy dengan tersenyum.
__ADS_1
"Baik Tuan muda." Kei menunduk kemudian pergi meninggalkan Rendy. Kedua netra Kei melirik kearah teman-teman Rendy. Seakan menyiratkan akan menyelidiki apapun yang bersangkutan dengan tuan mudanya.
"Tenanglah Kei," kata Rendy tanpa menoleh sedikitpun. Kata-kata Rendy pada akhirnya diangguki oleh Kei. Pada akhirnya Kei benar-benar meninggalkan ruangan tersebut. "Perkenalkan ... Dia Elena pasanganku."
"Waah akhirnya aku memiliki teman abru yang cewek. Halo aku Shena," kata Shena istri dari Leo. Wanita itu menjabat tangan Elena. Elenapun menyambut uluran tangan dari Shena.
"Senang bertemu denganmu. Elena." Kemudian Elena hendak menjabat tangan lelaki yang duduk dengan angkuhnya. Namun secepat kilat sebuah tangan menepisnya kasar hingga membuat Elena meringis.
"Jangan macam-macam. Simpan tanganmu," bisik Rendy dengan kesal. "Ngomong-ngomong kau belum menjawab pertanyaanku. Apa kau sedang tidak.enak badan?" tanya Rendy pada Leo.
"Sayang ... Tenanglah. Aku yakin Tuan Rendy pasti memiliki alasan yang kuat untuk itu. Benar kan Tuan Rendy?" tanya Shena dengan lembut.
"Hem. Aku paling tidak suka jika ada yang mencoba untuk menyentuh milikku," ucap Rendy sembari mencium punggung tangan milik Elena. Membuat mereka semua terkesiap kaget.
__ADS_1
"Wah wah wah. Kau sesialan itu rupanya! Aku mual karena melihat darah muncrat dan kau baru beberapa detik sampai disini malah memamerkan kemesraanmu bersama kekasihmu hah?" sindir Leo kesal.
"Ngomong-ngomong anda belum memperkenalkan diri anda Tuan?" tanya Rendy pada lelaki yang duduk dengan angkuh itu. Mengabaikan Leo yang sedang bersungut-sungut kesal.
"Reza ... ," kata lelaki angkuh itu memperkenalkan diri. Namun kedua iris matanya menatap tajam kearah sosok Elena. Rendypun menjabat uluran tangan dari Reza.
"Rendy Wijaya." Kata Rendy dengan kedua netranya melirik kearah tatapan Reza yang menatap tajam Elena.
Apa ada sesuatu yang telah aku lewatkan? Mengapa Reza menatap tajam Elena? tanya Rendy dalam hati.
Sialan! Kenapa lelaki ini menatapku seperti itu? Apa dia menyadari siapa aku? Elena membatin.
"Ada apa Tuan? Apa anda mengenal saya?" tanya Elena.
__ADS_1
"Heh." Reza tersenyum sinis. "Bagaimana menurutmu? Apa kau sangat takut jika ada yang mengetahui sisi lain darimu?" tanya Reza dengan senyum menyeringai.
"Kau ...."