
Plaaakkk
Sebuah tamparan keras mendarat dipipi mulusnya yang sudah terlebih dahulu dibanjiri oleh air mata. Di kejauhan Rianna hanya memandangnya dengan raut wajah yang sulit diartikan. Dirinya hanya mematung dan membisu sembari melihat apa yang akan dilakukan keduanya. Kedua matanya menatap tajam dua orang yang sepertinya saling berselisih itu. Seakan enggan untuk menghampiri keduanya. Rianna sebentar-sebentar melirik angka di jarum jam dinding. Jarum tersebut kini mengarah ke angka 6, tentunya masih ada waktu untuk bersiap-siap. Karena dia dan papanya harus menghadiri pesta pernikahan Kevin dan Monica.
"Jangan bercanda denganku!" terlihat dada Smith naik turun mendengar apa yang dilontarkan oleh seorang wanita muda.
"Aku tidak bercanda. Anda lihatlah tuan, ini adalah hasil pemeriksaan dari sebuah rumah sakit besar dikota ini. Aku tidak mungkin memalsukannya tuan. Aku tidak punya uang," menundukkan kepalanya takut-takut. Jangan tanyakan lagi bagaimana penampilannya kini. Dia tak lagi bisa mengenakan pakaian mewah. Tak bisa bepergian ke salon atau mall di kota J. Karena memang dirinya kini seakan menjadi seorang tunawisma bersama papa dan mamanya.
Smith mengambil sebuah amplop putih dengan nama sebuah rumah sakit besar di kota J. Dengan cepat dia merobek ujung amplop putih tersebut dan kemudian membacanya. Kedua matanya langsung melebar begitu mengetahui isi dari amplop tersebut.
"Apa kau yakin itu anakku?" kini menatap tajam seorang wanita muda dihadapannya. Wanita itu mengangguk tanpa ingin mengeluarkan suaranya. "Hahaha kau yakin dia anakku?"
__ADS_1
Pertanyaan Smith membuat wanita muda itu segera mendongakkan kepalanya. Menatapnya tak percaya kepada laki-laki yang rambutnya sudah mulai tampak memutih. Sedangkan Rianna terkesiap kaget hingga menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.
Anak papa? Siapa wanita itu? Rianna gelisah. Meremas-remas ujung kain dress miliknya. Melirik takut-takut reaksi papanya selanjutnya.
"Apa kau bercanda? Kau wanita jala*g! Bagaimana mungkin aku bisa percaya begitu saja denganmu?"
"Aku mengatakan yang sebenarnya tuan. Aku tak berbohong. Anda bisa mengecek keasliannya di rumah sakit," menundukkan kepalanya kembali. Menatap kedua kaki miliknya yang sudah banyak goresan luka di sana-sininya.
"Bagaimana mungkin hah?!" meraih ujung rambut miliknya yang dia kuncir kuda. Wanita muda itu meringis kesakitan. "Jawab."
"Gugurkan," melepaskan tarikan di rambut wanita itu.
__ADS_1
"Tidak tuan ini anak anda!" seru wanita muda itu.
"Aku bilang gugurkan! Aku juga tidak tau apa yang terjadi denganmu di markas besar milikku. Aku juga tak menjamin kau tidak disentuh para anggota mafiaku," tersenyum meremehkan.
"Tidak tuan. Mereka tidak berani menyentuhku karena mereka tau jika aku wanitaku tuan," air mata seakan deras membanjiri wajahnya.
"Aku bilang gugurkan kandunganmu Intan!" teriakan Smith kembali membuat Rianna dan gadis itu menoleh.
"Tuan aku mohon. Tanggung jawab tuan terhadap bayi ini bagaimana?"
"Aku bilang gugurkan!" suara Smith kini bahkan lebih nyaring dan penuh tekanan. Membuat wanita muda itu semakin dilanda ketakutan.
__ADS_1
"Aku bilang gugurkan Intan!" teriakan Smith memenuhi ruangan. Saat hendak mengayunkan tangannya untuk memberikan tamparan keras kembali, justru hal itu membuat Rianna menahan tangannya.
"Papa ... ingatlah pa. Jika aku juga terlahir dari," sebuah kesalahan. Benar dialah Intan, mantan dari Smith.