Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 318. Pertarungan


__ADS_3

Danar termenung. Pria itu menatap Sabrina, dengan tajam. Raut wajah Sabrina, tidak bisa diartikan. Entah sejak kapan, Sabrina menjelma menjadi kandidat ketua mafia. Tetapi dengan tatapan ini saja, Danar meyakini satu hal. Pandangan Rendy terhadap Sabrina, benar-benar tepat sasaran.


Jika dibandingkan dengan anak pertama Rendy, Sabrina cenderung mewarisi kengerian antara Rendy dan Elena. Sedangkan anak pertama mereka, lebih cenderung memakai IQnya yang di atas rata-ta. (Nanti akan dijelaskan perlahan. Ikuti alurnya. Karena ketiga anak Rendy dan Elena, memiliki rahasia besar di baliknya. Ikuti terus ya)


Ingatan Danar menerawang. Steward, anak pertama Elena dan Rendy. Memiliki kepintaran, di atas rata-rata. Disusul si bungsu, Amelia. Sekalipun Rendy dan Elena, Danar yang paling paham dengan karakteristik ketiga anak tersebut. Karena ketiga anak mereka, Danar yang memberikan pelatihan ilmu beladiri. Hanya saja, Danar tidak mengetahui seberapa jauh mereka memiliki kemampuan beladiri campuran.


"Nona Muda, sedang marah?" tanya Danar dengan wajah datar.


Sabrina memutar kedua bola matanya kesal. "Aku tidak marah. Hanya saja, aku kesal pada Paman Danar," ungkap Sabrina.


Apa bedanya? Danar membatin, seraya dahinya mengerut. Sabrina, benar-benar sesuatu!

__ADS_1


"Baiklah. Ayo," ajak Danar.


Mereka lalu berjalan menuju gymnasium. Gedung yang memiliki arena bertarung. Danar lalu memanggil beberapa calon pasukan, yang memiliki kemampuan terbaik. Ada 7 orang, yang saat ini berada di samping Danar.


"Nona Muda. Mohon diingat. Jika latihan ini, Anda sepatutnya berhati-hati." Bukan tanpa alasan, Danar memperingati Sabrina. Pria itu cukup memahami, para bawahannya.


"Baiklah. Kalian maju satu persatu. Bertarunglah dengan adil. Jangan mengalah. Jika kalian mengalah, maka aku yang akan turun tangan mendepak kalian dari sini. Apa kalian paham?" Kalimat penuh penekanan, keluar dari bibir Danar. Sedangkan para bawahannya, mengangguk tanda setuju.


Sabrina memasuki area pertarungan. Disusul salah satu orang, yang memiliki urutan paling akhir. Sabrina tak perduli. Baginya, ia sudah sangat kesal.


Sabrina memundurkan tubuhnya, lalu berlari melesat menembus angin. Tepat di depan pria itu, Sabrina melayangkan sebuah tendangan. Jika saja pria itu tak menghindar, sudah pasti tendangan mematikan dari Sabrina membuat kepalanya pening.

__ADS_1


Pria itu lalu memegang satu kaki Sabrina yang menendang. Dengan gesit, Sabrina memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan dari kaki yang satunya. Si pria yang tidak menyangka Sabrina membuat kedua kakinya tidak menjejak lantai, benar-benar terkena tendangan taekondow dengan kakinya yang bebas. Pria itu tersungkur di lantai. Kini, Sabrina bisa menjejakkan kedua kakinya di lantai.


Sorak penonton terdengar. Tidak menyangka seorang gadis bisa, melakukan tendangan taekondow meski salah satunya dikunci.


"Lukman! Masa kau kalah sama cewek."


"Ayo, Lukman. Jangan malu-maluin."


"Wah. Hebat. Baru nemu ini, cewek tahan banting."


Begitulah mereka membuat pria bernama Lukman ini, semakin dilanda rasa malu. Benar. Hanya seorang gadis saja, masa iya dirinya kalah? Batin Lukman.

__ADS_1


Sabrina dan Lukman, kembali mengambil ancang-ancang. Keduanya lalu sama-sama melesat menembus angin. Sepertinya, Lukman semakin waspada. Keduanya bertarung dengan sengit. Saling melemparkan tinjuan ataupun tendangan. Diselingi, sesekali menghindar.


Suasana di arena pertandingan, begitu tegang dan mencekam. Pasalnya, tatapan Sabrina begitu datar. Tidak menampakkan ekspresi sama sekali. Lagi, Lukman berjongkok dan menjulurkan kakinya. Bermaksud menjegal Sabrina. Gadis dengan tubuh yang mungil itu, meloncat ke udara. Bersalto ria, kemudian memberikan tendangan Taekondow tepat di wajah Lukman. Sabrina mendarat cantik di lantai. Sedangkan Lukman, terlempar hingga keluar arena.


__ADS_2