Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 311. Perjanjian


__ADS_3

sebelum baca isi babnya, silahkan mampir disini ya teman2. novel baru. ini ngetiknya kelonjotan loh. dikejar editor. nggak akan bisa bolong update😂😂



Sabrina menatap sendu ke arah Rendy. Entah mengapa ia tiba-tiba dipanggil oleh papanya. Rendy menatap nyalang pada anak gadisnya itu. Begitu membenci dan yaahhh entah apa yang akan terjadi.


"Kau tau bagaimana ulahmu?" tanya Rendy dengan suara yang serak dan emosi yang tertahan.


"Aku berulah? Memang apa yang aku lakukan?" tanya Sabrina bingung. Ia sebenarnya paham kearah mana papanya berbicara.


"Sabrina ayolah. Kau anakku satu-satunya yang paling berulah sejak dulu! Sejak kecil, berapa kali kau merugikanku? Kau meledakkan satu gudang persenjataanku. Aku tau waktu itu kau penasaran. Tapi apa akhir dari rasa penasaranmu? Kau membuatku rugi milyaran! Sekarang aku tanya, apa maksudmu dari melumpuhkan total perusahaan William?" rahang Rendy mengeras. Ia begitu susah payah untuk menahan emosinya.


Sabrina menghela nafas. "Itu salah William Papa. Dia menolak cintaku. Apa salah aku memberinya sedikit pelajaran?"


"Kau benar-benar! Bagaimana kau bisa seperti ini? Kau sangat mirip aku dan Elena!"


"Papa tau itu," jawab Sabrina singkat.


"Kau yakin dengan perasaanmu?" tanya Rendy penuh penekanan.


"Papa tau, aku tidak suka main-main." Sabrina menegaskan kembali bagaimana hatinya. Hatinya tidak akan sembarang untuk memilih sebagai tuannya.


"Baiklah, Kei. Berikan padanya!" Setelah mengatakan hal itu, Kei bergerak sesuai perintah dari Rendy. Menyerahkan sebuah map coklat pada Sabrina.


"Apa ini?" tanya Sabrina. Dengan cepat ia segera membukanya. Sejenak Sabrina mendengus. "Papa menyuruhku melakukannya? Mama tidak tau? Ho, apa untungnya untukku? Wait, aku butuh dukungan Papa. Butuh restu Papa. Jadi, apa Papa merestuiku?"


"Aku akan membuat kau menikah dengannya cepat atau lambat. Hanya sebuah pertukaran. Aku membantumu mendapatkan William, kau melakukan hal yang kuinginkan!" seringai licik terbit di bibir Rendy.

__ADS_1


"Sial. Aku masuk dalam perangkap?" tanya Sabrina ambigu.


"Tentu. Kau tau Sabrina. Hanya kau yang menurutku paling cocok untuk menggantikanku."


"Dan aku tidak menyukainya. Aku hanya mengagumi mama." Sabrina mengelak. Artinya ia terjebak oleh papanya sendiri?


"Ayolah Sabrina. Jangan sia-siakan apa yang telah kau lakukan. Ingat, kau sudah menghancurkan William. Masa depan temanmu, dan entahlah."


"Papa mengancam? Ngomong-ngomong aku juga bisa melakukannya juga pada perusahaan Papa," timpal Sabrina.


"Oh, kalau begitu rekaman pembicaraan ini aku bisa menyerahkan pada William. Mungkin cepat atau lambat akan berbuah manis." Sekali lagi seringai muncul di bibir Rendy. Sabrina, dari keempat anaknya hanya dia yang mendekati kesempurnaan sebagai calon penerusnya.


"Papa!" Jerit Sabrina. Dengan cepat ia segera menandatangani lembaran dokumen perjanjian gilanya dengan sang papa. Rendy tersenyum penuh kemenangan. "Tepati perjanjian ini. Jika Papa melanggar, atau mengingkarinya lihat saja bagaimana aku menyerang balik. Bukan hanya satu gudang, tapi aku bisa meratakannya sendiri dengan kedua tanganku. Ingat Pa, untuk melakukan hal besar Papa membutuhkan orang lain. Tapi itu tidak berlaku untukku."


Sabrina meninggalkan Rendy di ruangan bawah tanah itu. Menerima perjanjian gila agar ia juga bisa mendapatkan cintanya. Cinta yang begitu besar namun salah. Tetapi untuk Sabrina, ia akan membenarkan hal itu. Karena baginya yang baru jatuh cinta, tentu tak akan melihat bagaimana cara mendapatkan cinta itu.


"Aku sudah menduganya. Kau tau Kei, aku sudah menunggu begitu lama untuk hal ini. Kalau begitu, aku harus mengabari papa Ardan jika Sabrina akan menjadi penerusnya kelak. Kau tau Kei. Bagaimana kemampuan Sabrina bukan? Bergerak halus namun mengerikan. Hah, kasihan kau William. Kenapa Sabrina memilihmu? Dan aku bahkan juga akan memanfaatkanmu. Takdir menggelikan." Seringai Rendy.


William melorot. Kini ia benar-benar jatuh dan semua yang dimilikinya tak bersisa sedikitpun. William mengusap wajahnya kasar. Sesekali lelaki itu menarik rambutnya. Nafasnya pun tidak beraturan. Artur menatapnya lekat. Ya, William sungguh berantakan. Ia bahkan tak perduli dimana dirinya berada. Seakan ia benar-benar dalam keterpurukannya.


"Ayah," panggil lirih Artur. Sungguh hatinya begitu sakit melihat kondisi ayahnya kini.


"Artur, maaf. Ayah tak bisa menyelamatkan perusahaan yang aku rintis bersama bundamu. Satu-satunya peninggalan bundamu untuk masa depanmu. Ayah hancur Artur. Begitu pula dengan masa depanmu. Ayah telah gagal menjadi ayah yang baik untukmu, Nak."


"Ayah, dengar. Aku masih bisa membangun masa depanku. Kita masih bisa hidup, Ayah. Aku rasa kita hanya perlu mencari pekerjaan baru untuk Ayah," ujar Artur.


"Nak, bagaimana ayah harus membayar gaji karyawan ayah? Kita harus menjual rumah dan mobil kita. Kita tidak punya apapun lagi, Nak. Kau tau kan, seberapa banyak karyawan ayah di kantor?" tanya William dengan suara paraunya. Artur memejamkan kedua matanya.

__ADS_1


"Tuan, ada yang mencari anda," sela Ryu dengan wajah yang serius. Membuat Artur dan William menoleh dengan cepat. Detik berikutnya keduanya saling berpandangan. "Tuan Rendy."


Secepat kilat William bangkit berdiri. Ia segera melesat dengan cepat mencari sosok Rendy. Benar saja, Rendy datang dengan wajah seriusnya. Dibelakangnya ada Kei dan juga Danar. Ia menautkan kedua alisnya. Seakan bingung dengan ekspresi Rendy.


"Aku tidak salahkan, sahammu benar-benar merosot jatuh?" tanya Rendy mencoba meyakinkan ketidaktahuannya.


"Tidak ada lagi yang tersisa." William tersenyum miris. Sebenarnya ia cukup penasaran. Karena Rendy begitu misterius untuknya. Terlebih ia selalu menyembunyikan sisi lain yang tidak pernah ia ungkapkan.


"Begitu." Rendy terdiam. Detik berikutnya Artur dan Ryu sudah menyusul William yang saat ini tengah berdiri mematung dalam keheningan. Dihadapannya, ada Rendy yang dibelakangnya seakan ada dua algojo yang siap menerima perintah. "Aku memiliki sebuah penawaran untukmu. Itupun jika kau mau."


"Ada apa?" tanya William dengan rasa takut yang mulai menjalari hatinya. Seakan ia melihat sisi gelap Rendy Saputra Wijaya. Begitu pula dengan Artur. Ia meneguk salivanya ketika merasakan aura mengerikan di dalam ruangan itu. Sedangkan Ryu, sejak awal sudah merasakan atmosfer yang berbeda di ruangan ini.


"Nikahi Sabrina dalam waktu 2 minggu lagi. Aku akan membantumu membayar gaji karyawanmu dan juga menyelamatkan perusahaanmu. Bagaimana?" tawar Rendy dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. Seketika Artur dan William terlojak kaget.


"Apa? Rendy kamu jangan gila! Sabrina itu masih sekolah. Kau tau itu kan?" William mendesis. Apa Sabrina mengadu pada Rendy? Sehingga hal ini bisa terjadi?


"Aku tidak gila. Aku sedang memberikan penawaran terbaik. Kau harus paham kondisimu. Terlebih, perusahaan itu juga meraih masa emasnya karena campur tangan istrimu bukan?" Rendy memberikan penekanan yang luar biasa. Ekspresi datarnya masih tergambar jelas di wajahnya.


"Rendy, perusahaanku sudah tidak tertolong. Lagipula Sabrina apa mungkin mau hidup bersamaku? Kau tau statusku kan? Terlebih lagi, bukankah anak pertamamu juga belum menikah bukan?" William mencoba menguasai hatinya. Ia menahan amarah karena ia yakin Sabrina yang membuat Rendy bersikap mendiskriminasi seperti ini padanya.


"Jika kau menerima tawaranku, aku akan menikahkan berbarengan dengan Steward yang akan menikah. Sabrina tidak mengetahui hal ini. Kau tau Steward kan? Dia tertarik dengan dunia kedokteran. Aku sedang bingung siapa yang akan menjadi penerusku, William. Aku tidak punya pilihan lain kecuali harus mendesak Sabrina juga kan? Anakku yang lainnya masih belum kompeten karena umur mereka yang lebih muda dari Sabrina." Bukankah Rendy sedang jujur? Ya, Sabrina juga terdesak untuk menikah dengan William karena Rendy membutuhkan penerusnya. Tidak munafik tetapi Rendy tetap saja salah. Karena ia telah berbohong tentang Sabrina yang tidak mengetahui tawaran gila ini.


"Anda juga memaksa Sabrina?" kali ini Artur angkat bicara. Membuat mereka semua menoleh ke arah Artur. Menampakkan wajah kebingungan mereka. "Bukankah Sabrina masih sekolah? Bagaimana mungkin dia harus menerimanya?" Ada rasakit menelusup hatinya. Entahlah ia tidak mengerti. Tetapi sesuatu yang dipaksakan bukankah tidak baik? Terlebih Sabrina telah banyak membantunya.


"Kenapa? Dia juga tak akan memiliki kemampuan untuk menolak. Status penerus keluarga Wijaya harus disandangnya. Aku tidak mungkin memaksa Steward yang sudah memiliki kemampuan untuk memberontak bukan? Sedangkan Sabrina, ia hanya perlu mengikuti takdir. Tidak salah bukan? Ingat William, seberapa besar perjuanganmu dulu bersama istrimu yang ketika itu masih hamil besar. Dan juga ingat seberapa besar dana yang kau butuhkan. Karena data perusahaanmu itu telah dicuri sehingga membuat harga sahammu benar-benar tidak bisa tertolong. Aku beri waktu tiga hari. Pikirkan baik-baik. Aku juga akan mengatakan hal ini pada Sabrina. Dan aku yakin ia tidak akan menolak karena kakeknya yang memintanya!" Rendy sekali lagi memberikan penekanan yang luar biasa.


Kemudian ia bangkit meninggalkan William dengan sejuta rasa yang berkecamuk di hatinya. Disisi lain, Artur yang merasakan sedikit nyeri di hatinya hanya menghela nafasnya kasar. Sabrina. Apa yang akan dia lakukan selanjutnya? Bukankah ia masih begitu muda?

__ADS_1


__ADS_2