
"Kau?" Agnes menautkan kedua alisnya.
"Hemm...ini gue !!! Kenapa? Gak terima gue disini?"
"Kenapa tuan Dion kemari? Lalu mana Rianna dan Michkael?"
"Loe gak usah khawatir mereka udah aman," ucap laki-laki yang kini berdiri didepan Agnes itu dengan santainya. Ya....benar dialah Dion.
"Huh.....syukurlah," Agnes memegang dadanya. Dia benar-benar lega karena mereka semua selamat.
"Sekarang yang terakhir," kata-kata itu keluar dari mulutnya begitu saja.
"Hah? Apa?"
Dion tak menjawab namun tiba-tiba letupan keras terdengar memekikkan telinga mereka. Bersamaan dengan gudang kosong yang kini telah hancur.
Benar dialah Dion Leonardo yang terkenal dengan sangat misterius. Tak pernah mengotori tangannya. Karena semua ada yang menjalankan perintahnya. Namun jangan salah, disinilah Dion satu-satunya yang hampir tak memiliki hati nurani. Seperti yang ada didepan mereka. Gedung itu telah hancur tanpa aba-aba lagi.
"Kedua sniper itu sudah mati. Ayo pergi kerumah sakit," Dion menarik lengan Agnes. Benar sekali tembakan beruntun tadi berasal dari tangan kanannya Dion. Dalam hal apapun Dion memang tak pernah turun tangan.
"Tuan Dion aku bisa berdiri sendiri. Anda tak perlu khawatir," Agnes berusaha melepaskan pegangan tangan Dion di lengannya.
"Diam !! Apa loe mau gue tinggal disini? Gila ya apa salah dan dosa gue coba punya calon istri begini amat bar-barnya (maap ye tuan Dion ntu tadi ape ye? anda ngebom gudang ntu dalam sekali perintah)😒,"
"Ca ...calon istri?" tanya Agnes.
__ADS_1
"Iya !! Apa lagi masa calon pembokat yang bener aja loe?"
"Ma....maksud anda?"
Brengse** apa dia calon suamiku yang dibilang papa? ah mana fotonya aku buang lagi saking keselnya.
"Berisik !!" segera saja Dion membopong tubuh gadis itu karna dari tadi pertanyaan-pertanyaannya benar-benar membuatnya jengkel.
"Hei !!! Lepasin gue nggak?!" teriakan Agnes tak didengarnya yang pasti dia harus segera membawa gadis yang baru saja dia ketahui sebagai calon istrinya itu kerumah sakit.
💞💞💞
Sebelum Dion pergi menyelamatkan Agnes dia terlebih dahulu bertemu dengan Anggara. Ya ... calon papa mertuanya.
"Tolong nak selamatkan putriku," suara serak itu membuyarkan konsentrasinya.
"Aku disuruh Ardan nyelametin Rianna dan pembantunya Ardan om. Mungkin aja putri om nyelip dimana gitu bukan ikutan diculik,"
"Dion !!!" teriak Leon. Dasar anak bengal !!
"Pembantu Ardan? Maksudmu Agnes kan?" tanya Bastian memastikan.
"Loh iya om. Kok om tau?"
"Dia itu Agnes satu-satunya pewaris keluarga Anggara !! Calon istri kamu Yon !!" teriak Leon. Tak terima jika calon menantunya dibilang pembantu.
__ADS_1
"Hah?"
"Iya Yon. Tolongin om ya. Anak itu emang bar-bar. Tapi dia baik. Dia cuma pengen punya temen aja. Karena....."
"Sudah Bastian jangan dipikirin lagi,"
"Tapi Leon ini salahku. Dia seharusnya belajar memasak berdandan shopping dan perawatan atau apalah itu. Tapi aku malah mendidiknya dengan sangat keras. Kucuci otaknya dengan berbagai jenis senjata dan bela diri. Hanya gara-gara aku mengetahui Fiona tak lagi bisa mengandung. Hingga membuatku putus asa untuk pewaris perusahaan Anggara. Agnes bahkan tak pernah dekat dengan laki-laki siapapun itu,"
"Hei Bastian sudahlah gadis seperti itulah yang bisa dan pantas menjadi menantuku. Gadis yang tangguh nantinya. Sudah jangan menyesal. Kau sudah mengizinkan dia berkelana itu juga termasuk kamu sudah memberinya kebebasan," Leon berusaha menenangkan Bastian yang tengah menyesal karena didikannya yang terlalu keras. Tapi semua itu wajar saja mengingat perusahaan Anggara yang besar.
"Iya aku itu. Tapi rasanya..... Nak Dion tolong bawa putriku pulang ya. Dia calon istrimu. Bisakah kau membawanya kepadaku?" pinta Bastian. Bahkan lelaki yang sudah nampak ubannya itu pun segera merosot berlutut dibawah kaki Dion.
Seketika membuat Dion terkejut dari lamunannya tentang sosok Agnes. Yang dia yakini bukan dari keluarga biasa.
"Loh om....jangan begini. Iya nanti aku akan selametin dia dan bujuk dia buat pulang," kata Dion.
"Benarkah?" mata itu berkaca-kaca.
"I...iya tentu saja,"
"Apa kau juga akan menerimanya sebagai calon istrimu?" tatapnya penuh harap. Dia tidak akan berdiri sebelum Dion calon menantunya itu mengiyakan permintaannya.
Perlahan namun pasti Dion menganggukkan kepalanya menyetujui keinginan Bastian. Segera saja Bastian bangun dan memeluk calon menantunya itu.
Kayaknya emang gue gak bisa kabur deh dari perjodohan ini. Tuh cewek aneh yang kabur aja malah mupeng dirumahnya Ardan yang notabenenya sahabatku sendiri. Apa ini beneran jodoh ya? Kayak orang bilang sejauh apapun kamu berlari jika memang jodohmu maka akan kembali lagi padamu. Tapi masa iya bini gue bar-bar.
__ADS_1