Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
Season 2. Kejutan.


__ADS_3

Kini telah sampailah mereka di Indonesia. Rendy menatap wajah Elena yang begitu teduh. Entah mengapa perasaan yang familiar itu muncul begitu kuat. Padahal dia dan Elena baru mengenal selama satu bulan. Namun, Elena memberikan perasaan yang hangat. Perasaan yang selama bebeeapa waktu ini begitu mengusik hatinya. Terlebih saat Kei menentang untuk menampung Elena. Dirinya begitu kekeh untuk menueret Elena tetap di sampingnya. Yang jelas, hatinya tak ingin Elena pergi dari hidupnya.


Rendy bangkit sembari membopong tubuh Elena yang tengah tertidur. Aneh sekali, padahal dia dulunya adalah sosok yang paling benci wanita. Nyatanya, dirinya bisa luluh juga terhadap wanita.


"Hei Rendy! Apa yang kau lakukan? Kau menyentuh Elena?" teriak Ardan yang telah menunggunya tepat di terah rumah miliknya.


"Ayah ... Elena tertidur. Biarkan dia beristirahat. Aku yakin dia kelelahan," kata Rendy sembari menerobos tubuh ayahnya.


"Rendy! Apa kau yakin kau belum menyentuhnya sebelum kalian benar-benar menikah? tanya Ardan curiga.


"Ayah ... Kau tidak percaya padaku? Aku yakin jika aku benar-benar melakukannya, Ayah pasti akan membunuhku kemudian menggantung tubuhku di alun-alun kota. Bukankah begitu Ayah?" tanya Rendy dn dijawab anggukan oleh Ardan.


"Kau sangat paham betul aku ya? Sudahlah ... Segera bawa dia ke kamar tamu. Kita makan malam terlebih dahulu. Ada Monica dan Kevin di dalam. Jaga perilakumu," tutur Ardan sembari kembali masuk ke dalam.


Rendy segera melangkah menuju kamar tamu yang ada di rumah itu. Setelah membaringkn Elena dengan hati-hati Rendy segera berjalan menuju ke meja makan.


"Selamat malam aunty Monica dan uncle Kevin," sapa Rendy kepada Monica dan Kevin.

__ADS_1


"Hai Rendy sayang. Bagaimana kabarmu? Kudengar kau bahkan telah bertunangan? Kau anak setan! Mengapa tidak mengabari kami?" tanya Monica dengan hebohnya.


"Maaf Aunty Monica. Ada banyak kerjaan yang harus ku urus. Jadi kami hanya bertunangan seadanya saja." Rendy menarik sebuah kursi di samping Mariani. Wanita paruh baya itu mendekati Rendy dan mencium pucuk kepalanya. "Aku merindukanmu, Bunda."


"Makanlah yang banyak Nak." Marianipun mengambilkan sebuah piring untuk Rendy.


"Bunda, Rendy bisa mengambilnya sendiri. Oh ya mana yang lain? Si kembar itu? Lalu Kin dimana?" tanya Rendy penasaran.


"Mereka ada yang perlu diurus Nak. Kau makanlah dulu. Kau pasti lapar," ucap Ardan mencoba mengakhiri pertanyaan dari Rendy.


"Lalu dimana Jonathan Aunty?" kembali Rendy melemparkan sebuah pertanyaan kepada Monica.


"Oh ya Sayang. Dimana Elena?" tanya Mariani.


Trak.....


Monica menjatuhkan sendok dan garpunya sedangkan Kevin tiba-tiba lelaki itu diam mematung. Membuat Ardan, Mariani dan Rendy menoleh kearah mereka. Terlebih lagi, keadaan mereka seperti sedang syok.

__ADS_1


"Ada apa Uncle dan Aunty?" tanya Rendy.


"Ren-Rendy. Ka-katakan ... Siapa tadi nama tunanganmu?" tanya Monica dengan sedikit terbata.


"Monica tenanglah. Semua akan baik-baik saja oke?" Kevin mencoba menenangkan Monica yang terasa menggebu-gebu.


"Tidak! Itu Elena bukan? Aku dengar sendiri namanya Elena. Bi-bisa saja dia adalah anak kita yang hilang Kevin!" teriak Monica dengan histeris. Bahkan kini Monicapun menangis tersedu.


"Monica tenanglah ...." Kevin mencoba untuk menghibur Monica yang tengah menangis itu.


"Aku bahkan melupakan hal itu, Monica. Dulu, aku bahkan tidak mampu untuk melacak kebaradaan anak pertama kalian. Rasanya jejak anak kalian dulu terasa dihapus dengan sengaja," ucap Ardan dengan sendu.


"Tolong selidiki gadis itu untukku, tuan Ardan. Aku mohon," pinta Monica dengan mengatupkan kedua tangannya. Membuat Mariani dan Ardan menatap miris kearah Monica. Rasanya sangat sulit untuk dijelaskan.


Jejak Elena dihapus dengan sengaja? Apa ini ada kaitannya dengan aku yang tak bisa mencari identitas Elena? Apakah ini juga termasuk perasaan familiar yang aku rasakan? Pantas saja, meskipun aku ingin membuangnya tetapi pada akhirnya hatiku tetap mempertahankannya. Aku harus menyelidiki tentang ini. Rendy membatin keras.


"Aunty Monica dan Uncle Kevin jangan khawatir. Rendy akan mencari identitas Elena dengan cepat dan akurat. Semoga dia adalah Elena kita. Kejadian penculikan di masa silam, aku yakin memiliki maksud lain dibaliknya. Kalian semua percaya padaku bukan?" tanya Rendy dengan mimik wajah yang serius.

__ADS_1


"Tentu! Tentu Rendy. Aku mohon selidiki hingga tuntas. Lakukan demi masa kecil kalian yang pernah bersama...." Monicapun jatuh tak sadarkan diri.


__ADS_2