Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
S3. Bab 365. Elena 2


__ADS_3

"Nyonya Elena, kita mau kemana?" tanya William. Pria itu keheranan saat Elena mengajaknya masuk ke dalam mobil.


Elena mengukir senyuman. "Ikut saja. Jangan protes. Kau ingin membantu Sabrina tidak?"


William menghembuskan napas berat. "Siapa yang tidak ingin membantu istrinya ketika ia sedang dihadapkan oleh situasi yang sulit? Tentu aku ingin, Nyonya Elena."


"Baiklah. Karena kamu bagian dari keluarga Wijaya, kau juga memiliki hak untuk tahu. Seperti apa, peraturan penerus itu. Sabrina penerusku dan Rendy. Kau tidak akan mungkin mengerti, jika tidak melihatnya sendiri," ucap Elena dengan angkuh.


"Apa ini berhubungan dengan dua kunci itu?" tanya William. Ia menatap lekat sosok Elena. Wanita paruh baya yang masih saja cantik jelita.


"Sesuai dugaanmu," sahut Elena.


William tak lagi bertanya. Namun, Elena justru memberikan satu kain hitam untuknya. Dahi William bertaut bingung. "Apa ini?"

__ADS_1


"Pakai." Nada suara Elena terkesan dingin. 


Membuat William tak lagi membantah. Pria itu menuruti kata-kata Elena. Memakai kain hitam itu sebagai penutup mata. Mobil terus melaju. Meski William bingung, tapi ia tak berani menampakkan kekalutan hatinya. Entah berapa lama William dalam posisi kedua mata yang tertutup.


"Buka penutup matamu," titah Elena.


William segera menarik kain hitam penutup kedua matanya. Pria itu melongo saat mobil telah memasuki sebuah halaman yang sangat luas. Mungkin, luasnya seperti lapangan golf. William yakin itu, karena mobil masih melaju semenjak melewati pintu gerbang pertama tadi.


William memilih bungkam. Hingga mobil berhenti tepat di sebuah kastil megah dan bergaya eropa. William meneguk ludahnya sendiri. Saat melihat ada banyak sekali pelayan dan penjaga yang membungkuk hormat, tatkala mereka melihat mobil Elena berhenti. William pun turun dari mobil mengikuti jejak langkah kaki Elena.


William berjalan di belakang Elena dengan perasaan yang tak bisa diungkapkan. Terlebih, mereka memanggil Elena dengan panggilan Queen. Bukankah nama wanita itu adalah Elena? William membatin gelisah.


Kedua mata William membulat saat mendapati lorong-lorong yang sisi kiri dan kanannya terdapat pilar menjulang tinggi. Membuat William tak mampu berkata-kata. Nyalinya sudah menciut di hadapan Elena.

__ADS_1


"Selamat datang, Queen kami. Lama tidak berjumpa, Queen," sapa seorang wanita paruh baya yang masih saja menampakkan kecantikannya di usia muda.


"Hai, Lady. Lama tak berjumpa." Elena memeluk wanita paruh baya yang dipanggil Lady tersebut.


"Kau mengatakan anakmu akan datang untuk kami. Tapi, sampai detik ini kami bahkan tak melihatnya. Siapa penerusmu, Queen?" tanya Lady.


Elena tersenyum. "Perkenalkan, dia suami dari penerusku. Panggil dia Remo, yang berarti kekuatan. Lalu, panggil penerusku dengan sebutan Gayatri. Yang berarti, memiliki tiga kekuatan. Kalian paham 2 kekuatan besar itu, bukan? Sedangkan 1 kekuatan lainnya, adalah kerajaan bisnis yang ada di genggaman tangannya. Aku membawanya kemari, karena mulai sekarang dia adalah tuan kalian. Paham?"


"Paham, Queen!"


"Remo? Aku? Namanya jelek sekali! Tapi, apa ini berarti aku sekarang menjadi pemimpin mereka? Mengapa Nyonya Elena mengatakan jika aku ini tuan mereka?" batin William kalut.


"Tunggu, tolong tunggu, Nyonya Elena. Aku tidak mengerti apa maksud Anda okay? Tuan? Aku? Tuan mereka?" William memaparkan kebingungannya. Sungguh, ia tak mengerti dengan apa yang sedang Elena bicarakan.

__ADS_1


Lagi-lagi, Elema tersenyum. "Benar. Mulai detik ini, kau adalah tuan mereka. Mereka sudah menandaimu."


__ADS_2