
Selang-seling ya. Biar nggak pada tegang mulu😂😂
---
"Ho-Honey?" Sabrina terbata. Keringat dingin sudah membasahi tubuhnya.
"Kau siap olahraga malam ini?" tanya William.
"Hah?" Sabrina tersentak.
William mengangkat satu kaki kanan Sabrina. Pria itu mengusap perlahan paha Sabrina yang polos. Setelahnya, William terus memainkan tangannya mengusap perlahan paha Sabrina. Lalu tangannya beralih pada inti sang istri tercinta. Membuat tubuh Sabrina menegang diiringi sesuatu yang mulai basah.
"Baiklah, kau sepertinya sudah siap, Honey," ucap William.
Belum sempat menyadari kata-kata yang dilontarkan William, tubuh Sabrina justru tersentak lagi. Sesuatu masuk ke dalam inti surga miliknya. Perlahan tapi pasti. Membakar rasa gairah untuk meminta lebih. William menghentikan aksinya. Menunggu reaksi Sabrina. Ia takut, jika Sabrina sedikit kesakitan. Mendapati Sabrina tak mengeluh, William memulai aksinya. Memompa pelan tubuh yang ada di bawahnya.
__ADS_1
Sabrina mulai menikmati permainan sang suami. Sesekali ia memejamkan kedua mata menikmati setiap sengatan gairah yang semakin mendominasi. ******* kian mengalun merdu mengiringi perjalanan waktu percintaan atas penyatuan dua tubuh. Hingga sesuatu yang mennyenangkan dan ditunggu oleh Sabrina datang.
"Ho-Honey, a-aku sudah hampir sampai," ritnih Sabrina.
Mendengarnya, William mempercepat gerakan. Meja kayu itu bahkan ikut bergoyang. Seirama kuatnya goyangan keduanya. Sabrina melengkungkan tubuhnya ke belakang. Saat sesuatu yang menyeruak itu datang. Banjir yang dinantikannya telah datang. Membuat tubuh itu bergetar hebat.
"Honey? Are you oke?" tanya William.
"Hmm." Sabrina menjawab sekenanya saja. Ia masih merasai sisa-sisa permainan baru tersebut.
"Ini memiliki sensai sendiri bukan, Honey? Kau menyukai seperti ini tidak?" William kembali bersuara. Tapi lagi-lagi mengarah ke hal yang mesum.
"Honey, lagi yuk?" Lagi, William mulai dengan kenakalannya.
Â
__ADS_1
"Hah?" Sabrina masih membersihkan sisa-sisa cinta di inti miliknya. Justru dikejutkan dengan pernyataan William. Ia pun menatap bingung ke arah William.
Tetapi lagi-lagi William menarik tubuh Sabrina dan melemparkannya di atas ranjang. Di sana, William kembali bermain dengan Sabrina. Seolah tak merasakan lelah atas percintaan sebelumnya. Malam yang kian larut tak menyurutkan keinginan William untuk bermain satu putaran lagi.
Hingga tubuh keduanya berbaring di ranjang dengan napas yang menderu. Entah sudah berapa lama mereka bercinta. Setelah permainan selesai, William mendaratkan ciumannya di kening Sabrina.
"Istirahatlah. Ini sudah malam," kata William sembari menarik selimut untuk menutupi tubuh Sabrina yang polos.
"Sudah tahu larut malam, kenapa meminta lagi?" ketus Sabrina.
William tersenyum. "Ingatlah. Aku sudah berpuasa lama sekali. Jangan perhitungan dengan suami sendiri. Kan dapat pahala, melayani suami begini. Dosa lo menolak."
Sabrina tak menjawab. Ia memilih memejamkan kedua matanya yang mulai terasa berat. William yang menyadari Sabrina mulai terserang kantuk, mengulas senyuman tipis.
"Tidurlah. Dari pada pikiranmu terus terganggu. Aku tidak suka melihatmu harus melamun akhir-akhir ini. Aku yakin sekali ada banyak hal yang tengah mengganggumu belakangan ini. Istirahatlah," batin William.
__ADS_1
Keesokan harinya, sinar mentari mulai menampakkan diri. Sinarnya mulai menerobos masuk ke dalam kamar melalui celah-celah jendela. Seseorang di atas ranjang mulai terusik. Ia pun mengeliat pelan sembari merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Sesekali ia juga menguap menandakan kantuk masih menyerang. Setelah mengedarkan pandangan ke setiap sudut kamar, kedua mata itu berhenti saat pandangan mengangkap satu tubuh yang terbaring di sampingnya.
"Astaga! Kenapa tadi malam dia begitu?" rutuk Sabrina sembari menutup wajahnya dengan kedua tangan. Rasa malu kian nyata mengingat percintaan yang panas.