Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 181


__ADS_3

Jeritan-jeritan hati para jomblo dari ruang keluarga saling bersahut-sahutan. Karena tanpa merasa jengah atau terganggu Ardan secara terang-terangan memamerkan kemesraannya bersama istrinya.


Hari ini Mariani begitu manja. Entah apa yang membuatnya begitu menyebalkan. Namun tetap saja, meskipun merasa kesal akan sikap merengek istrinya hari ini Ardan masih bisa menahannya. Kini dia dengan telaten menyiapkan bumbu nasi goreng ulekan request dari sang istri. Menurut Ani, nasi goreng akan lebih lezat dengan bumbu hasil ulekan sendiri. Ketimbang harus membeli bumbu jadi, yang belum tentu higienis.


Entah apa yang terjadi tiba-tiba mata Ardan berair. Sekuat tenaga Ardan sudah menahan air mata agar tak keluar lagi. Namun sialnya, air matanya justru mengalir tanpa bisa dibendung lagi.


"Sayang!"


"Ya mas. Sudah jadi ya? Wih cepet amat mas," berjalan mendekat kearah suaminya. Namun matanya menangkap suatu pemandangan yang membuatnya menautkan kedua alisnya. Mata milik suaminya yang memerah. "Ada apa mas? Kenapa begini? Ceritakan mas. Jangan dipendam begini."


"Sayang! Aku bukannya lagi nangis tau."


"Terus kenapa mas? Yang jelas dong," Ani mulai kehilangan kesabarannya. Emang bener  ya emosi orang yang lagi hamil emang beda. Lebih baik ngumpet dulu. Jangan sampai kena ayunan clurit. 🤣🤣🤣


"Duh sayangku. Mataku pedes banget. Apa mungkin kamu nggak kasihan sama suamimu ini?"


"Sudahlah mas. Emang pedes kenapa sih? Apa mas Ardan masukin cabe ke mata?"


Oh shit! Kalau bukan istriku habis kamu!


"Bukan sayang. Tadi aku ngulek!" nada suara mulai terdengar meninggi. Sekali lagi Ardan mengucek matanya secara perlahan.


"Ya iyalah ngulek mas! Biar rasanya enak. Tapi kok bisa pas ngulek terus mata mas Ardan jadi pedes?"

__ADS_1


Oh my God. Mati aja deh lu Ardan! Kenapa dari tadi muter-muter gitu ngomongnya.


"Nggak tau sayang. Sudah mendingan nih. Kamu duduk gih,l aku mulai masak nasi gorengnya ya," Ardan memapah tubuh istrinya dan segera mendudukkan bokongnya dikursi meja makan.


"Oke mas."


Kini Ardan melenggang menjauh dari istrinya. Mulai berkutat kembali dengan menu nasi goreng seafood keinginan istrinya. Tangannya mulai terampil dalam memasak.


"Hem...baunya harum. Pasti enak nih, jadi gak sabar," Ani tersenyum lebar. Membayangkan seporsi nasi goreng seafood buatan suaminya.Ā 


Beberapa saat telah berlalu. Dentingan pertempuran antara Ardan melawan peralatan memasak kini telah berakhir. Sesaat Ardan mengambil sebuah piring. Kemudian Ardan menatap kembali mahakaryanya yang pertama itu sebelum memindahkannya kepiring. Entah apa yang terjadi laki-laki itu terlihat mengernyitkan dahinya.


"Kok warnanya jadi begini? Apa aku kurang masukin bahan-bahannya ya? Perasaan aku sudah masukin semua bumbunya. Lalu kenapa warnanya pucet begini?"


Disisi lain, Ani merasa bosan dengan perut yang sudah berbunyi. Tanpa berfikir lagi dia berjalan kearah dapur untuk melihat apakah sudah selesai atau belum. Karena ini dirasanya sudah cukup lama hanya untuk sepiring menu nasi goreng seafood miliknya.


Sesampainya di dapur dia mengamati gerak-gerik suaminya. Laki-laki itu mengeluarkan semua bumbu-bumbu dapur yang ada di lemari es. Ani menautkan kedua alisnya karena keheranan. Namun rasa penasarannya tentang kelakuan Ardan ia urungkan, setelah kedua manik matanya menangkap pemandangan yang begitu menggiurkan. Apalagi jika bukan nasi goreng yang berada di atas penggorengan.


Tanpa permisi atau bersuara, Ani mengambil sebuah piring dan mulai memindahkan nasi goreng kedalam piringnya. Terlihat banyak taburan udang yang sudah dikupas dengan campuran telur asin yang langsung digoreng bersama nasi dan udang. Mungkin jika orang waras akan memisahkan telur asin itu ketika digoreng agar tak amis (telur asin yang sudah matang Diublek dalam bahasa Jawa). Tapi yah dilihat sekali lagi bahwa ini adalah orang hamil.


Tanpa Ardan sadari Ani pun berlalu menujuĀ  meja makan. Dengan segera Ani menyendokkan satu suapan besar kedalam mulutnya.


"Wah enak juga. Kalau begitu sering-sering deh minta mas Ardan masakin nasi goreng ini," suapan demi suapan masuk ke dalam mulutnya. Hingga tak menyadari nasi goreng itu sudah habis.

__ADS_1


"Ah kenyangnya. Mas Ardan apa masih sibuk ya? Aku malas mau jalan ke dapur lagi. Sudahlah, nanti pasti dia akan menyusul ku. Ini sudah jam 8 malam kok. Minum susu dulu habis itu aku mau keatas dan tidur," setelah menghabiskan susu untuk ibu hamil itu Ani segera bangkit dan pergi meninggalkan meja makan.


Lalu dimana Ardan? Rasanya dia sudah mengeluarkan semua bumbu dapur yang ada. Tapi nyatanya tak ada bumbu yang dia sinyalir bisa mempercantik tampilan nasi gorengnya.


"Udah aku keluarin semua loh ini. Bumbu apa sih yang bikin nasi gorengnya lezat. Kenapa nasi goreng yang aku buat tampilannya begitu. Rasanya bukan seperti nasi goreng. Eh tunggu, bukannya emang tadi aku campur sama telur asin kan? Ya ampun! Jelas aja tampilannya begitu. Cih! Lebih baik aku segera mengambilkan nasi goreng itu. Mungkin saja dia sudah lapar," bergerak mendekati kompor yang masih ada penggorengan berisi nasi goreng. Matanya seketika membulat begitu mendapati penggorengan itu telah kosong.


Kembali mencari nasi goreng seafood itu. Mengabaikan dapur yang sudah seperti kapal pecah. Para pelayan rumah tangga sudah beristirahat di jam 7 malam. Hanya beberapa yang bertugas saat malam hari. Sesuai perintah dari nyonya dirumah ini, Mariani.


Ardan mengusap wajahnya frustasi. Hanya sepiring nasi goreng saja hampir membuatnya gila. Samar-samar dia mendengar suara gelak tawa diruang keluarga. Pikirannya mulai menerka-nerka.


Apa mungkin mereka yang mengambil nasi gorengku ya?


Tanpa ba bi bu lagi Ardan berjalan dengan cepat menuju ruang keluarga. Terlihat empat orang pengangguran itu tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan tayangan yang berjudul "Juragan Ayam Potong Dzolim Mati Tertimpa Kandang dan Dipenuhi Bulu".


Ardan segera mematikan tv diruang keluarga itu. Matanya mengamati satu persatu dari keempat orang yang bisa saja menjadi pencuri nasi goreng miliknya. Kini gelak tawa yang tadinya nyaring berganti dengan senyap. Karena mereka tau siapa yang tengah mematikan tv itu. Semuanya terdiam saat mendapati sorot mata Ardan yang tajam. Mungkin saja ada hal penting yang tak bisa ditunda lagi jika dilihat dari raut wajah Ardan yang serius dan tajam. Jesslyn, Lita, Jack dan Kaisar mengunci mulutnya rapat-rapat dan memasang telinga dengan baik untuk mendengarkan perintah dari ketua mereka. Lebih baik mendengarkan dengan seksama daripada kena auman singa.


"Katakan!"


Suara meninggi dan terjeda itu membuat udara di sekitar empat orang itu seakan menipis.


"Siapa yang mengambil nasi goreng milikku didapur?!"


Seketika keempat orang itu terkesiap.

__ADS_1


__ADS_2