
"Bukan bermaksud begitu. Aku rasa, para polisi itu ingin menghentikan penyelidikan," ucap Sabrina. Ia memasang wajah kecewa.
"Apa yang kamu katakan benar, Sabrina. Mereka tiba-tiba menghentikan penyelidikan itu. Kasus ini ditutup," timpal Aretha.
"Aku sudah menduganya. Maaf ya, Aretha. Aku sudah mencari kebenarannya. Tapi tetap saja mereka tidak percaya padaku. Mungkin karena aku hanya anak ingusan." Sabrina mencebikkan bibirnya.
"Tidak percaya bagaimana, Sabrina?" tanya Aretha.
"Aku sudah menemui para tim investigasi. Aku sudah mengatakan ini bukan masalah bunuh diri saja. Hasilnya nihil. Mereka tidak percaya. Malah mengataiku anak ingusan," jawab Sabrina.
"Kau terjebak, Aretha. Kau terpancing kata-kataku. Ke toilet mungkin beberapa menit. Tapi di saat kejadian, semua orang panik. Mereka cenderung memikirkan apa yang ada di depan matanya. Sebaiknya aku memanggilmu siapa ya? Aretha, atau pembunuh bayaran itu sendiri?" batin Sabrina. Ia menyeringai. Satu petunjuk telah di depan matanya dan itu sangat jelas. Dari tutur kata Aretha di hari pertama berkenalan, dan tutur katanya saat ini. Sangat berbeda jauh.
__ADS_1
****
Artur dan Sabrina kini telah menjejakkan kaki ke Xander Grup yang baru. Sabrina kembali menatap gedung menjulang tinggi tersebut. Suatu saat, ini akan menjadi masa depan untuk keluarga kecilnya. Tanpa sadar, sudut bibir Sabrina tertarik membentuk lingkaran.
"Kenapa kau senyum-senyum begitu?" tanya Artur. Suara pria itu membuyarkan lamunan Sabrina.
"Plang nama Xander Grup sudah terpasang, Artur. Ini berarti sudah resmi milik Uncle William," jawab Sabriba.
Sabrina menoleh. "Milik bersama. Karena perusahaan ini didapatkan setelah pernikahan."
Artur menggelengkan kepala pelan. "Tapi uangmu kau dapatkan sebelum menikah dengan ayahku. Mana mungkin ayah memiliki uang sebanyak ini," sanggah Artur.
__ADS_1
"Maaf, Artur. Aku sekarang istri ayahmu. Itu berarti ayahmu adalah pakaianku sekarang. Aku dan dia memiliki hak yang sama akan harta bersama kami setelah menikah. Jadi, aku harap ke depannya jangan berkata begitu lagi," ucap Sabrina. Ia kemudian melangkahkan kaki berlalu dari area parkir. Meninggalkan Artur dalam raut kebingungan.
"Aku tidak mengerti dirimu, Sabrina. Kau sangat menjunjung tinggi ayahku. Bahkan, kau tidak ingin aku mengatakan ketidakpantasan ayahku sebagai suamimu. Padahal sudah jelas, kekayaan ayahku tidak akan cukup untuk membeli dua perusahaan besar dalam waktu bersamaan," batin Artur.
Setelah menghembuskan napas, Artur berjalan mengekor di belakang Sabrina. Kata-kata Sabrina mencubit hati nurani Artur. Betapa jabatan sebagai seorang suami, dipandang begitu tinggi oleh Sabrina. Jelas-jelas, Sabrina memiliki segalanya. Tapi, ia sama sekali tak mengungkit apa yang telah ia berikan kepada sang suami tercinta. Selama di perjalanan menuju ruangan presdir, Artur merenung. Tentang perbuatannya yang dulu sempat menentang Sabrina.
"Dulu, aku takut Sabrina akan membuat ayahku lupa akan mendiang ibundaku. Tapi, justru Sabrina sendiri yang mempertahankan mati-matian perusahaan berharga tersebut. Sekalipun mengalami teror, Sabrina tetap mempertahankan perusahaan itu meskipun saat ini berhenti beroperasi sementara. Bunda, apakah kau bisa melihat istri baru ayah saat ini? Ia bahkan tak mengusik milikmu. Apakah aku harus mengakuinya pada dunia jika ia adalah mama baruku?" Kata Artur dalam hati.
"Apa-apaan ini?" seru Sabrina.
Artur menghentikan langkah kaki. Ia mematung di tempatnya dan menyipitkan kedua mata. Suara Sabrina yang terdengar lantang membuat Artur heran. Kemudian ia berjalan cepat menuju Sabrina yang berdiri tepat di ambang pintu. Kedua mata Artur seketika melebar, tatkala mendapati sang ayah tercinta tengah memeluk wanita yang kemarin ia diketahui sebagai sekretaris William.
__ADS_1
"Ayah? Apa yang Ayah lakukan?" jerit Artur.