Mutiara Kasih Sayang

Mutiara Kasih Sayang
BAB 70


__ADS_3

"Mas...."


"Ya sayang? Ada apa?"


"E....enggak.."


Kemudian mereka fokus pada obyek di atas panggung. Terdengar suara riuh penonton. Mereka kaget dengan apa yang terjadi. Acara yang seharusnya berjalan khidmat dan bahagia itu kini hancur lebur seiring rasa sakit dihati dua sejoli itu. Tidak. Maksudku sakit di hati intan. Karna Dion sendiri hanya pemain disini. Keluarga Marzuki kini berwajah merah padam antara malu dan menahan amarah.


"Tu....tuan Dion?"


"Hem..... Berani kau menyebut namaku? Dasar sampah !!" Dion mengucapkannya dengan nada tinggi. Seolah menyiratkan bahwa dialah korban disini.


Intan mencoba menahan air mata yang kini mulai menuruni pipinya. Tak bisa lagi dibendung. Belum sempat dia membanggakan diri sebagai calon menantu keluarga Leonardo. Namun hal yang tak disangka adalah ternyata Dion mengundang keluarga Saputra.


Hancur sudah.


"Jawab!! Kenapa kau melakukan ini?" Tanya Dion matanya menunjukkan kilatan api amarah. Tubuh intan bergetar hebat. Melirik ke arah papanya yang berada diseberang. Tapi pandangan mata Marzuki seakan acuh. Tak terima.


Mau bagaimanapun ini salahnya. Kenapa dia dari awal tak memutuskan terlebih dahulu hubungannya dengan Johan. Mungkin akhirnya tak akan seperti ini. Pikirnya. Namun tetap saja nasi telah menjadi bubur . Semua telah terlanjur terjadi.


"Bukan begitu." Akhirnya membuka suara walaupun tubuhnya bergetar hebat. "Sebenarnya aku sudah tak memiliki hubungan apapun dengannya. Aku... Aku sudah memutuskan hubungan ini karena dia masih memikirkan mantan istrinya. Padahal akulah tunangannya. Tapi dia tak terima. Dia terus beranggapan bahwa aku hanya marah padanya. Padahal hubungan pertunangan itu sudah kuputuskan."


"Oh ya? Apa kamu gak tahu kalau mantan istri tuan Johan sudah menikah dan hidup bahagia?" Ardan menggenggam tangan Ani erat. Mata istrinya terbelalak kaget. Saat mendengar ucapan Ardan.

__ADS_1


Seketika itu juga intan yang mendengar Ardan berbicara menohok tepat dihatinya menoleh. Dia tersentak kaget mendapati bahwa disamping pria itu adalah sosok yang dibencinya. Ani.


Gawat kalau Ani ikut bicara. Intan menundukkan kepalanya.


"Katakan."


Intan yang menundukkan kepalanya. Kini mengangkat wajahnya.


"A...a....apa?"


"Katakan ja**ang !! Bagaimana aku seharusnya?! Kau mempermalukanku !! Mau ditaruh dimana wajahku ?! Kupikir kau berbeda dari wanita kebanyakan makanya aku memintamu untuk bertunangan denganku. Tapi apa balasanku? Batalkan ini semua !! Pergi dari sini juga!! Enyahlah kau ja***Ng !! Begitu pula dengan kalian semua !!"


Seketika semua orang yang berada di rumah mewah yang kini telah disulap bak gedung perhelatan itu bubar. Meninggalkan sejuta memori yang memalukan untuk dikenang.


Sungguh memilukan.


----


Ani menatap kosong keluar jendela. Benar-benar memilukan pemandangan ditempat yang semegah itu. Berbanding terbalik dengan suasana disana.


Aku masih bingung bagaimana mereka saling mengenal. Aku tahu bagaimana liciknya intan. Tapi ini.... Apa ini gak terlalu berlebihan? Lalu Johan? Apa hubungan mereka sudah selesai? Kenapa bisa intan bertunangan dengan pria lain.


Pikiran Ani menerawang jauh. Sungguh memilukan nasib intan. Dipermalukan didepan banyak orang.

__ADS_1


Semoga ini bisa menjadi pembelajaran untuknya.


Ani merasakan sebuah tangan menggenggannya. Ditatapnya wajah pria yang kini menyandang gelar suaminya. Kemudian seulas senyum terukir indah di bibirnya.


"Kenapa? Ada yang kamu pikirin?"tanya Ardan.


"Eh....enggak kok mas."


"Kalau ada yang pengen kamu tanyakan. Boleh kok tanya sama mas."


"Emmm..." Ragu. Namun sejurus kemudian dia...." Apa mas tahu kapan mereka dekat?"


Ardan menautkan Kedua alisnya. Pertanyaan macam apa lagi ini.


"Maksudku kapan mas Dion dan intan dekat? kok tiba-tiba mereka bertunangan."


"Ya ampun sayang. ya mana kutahu. Aku kan sibuk kerja mana ada waktu buat ngurus mereka sayang."


"Kan mas Dion sahabat mas Ardan. Mana mungkin sih mas Dion gak cerita sama mas Ardan?"


"Sayang. Aku memang sahabat Dion. Tapi Dion dan Kevin itu berbeda. Dion lebih cenderung memiliki sifat tertutup. Jadi gak gampang nebak apa yang akan dia lakuin. Berbeda dengan Kevin. Dia masih terbuka. Memiliki sifat menyenangkan. Jadi terkadang mas bisa santai dengan masalah Kevin. Setidaknya mas bisa ngasih tahu apa yang seharusnya dia lakuin. Memberikan saran kepadanya."


Hah rumit sekali sih mas Dion ini.

__ADS_1


__ADS_2