
Elena mengangguk. Rendypun segera menyambar handuk dan setelahnya membopong tubuh Elena yang masih t*lanjang bulat. Tanpa melepaskan ciuman bergairahnya, Rendy terus berjalan menuju ranjang pengantin yang telah ditabur bunga mawar. Rendypun dengan perlahan membaringkan tubuh Elena diatas Ranjang.
Kini Rendy dengan bebas meraup p*ting gunung kembar milik Elena. Menyesapnya dalam atau terkadang memberikan gigitan-gigitan kecil karena gemas. Satu tangan Rendy masih betah bermain dengan satu gunung indah milik Elena. Lagi-lagi Elena menggelinjang penuh gairah. Sesekali Rendy mencium dan meninggalkan bekas kissmark dimanapun tempat yang Rendy temui.
"Aaaahhhh, Sayang." Desahan Elena membuat Rendy semakin menggila. Lelaki itu melepaskan bibirnya dari gunung kembar milik Elena. Kemudian merosot dibawah pangkal paha Elena. Tanpa Elena sadari, Rendy segera memangsa inti milik Elena. Seketika gadis itu tersentak kaget.
"Sayang, apa yang kau lakukan?" tanya Elena dengan sesekali memejamkan matanya menikmati kegiatan lidah milik Rendy.
"Nikmati saja. Kau hanya perlu menikmati permainanku, Sayang. Jangan menolakku," ancam Rendy. Hal itu tentu saja membuat Elena kembali keposisi semula.
__ADS_1
"Aaahhhh," desah Elena semakin gila. Wanita itu meremas sprei putih dengan kuat.
Plok plok plok plok. Sesekali Rendy memasukkan kembali satu jari miliknya. Mengoc*k inti milik Elena. Membuat Elena semakin frustasi dan kemudian mengerang panjang.
"Aaaaaaaaahhhhhhhhhh." Cr*t cairan puncak gairah milik Elena kembali membanjir. Wanita itu kemudian mengatur nafasnya yang tersengal. Sedangkan Rendy, tersenyum penuh kepuasan. Rendy merasa bisa memuaskan wanitanya. Elena kemudian menyipitkan matanya. Menatap Rendy yang masih menatap dirinya dengan seulas senyum yang masih setia menempel di bibirnya. Tanpa sengaja kedua matanya menangkap pemandangan milik Rendy yang sudah tegak berdiri dengan kokohnya. Elena tersenyum.
Kini wanita itu mengambil tisu dan membersihkan inti miliknya. Setelahnya meraih tangan Rendy dan mendorong tubuh lelaki itu hingga telentang di ranjang. Elena beringsut. Tanpa rasa malu lagi Elena meraih milik Rendy yang kokoh itu. Kemudian memainkannya dengan tangannya. Tentu saja apa yang dilakukan oleh Elena membuat kedua matanya terpejam. Sesekali Rendy mendesah nikmat.
Tanpa menjawab Elena hanya tersenyum. Setelah sekian lamanya tangan Elena bermain, Rendypun mengerang panjang pada akhirnya tubuhnya menggelinj*ng dan melepaskan cairan kenikmatan miliknya yang pertama.
__ADS_1
"Hah hah hah, Elena tak kusangka kau sekarang mau memegangnya."
"Tentu saja, gagang pacul ini nantinya juga akan macul dan bercocok tanam ditanahku bukan? Aku akan selalu memuaskanmu, Rendy."
Keduanya pun berbaring masih tanpa benang apapun yang menutupi tubuh keduanya. Setelah beristirahat beberapa menit, Rendy kembali meraup bibir ranum Elena. Ciuman itu perlahan berganti bergairah dan sling menuntut kepuasan. Deru nafas kian memburu diantara keduanya. Malam yang kian merangkak naik tak meyurutkan niat keduanya untuk bercocok tanam sampai panen. Tanpa pemanasan, Rendy segera mengarahkan gagang pacul miliknya keinti Elena. Hingga kini gagang pacul milik Rendy telah masuk sempurna ke inti Elena. Segera Rendy memaju mundurkan miliknya. Sesekali keduanya berciuman. Rendy terus memompa tubuh Elena. Dari ritme pelan kini lelaki itu semakin mempercepat gerakannya.
"Aaahhhh Sayang! Lebih cepat, aku mau keluar," seru Elena yang sudah diambang kenikmatan.
"Sebentar lagi, kita keluarkan bersama!" Sepuluh menit kemudian terdengar lolongan panjang dari mulut keduanya.
__ADS_1
"Aaaaaaaaahhhhh." Cr*t. Rendy segera menjatuhkan tubuhnya disamping tubuh Elena. Keringatpun nampak membanjir ditubuh keduanya. Begitu pula dengan nafas keduanya yang masih memburu.
"Terima kasih Sayang. Malam ini adalah malam yang indah," kata Rendy sembari memberikan kecupan di kening Elena.